Tangis Muhammad Ikhsan Hambawi pecah saat berpamitan dengan teman-temannya di ruang kelas sederhana di SMPN 1 Tanjungsari. Bocah berusia 14 tahun itu mencoba tegar meski harus menghadapi kenyataan pahit yang membuatnya hampir meninggalkan bangku sekolah.
Video perpisahan Ikhsan kemudian viral di media sosial. Dalam unggahan yang dibagikan temannya di TikTok, disebutkan bahwa Ikhsan terpaksa berhenti sekolah demi membantu ayahnya berjualan ayam goreng di Alun-alun Tanjungsari. Kisah sederhana tersebut menyentuh hati banyak orang karena menggambarkan perjuangan seorang anak yang sebenarnya masih ingin belajar, namun terhalang kondisi ekonomi keluarga.
Di usia yang masih muda, Ikhsan sudah terbiasa membantu orang tuanya mencari nafkah sepulang sekolah. Saat teman-temannya belajar atau bermain, ia justru sering memikirkan apakah dirinya masih bisa melanjutkan pendidikan.
Meski begitu, keinginan Ikhsan untuk tetap sekolah tidak pernah hilang. Ia hanya merasa keadaan keluarganya membuat pilihan hidupnya menjadi sangat terbatas.
Harapan akhirnya datang setelah kisahnya viral dan mendapat perhatian masyarakat luas. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan kepada keluarganya. Selain itu, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan atau Puslapdik dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga langsung melakukan penelusuran terhadap kondisi Ikhsan.
Hasil verifikasi menunjukkan bahwa keluarga Ikhsan layak menerima bantuan pendidikan. Namanya kemudian resmi terdaftar sebagai penerima Program Indonesia Pintar tahun 2026.
Bagi Ikhsan, kartu ATM dan buku rekening SimPel BRI yang diterimanya bukan sekadar bantuan biasa. Dua benda itu menjadi simbol harapan agar dirinya bisa kembali bersekolah dan mengejar cita-cita tanpa terus dihantui rasa takut putus sekolah.
Bantuan tersebut diserahkan langsung dalam kegiatan “Sinergi Kemendikdasmen dan Kejaksaan RI Dalam Pengawasan Program Indonesia Pintar di Satuan Pendidikan Melalui Jaga Indonesia Pintar”. Saat menerima bantuan itu, wajah Ikhsan terlihat lebih tenang dan lega karena kini ia bisa kembali duduk di bangku kelas bersama teman-temannya.
Kisah Ikhsan menjadi gambaran nyata bahwa masih banyak anak Indonesia yang menghadapi ancaman putus sekolah akibat masalah ekonomi keluarga. Karena itu, Program Indonesia Pintar hadir bukan hanya sebagai bantuan biaya pendidikan, tetapi juga sebagai upaya menjaga harapan anak-anak agar tetap dapat melanjutkan sekolah.
Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Adhika Ganendra mengatakan kasus seperti Ikhsan masih banyak ditemukan di berbagai daerah. Menurutnya, Kemendikdasmen sedang mengkaji pelibatan satuan pendidikan dalam proses pengusulan dan verifikasi calon penerima PIP karena sekolah dinilai paling memahami kondisi nyata siswanya.
Ia juga menegaskan bahwa Program Indonesia Pintar bertujuan mencegah siswa putus sekolah sekaligus membantu anak-anak yang sudah berhenti sekolah agar bisa kembali belajar. Sejak diluncurkan pada 2015 hingga 2025, program tersebut disebut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan angka partisipasi pendidikan di Indonesia.










