Jakarta – Perjalanan hidup Subhash Chandra menjadi salah satu kisah perjalanan pengusaha yang berawal dari kondisi ekonomi sulit hingga membangun bisnis besar di India. Pria kelahiran Adampur Mandi, Haryana, India, itu dikenal sebagai pendiri Essel Group dan salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan industri televisi swasta di India.
Chandra berasal dari keluarga pedagang komoditas pertanian. Namun, kondisi keluarganya berubah pada 1967 ketika bisnis keluarga mengalami kebangkrutan dan meninggalkan utang lebih dari 600 ribu rupee.
Saat itu, Chandra berusia 17 tahun dan memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur. Karena kondisi keuangan keluarga, ia terpaksa berhenti sekolah dan memilih membantu keluarganya menghadapi persoalan utang.
Memulai Bisnis dari Beras dan Plastik
Sebagai anak sulung, Chandra kemudian mencari peluang usaha untuk membantu melunasi utang keluarga. Salah satu langkah awalnya adalah bekerja sama dengan Food Corporation of India (FCI) dalam pengolahan dan pembersihan pasokan beras serta biji-bijian.
Peluang besar muncul ketika India mengalami panen raya sehingga FCI menghadapi keterbatasan tempat penyimpanan. Chandra menawarkan konsep penyimpanan beras di area terbuka dengan menggunakan tenda dari lembaran plastik laminasi.
Untuk menjalankan gagasan tersebut, ia membeli mesin dari Swiss dan melatih teknisi untuk memproduksi lembaran plastik berkualitas. Bisnis tersebut kemudian berkembang dan membantu keluarganya melunasi utang sekaligus menyediakan modal untuk ekspansi ke sektor lain.
Merambah Industri Hiburan
Chandra kemudian memperluas bisnisnya melalui berbagai sektor. Salah satunya adalah manufaktur kemasan plastik melalui Essel Packaging. Ia juga membangun EsselWorld pada 1989 yang disebut sebagai salah satu taman hiburan modern pertama di India.
Langkah berikutnya membawa Chandra masuk ke industri penyiaran. Pada 1992, ia mendirikan Zee TV, yang menjadi salah satu pelopor televisi satelit swasta di India. Saat itu, sektor penyiaran India masih didominasi oleh saluran milik pemerintah, Doordarshan.
Karena regulasi domestik ketika itu belum memungkinkan stasiun televisi swasta beroperasi langsung dari India, Zee TV menggunakan transponder dari AsiaSat yang berbasis di Hong Kong untuk menyiarkan program kepada pemirsa India.
Zee TV kemudian berkembang menjadi bagian penting dari kerajaan bisnis media yang dibangun Chandra. Perjalanan tersebut membuat namanya dikenal luas dalam industri penyiaran India.
Pernah Menolak Tawaran Rupert Murdoch
Dalam perjalanan bisnis Zee TV, Chandra juga pernah menghadapi tawaran dari raksasa media global yang terkait dengan Rupert Murdoch. Liputan6 menyebut Chandra menolak tawaran tersebut dan memilih mempertahankan kendali atas bisnisnya.
Perkembangan bisnisnya kemudian membuat Subhash Chandra pernah masuk jajaran pengusaha terkaya di India. Liputan6 mencantumkan estimasi kekayaannya mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100 triliun berdasarkan asumsi kurs yang digunakan dalam artikel tersebut. Angka kekayaan bersih dapat berubah mengikuti kondisi aset dan metode penilaian.
Perjalanan Bisnis Juga Menghadapi Persoalan Utang
Di balik kesuksesan tersebut, Subhash Chandra dalam beberapa tahun terakhir juga menghadapi persoalan utang dan proses kepailitan pribadi. Pada Agustus 2026, NCLT menyetujui rencana pembayaran sekitar 6,25 crore rupee terhadap klaim yang diakui sekitar 22.006,57 crore rupee. Namun, keputusan tersebut kemudian ditangguhkan oleh majelis khusus NCLT pada September 2026.
Chandra membantah sejumlah penggambaran mengenai besarnya utang pribadi tersebut. Dalam wawancara dengan Economic Times, ia mengatakan angka sekitar 22.000 crore rupee mencakup kewajiban berdasarkan jaminan pribadi dan bukan berarti seluruh jumlah tersebut merupakan pinjaman yang diambilnya secara pribadi.
Perjalanan Subhash Chandra menunjukkan perubahan besar dalam kehidupannya, dari remaja yang berhenti sekolah akibat krisis keuangan keluarga hingga menjadi tokoh penting dalam industri media India. Namun, perkembangan terbaru mengenai proses kepailitan dan kewajiban keuangannya menunjukkan bahwa perjalanan bisnisnya juga menghadapi tantangan besar.








