JAKARTA – Dasar Samudera Hindia ternyata masih menyimpan banyak misteri. Sebuah ekspedisi ilmiah di kawasan sekitar Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos berhasil mengungkap 1.059 spesies laut, dengan 149 di antaranya merupakan spesies yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.
Tidak hanya itu, para ilmuwan juga menemukan sekitar 1.000 fosil gigi hiu dalam satu kali penarikan jaring di kawasan Cocos Abyssal Plain.
Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Faunal community ecology of central-eastern Indian Ocean Seamounts. Penelitian dilakukan di sekitar pulau-pulau yang berada di Samudera Hindia, di antara Australia dan Sri Lanka, relatif dekat dengan wilayah Indonesia.
Ekspedisi Menjelajah Laut hingga Kedalaman 5.431 Meter
Penelitian ini melibatkan tim internasional yang terdiri dari 33 peneliti.
Mereka memetakan sedikitnya 22 gunung bawah laut atau seamount yang berada di kawasan penelitian. Gunung bawah laut tersebut memiliki ukuran sangat besar, dengan ketinggian setidaknya 1.000 meter dari dasar laut.
Para peneliti melakukan survei pada kedalaman mulai dari 94 meter hingga 5.431 meter.
Untuk menjangkau lingkungan laut dalam tersebut, penelitian menggunakan kapal riset RV Investigator milik Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).
Kawasan yang diteliti juga memiliki gunung bawah laut vulkanik yang diperkirakan berusia sekitar 40 juta hingga 120 juta tahun. Beberapa di antaranya memiliki diameter hingga 70 kilometer.
Gunung bawah laut tersebut memengaruhi arus laut dalam dan membantu membawa nutrisi. Kondisi itu kemudian menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan berbagai organisme laut.
149 Spesies Baru Ditemukan
Salah satu hasil paling menarik dari ekspedisi tersebut adalah ditemukannya 149 spesies laut yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.
Secara keseluruhan, tim berhasil mengumpulkan dan mengidentifikasi 1.059 spesies.
Dari jumlah tersebut, 149 spesies dikategorikan sebagai spesies baru. Bahkan, 23 di antaranya merupakan jenis ikan yang sebelumnya belum pernah tercatat di perairan Australia.
Beragam organisme ditemukan selama penelitian. Hewan yang paling banyak terjaring antara lain ubur-ubur dan cacing laut. Sementara itu, kepiting kecil, lobster, dan hewan bercangkang lainnya ditemukan menggunakan jaring berukuran lebih kecil.
Temuan ini menunjukkan bahwa kehidupan di laut dalam masih jauh dari sepenuhnya diketahui manusia.
Peneliti Tak Hanya Mengandalkan Jaring
Untuk mempelajari kehidupan di dasar laut, para ilmuwan tidak hanya menangkap organisme menggunakan jaring.
Tim juga mengambil DNA dari lingkungan sekitar dasar laut. Metode tersebut memungkinkan peneliti mendeteksi keberadaan organisme berdasarkan materi genetik yang tertinggal di lingkungan tanpa harus menangkap seluruh hewan yang hidup di sana.
Selain itu, kamera bawah laut digunakan untuk merekam kondisi lingkungan secara langsung.
Melalui perangkat tersebut, peneliti dapat mengamati kehidupan laut sekaligus memperoleh data mengenai kondisi air, termasuk suhu, kadar garam, dan kadar oksigen.
Sekitar 1.000 Gigi Hiu Ditemukan Sekaligus
Jika penemuan 149 spesies baru sudah mengejutkan, ada temuan lain yang tidak kalah menarik.
Dalam satu kali penarikan jaring di Cocos Abyssal Plain, para ilmuwan mengangkat sekitar 1.000 fosil gigi hiu dari dasar laut.
Gigi-gigi tersebut diperkirakan memiliki rentang sejarah evolusi lebih dari 22 juta tahun.
Artinya, fosil yang ditemukan tidak berasal dari satu periode saja. Gigi tersebut merekam keberadaan berbagai jenis hiu dari masa yang berbeda-beda dan kemudian terkumpul di kawasan dasar laut yang sama.
Para peneliti menemukan gigi yang dikaitkan dengan beberapa jenis hiu, termasuk hiu putih besar, hiu mako, hiu harimau, hingga Megalodon.
Karena banyaknya fosil gigi hiu yang ditemukan di kawasan tersebut, lokasi itu kemudian disebut sebagai “The Shark Graveyard” atau kuburan hiu.
Ada Jejak Megalodon, Hiu Raksasa yang Sudah Punah
Salah satu bagian yang paling menarik dari temuan tersebut adalah keberadaan fosil gigi Megalodon.
