Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun di Peru mengaku menjadi korban dugaan kekerasan seksual yang dilakukan sejumlah teman sekolahnya di dalam bus. Peristiwa tersebut terjadi saat rombongan tim sepak bola sekolah dalam perjalanan pulang dari sebuah turnamen pada 15 September 2026. Kasus ini kini tengah diselidiki oleh Kantor Kejaksaan Peru. Liputan6.com
Pihak berwenang awalnya mengamankan 10 remaja yang diduga terkait dengan kasus tersebut. Pengadilan di Lima kemudian memerintahkan enam remaja untuk ditahan di lembaga khusus anak selama empat bulan sambil menunggu proses hukum. Angkatan Laut Peru juga menonaktifkan sementara sejumlah pegawai dan pengelola sekolah selama penyelidikan berlangsung. Liputan6.com
Kasus tersebut memicu perhatian luas karena muncul di tengah meningkatnya laporan kekerasan seksual antarpelajar di Peru. Data Kementerian Pendidikan Peru menunjukkan terdapat 1.198 laporan kekerasan seksual antarpelajar dalam delapan bulan pertama 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Liputan6.com
Sejumlah ahli menilai kasus ini menunjukkan perlunya upaya lebih serius untuk mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan. Selain penguatan perlindungan terhadap siswa, mereka menyoroti pentingnya pendidikan mengenai hubungan yang sehat, empati, dan pencegahan kekerasan sejak usia sekolah.













