MALANG – Sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi kapsul berbahan ekstrak daun sirsak liar yang diberi nama SUPER NOVA.
Inovasi tersebut dikembangkan sebagai kandidat terapi kanker serviks dengan memanfaatkan senyawa acetogenin yang terdapat dalam daun sirsak. Penelitian ini menarik perhatian setelah SUPER NOVA berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 di Osaka, Jepang.
Meski demikian, inovasi tersebut masih berada pada tahap awal penelitian. SUPER NOVA belum menjadi obat kanker yang dapat digunakan masyarakat karena masih membutuhkan serangkaian pengujian lanjutan untuk membuktikan keamanan dan efektivitasnya.
SUPER NOVA Manfaatkan Senyawa Acetogenin
Ketua tim penelitian, Rossi Imam Prasojo, menjelaskan bahwa SUPER NOVA memanfaatkan kandungan acetogenin dari daun sirsak liar.
Senyawa tersebut menjadi perhatian tim karena memiliki potensi untuk memengaruhi metabolisme sel kanker dan mendorong kematian sel abnormal.
Kanker serviks dipilih sebagai fokus penelitian karena penyakit tersebut masih menjadi salah satu masalah kesehatan dengan jumlah kasus yang tinggi secara global.
Meski demikian, tim tidak menutup kemungkinan pendekatan serupa nantinya dapat diteliti untuk jenis kanker lainnya.
Untuk saat ini, penelitian mereka memang secara khusus diarahkan pada kanker serviks.
Bagaimana Daun Sirsak Diolah Menjadi Ekstrak?
Pengembangan SUPER NOVA dilakukan melalui sejumlah tahapan.
Secara umum, daun sirsak liar terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dihaluskan hingga menjadi serbuk.
Serbuk tersebut selanjutnya diekstraksi menggunakan pelarut untuk mengambil senyawa bioaktif yang terdapat di dalam bahan tersebut.
Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring dan dipekatkan. Setelah itu, peneliti melakukan analisis untuk mengetahui kandungan senyawa aktif serta melihat potensi biologisnya.
Proses pengembangan SUPER NOVA sendiri dilakukan selama sekitar enam bulan.
Tahapannya dimulai dari menentukan permasalahan yang ingin diteliti, melakukan studi literatur, mengidentifikasi senyawa, hingga melakukan analisis awal menggunakan pendekatan komputasi atau in silico.
Penelitian Masih Menggunakan Simulasi Komputer
Bagian ini menjadi hal penting yang perlu dipahami.
Saat ini, SUPER NOVA masih berada pada tahap in silico, salah satunya melalui metode molecular docking.
Molecular docking merupakan pendekatan komputasi yang digunakan untuk memprediksi bagaimana suatu senyawa dapat berinteraksi dengan target molekuler tertentu.
Hasil dari tahap tersebut dapat memberikan petunjuk awal bagi peneliti untuk menentukan arah penelitian berikutnya.
Namun, hasil simulasi komputer belum cukup untuk membuktikan bahwa suatu bahan efektif dan aman digunakan sebagai terapi pada manusia.
Karena itu, SUPER NOVA masih membutuhkan penelitian lanjutan sebelum dapat dikembangkan lebih jauh sebagai kandidat terapi.
Masih Harus Melewati Uji In Vitro dan In Vivo
Dosen pembimbing tim, dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa penelitian SUPER NOVA belum selesai.
Setelah tahap in silico, penelitian perlu dilanjutkan dengan uji in vitro menggunakan sel kanker serviks.
Jika hasilnya mendukung, penelitian kemudian dapat dilanjutkan ke uji in vivo menggunakan hewan model.
Tahapan tersebut diperlukan untuk memperoleh informasi yang lebih kuat mengenai efektivitas, keamanan, dosis, serta kemungkinan pengembangan inovasi sebelum nantinya dapat dipertimbangkan untuk penelitian lebih lanjut pada manusia.
Dengan demikian, SUPER NOVA saat ini lebih tepat disebut sebagai kandidat atau inovasi awal terapi kanker serviks, bukan obat kanker yang sudah terbukti dapat digunakan untuk pasien.
Raih Gold Medal dan Special Award di Jepang
Walaupun masih berada pada tahap awal, penelitian mahasiswa FK UB tersebut berhasil mendapatkan pengakuan dalam kompetisi internasional.
SUPER NOVA meraih Gold Medal dan Special Award pada ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026.
Kompetisi tersebut berlangsung di Kansai Airport Conference Halls, Osaka, Jepang, pada 3–4 Juli 2026.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi para mahasiswa yang mengembangkan penelitian sejak masih berada di awal masa perkuliahan.
Tim Peneliti Masih Semester Awal
Tim SUPER NOVA dipimpin oleh Rossi Imam Prasojo dari angkatan 2024.
Anggota lainnya adalah Fajar Mubarok Al Sya’bani, Adara Hulwa Fania, Aryo Jalu Megan Rahmawan, Quincy Esther Stephanie, dan Alika Maulidya dari angkatan 2025.
Dosen pembimbing, Bayu Lestari, mengapresiasi kerja sama dan pembagian tugas dalam tim.
Menurutnya, para mahasiswa menunjukkan rasa ingin tahu yang baik dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan penelitian.
Hal yang cukup menarik, penelitian tersebut telah dilakukan ketika sebagian anggota tim masih berada di tahun pertama Fakultas Kedokteran.