Megalodon merupakan hiu purba berukuran raksasa yang telah punah. Jejak fosilnya memberikan gambaran mengenai keberadaan predator laut tersebut pada masa lampau.
Temuan ini juga menunjukkan bagaimana dasar laut dapat berfungsi seperti sebuah arsip sejarah alam. Gigi-gigi hiu yang berasal dari periode berbeda dapat tetap tersimpan selama jutaan tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh ilmuwan.
Di Indonesia sendiri, penelitian terhadap fosil hiu purba juga terus dilakukan. Misalnya, kajian Universitas Diponegoro pada 2026 membahas fosil Megalodon yang pernah hidup di wilayah perairan Indonesia pada zaman Miocene hingga Pliocene.
Bukan Sekadar Fosil, Ada Potensi Mineral
Penemuan di Cocos Abyssal Plain juga memiliki sisi lain.
Para peneliti menemukan batuan alami yang kaya mineral di dasar laut dan terdapat pada gigi hiu yang ditemukan.
Jenis mineral tertentu yang terbentuk secara alami di dasar laut diketahui memiliki nilai penting karena dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan teknologi modern, termasuk bahan untuk baterai kendaraan listrik dan turbin angin.
Namun, keberadaan mineral tersebut sekaligus menunjukkan bahwa laut dalam bukan hanya memiliki nilai biologis, tetapi juga menyimpan sumber daya alam yang perlu dipelajari dan dikelola secara hati-hati.
Mengapa Laut Dalam Masih Banyak Menyimpan Misteri?
Menurut ilmuwan kelautan Tim O’Hara, salah satu alasan banyak temuan baru muncul adalah karena eksplorasi sebelumnya lebih banyak dilakukan di wilayah laut yang relatif dangkal.
Laut dalam jauh lebih sulit dijangkau. Tekanan air yang sangat besar, kondisi gelap, suhu rendah, serta kebutuhan teknologi khusus membuat penelitian di kedalaman ekstrem menjadi tantangan tersendiri.
Ekspedisi semacam ini akhirnya membuka kesempatan untuk melihat kehidupan yang sebelumnya hampir tidak tersentuh penelitian.
Temuan 149 spesies baru menjadi bukti bahwa manusia masih memiliki banyak hal untuk dipelajari mengenai keanekaragaman hayati di bawah permukaan laut.
Dekat Indonesia, tetapi Bukan di Perairan Indonesia
Judul penemuan ini memang menarik perhatian karena menyebut lokasi yang dekat dengan Indonesia.
Namun, perlu dipahami bahwa penelitian tersebut dilakukan di sekitar Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, bukan di wilayah perairan Indonesia.
Kawasan tersebut berada di Samudera Hindia dan secara geografis berada di antara Australia dan Sri Lanka. Karena itu, istilah “dekat Indonesia” perlu dipahami sebagai konteks lokasi geografis, bukan berarti 149 spesies baru tersebut ditemukan di perairan Indonesia.
Hal ini penting agar informasi mengenai temuan ilmiah tidak disalahartikan.
Laut Dalam Masih Menjadi Perbatasan Baru Ilmu Pengetahuan
Ekspedisi tersebut memperlihatkan bahwa dasar laut masih menyimpan informasi penting mengenai kehidupan masa kini sekaligus sejarah evolusi.
Dalam satu penelitian saja, ilmuwan menemukan lebih dari seribu spesies, 149 spesies baru, serta sekitar 1.000 fosil gigi hiu yang berasal dari rentang waktu jutaan tahun.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa sebagian besar kehidupan di laut dalam masih belum sepenuhnya dipahami.
Semakin canggih teknologi penelitian yang digunakan, semakin banyak pula rahasia laut dalam yang berpotensi terungkap.
Kesimpulan
Ekspedisi ilmiah di Samudera Hindia berhasil menemukan 1.059 spesies laut, termasuk 149 spesies yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.
Yang tidak kalah mengejutkan, sekitar 1.000 fosil gigi hiu ditemukan dalam satu kali penarikan jaring di Cocos Abyssal Plain. Fosil tersebut diperkirakan memiliki rentang evolusi lebih dari 22 juta tahun dan mencakup gigi dari beberapa jenis hiu, termasuk Megalodon.
Penelitian ini dilakukan di sekitar Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, sehingga meskipun berada di kawasan yang relatif dekat dengan Indonesia, lokasi penelitiannya bukan perairan Indonesia.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa laut dalam masih menjadi salah satu wilayah terbesar yang menyimpan misteri ilmiah. Dari spesies baru hingga fosil predator purba, dasar Samudera Hindia ternyata masih menyimpan banyak cerita tentang kehidupan di Bumi.






