SEMARANG – SD Negeri Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, hanya menerima tiga siswa baru pada Tahun Ajaran 2026/2027. Meski jumlah peserta didik baru sangat sedikit, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan penuh semangat dan suasana meriah.
Pada hari pertama masuk sekolah, ketiga siswa baru disambut hangat oleh para guru dan warga sekolah. Bahkan, sekolah menghadirkan maskot Si Badut untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sekaligus membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Kepala SDN Purwoyoso 01, Hajar Riatiani, menjelaskan bahwa awalnya terdapat lima calon siswa yang mendaftar melalui sistem penerimaan peserta didik. Namun, dua di antaranya memutuskan tidak melakukan daftar ulang sehingga hanya tiga siswa yang resmi menjadi peserta didik baru.
Menurut Hajar, kondisi tersebut bukan pertama kali terjadi. Pada tahun ajaran sebelumnya, sekolah juga mengalami minimnya jumlah peserta didik baru dengan hanya menerima 11 siswa. Di tengah tahun ajaran, jumlah tersebut bertambah menjadi 12 orang.
Meski demikian, pihak sekolah tetap berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Seluruh rangkaian MPLS tetap dilaksanakan secara maksimal agar siswa baru merasa nyaman dan bersemangat memulai kegiatan belajar.
“Kami tetap semangat memberikan penyambutan terbaik. Jumlah siswa bukan alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan pendidikan,” ujarnya.
Faktor Demografi Jadi Penyebab
Hajar menilai minimnya jumlah pendaftar bukan disebabkan oleh kualitas sekolah maupun fasilitas yang dimiliki. SDN Purwoyoso 01 telah memiliki berbagai sarana pendukung, seperti ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, hingga musala.
Menurutnya, penyebab utama adalah perubahan kondisi demografi di lingkungan sekitar sekolah. Kawasan yang sebelumnya banyak dihuni keluarga muda kini didominasi warga lanjut usia sehingga jumlah anak usia sekolah dasar terus menurun.
Selain itu, banyak keluarga muda memilih tinggal di kawasan perbatasan Kota Semarang, seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang menawarkan perumahan subsidi dengan harga lebih terjangkau.
Di sisi lain, sekolah-sekolah dasar di sekitar SDN Purwoyoso 01 juga mengalami penurunan jumlah peserta didik sehingga tidak terjadi perpindahan calon siswa dari sekolah lain.
Pemkot Semarang Soroti Persaingan dengan SD Swasta
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut hasil survei Dinas Pendidikan menunjukkan bahwa sebagian orang tua kini lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah dasar swasta.
Menurutnya, salah satu pertimbangan masyarakat adalah fasilitas yang dinilai lebih modern dan lengkap dibandingkan sejumlah sekolah dasar negeri.
Karena itu, Dinas Pendidikan mengusulkan peningkatan sarana dan prasarana di sekolah negeri, mulai dari pembaruan fasilitas belajar, penguatan akses internet, hingga peningkatan kualitas lingkungan sekolah agar semakin menarik bagi masyarakat.
Meski demikian, Agustina menegaskan bahwa penurunan jumlah siswa tidak sepenuhnya disebabkan oleh berkurangnya anak usia sekolah di Kota Semarang. Ia menyebut pertumbuhan penduduk di Kota Semarang masih tergolong positif, meskipun beberapa wilayah memang mengalami perubahan komposisi penduduk.
Menurutnya, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh semakin banyaknya pilihan sekolah yang tersedia bagi masyarakat, termasuk bertambahnya jumlah sekolah swasta.
Pemerintah Kota Semarang berharap peningkatan kualitas fasilitas dan layanan pendidikan di sekolah negeri dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat serta menarik lebih banyak peserta didik pada tahun ajaran berikutnya.