Capaian di kompetisi internasional kemudian menjadi motivasi untuk membawa penelitian ke tahap yang lebih serius.
Target Publikasi Jurnal Ilmiah
Setelah mendapatkan penghargaan di Jepang, tim tidak berhenti pada kompetisi.
Rossi menyebut tim masih melakukan penyempurnaan analisis dan melanjutkan penelitian melalui pendekatan molecular dynamics.
Tim juga menyiapkan proposal penelitian untuk pengembangan tahap berikutnya.
Mereka menargetkan hasil penelitian tersebut mulai disusun dan diajukan untuk publikasi jurnal ilmiah pada September 2026.
Publikasi ilmiah diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk mendokumentasikan hasil penelitian secara akademik sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan.
Terkendala Pendanaan
Pengembangan sebuah inovasi kesehatan tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tim SUPER NOVA juga menghadapi persoalan pendanaan. Hingga saat ini, penelitian masih menggunakan dana pribadi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi apabila penelitian ingin dilanjutkan ke tahap uji laboratorium dan penelitian berikutnya.
Dukungan pendanaan menjadi penting karena tahap in vitro dan in vivo membutuhkan fasilitas, bahan penelitian, tenaga ahli, serta prosedur yang lebih kompleks dibandingkan penelitian berbasis komputer.
Mengapa Daun Sirsak Dipilih?
Daun sirsak dipilih karena mengandung kelompok senyawa bioaktif yang disebut acetogenin.
Dalam penelitian SUPER NOVA, senyawa tersebut menjadi objek yang dipelajari untuk melihat potensinya terhadap target yang berkaitan dengan metabolisme sel kanker.
Namun, keberadaan senyawa aktif dalam tanaman tidak otomatis berarti konsumsi tanaman tersebut dapat mengobati kanker.
Efektivitas dan keamanan suatu kandidat terapi tetap harus dibuktikan melalui penelitian ilmiah yang terkontrol.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan hasil penelitian SUPER NOVA sebagai alasan untuk mengganti pengobatan kanker yang telah direkomendasikan dokter.
Bukan Berarti Daun Sirsak Sudah Terbukti Mengobati Kanker
Prestasi SUPER NOVA di Jepang memang menjadi kabar positif bagi perkembangan riset mahasiswa Indonesia.
Namun, penghargaan dalam kompetisi inovasi berbeda dengan bukti klinis bahwa suatu produk telah terbukti sebagai obat.
Saat ini, penelitian SUPER NOVA masih berada pada tahap in silico.
Masih ada perjalanan panjang sebelum sebuah kandidat terapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memenuhi persyaratan keamanan dan efektivitas untuk digunakan pada manusia.
Penjelasan mengenai tahapan penelitian ini penting agar masyarakat tidak salah memahami berita dengan menganggap kapsul SUPER NOVA sudah dapat digunakan sebagai terapi kanker serviks.
Potensi Penelitian Bisa Dikembangkan
Meski masih dalam tahap awal, penelitian ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.
Jika penelitian berikutnya menghasilkan data yang mendukung, tim dapat mempelajari lebih jauh mekanisme kerja senyawa, efektivitas terhadap sel kanker, tingkat keamanan, hingga kemungkinan formulasi yang lebih optimal.
Pendekatan serupa juga berpotensi menjadi pintu masuk penelitian terhadap penyakit atau jenis kanker lainnya.
Namun, semua kemungkinan tersebut masih membutuhkan bukti ilmiah melalui tahapan penelitian yang sesuai.
Mahasiswa Kedokteran dan Riset Inovatif
SUPER NOVA menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran tidak hanya belajar mengenai ilmu klinis, tetapi juga dapat terlibat dalam pengembangan penelitian dan inovasi kesehatan.
Dari ide sederhana mengenai potensi tanaman, mahasiswa dapat mengembangkan penelitian menggunakan literatur ilmiah, identifikasi senyawa, simulasi komputer, hingga merancang tahapan pengujian berikutnya.
Keterlibatan mahasiswa sejak tahun pertama juga menunjukkan pentingnya budaya penelitian di lingkungan perguruan tinggi.
Dengan pendampingan dosen dan dukungan fasilitas maupun pendanaan yang memadai, penelitian seperti SUPER NOVA berpeluang berkembang lebih jauh.
Kesimpulan
Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mengembangkan SUPER NOVA, sebuah inovasi kapsul berbahan ekstrak daun sirsak liar yang ditujukan sebagai kandidat terapi kanker serviks.
SUPER NOVA memanfaatkan senyawa acetogenin dan hingga kini masih dikembangkan melalui pendekatan in silico, termasuk molecular docking.
Inovasi tersebut berhasil meraih Gold Medal dan Special Award di JDIE 2026 di Osaka, Jepang.
Namun, SUPER NOVA belum dapat disebut sebagai obat kanker yang siap digunakan masyarakat. Penelitian masih membutuhkan uji in vitro menggunakan sel kanker serviks dan kemudian uji in vivo menggunakan hewan model.
Di tengah keterbatasan pendanaan, tim terus menyempurnakan penelitian dan menargetkan hasilnya untuk diajukan ke jurnal ilmiah.
Kisah SUPER NOVA menjadi contoh menarik bagaimana mahasiswa Indonesia mulai mengembangkan riset kesehatan berbasis potensi bahan alam, sekaligus menunjukkan bahwa sebuah inovasi membutuhkan proses penelitian panjang sebelum dapat diterapkan sebagai terapi bagi masyarakat.






