Yogyakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah terus berada dalam tekanan dan diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama kelompok kelas menengah di perkotaan.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sujito, menyebut kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan terdampak akibat pelemahan rupiah. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menyesuaikan ulang pengeluaran rumah tangga serta mengurangi berbagai kebutuhan sekunder demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Arie menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka dalam perdagangan valuta asing, melainkan telah memengaruhi rasa aman ekonomi masyarakat. Nilai tabungan dan investasi masyarakat ikut tertekan, sementara biaya hidup terus meningkat. Situasi tersebut membuat banyak keluarga kelas menengah berada dalam posisi serba sulit karena belum memiliki bantalan finansial yang cukup kuat.
Ia menambahkan tekanan ekonomi global turut memperburuk kondisi domestik. Konflik geopolitik internasional, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat dan sekutunya, disebut berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia dan berbagai kebutuhan pokok di dalam negeri. Menurut Arie, kondisi global yang tidak stabil membuat pemerintah menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Arie menilai dampak pelemahan rupiah paling cepat dirasakan masyarakat kelas menengah dan masyarakat bawah. Jika pemerintah tidak mampu mengambil langkah cepat dan tepat, tekanan ekonomi dikhawatirkan akan berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya bisa memicu ketidakstabilan sosial.
Menurutnya, pemerintah memang telah menjalankan berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga daya tahan masyarakat. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan yang terjadi di lapangan. Arie melihat masih terdapat jarak antara kebijakan pemerintah dan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Selain itu, ia juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal pemerintah pusat dan daerah yang semakin memperbesar tekanan ekonomi masyarakat. Penurunan transfer fiskal disebut mulai berdampak pada berbagai sektor pelayanan publik, termasuk pendidikan dan pembangunan daerah. Kondisi tersebut membuat berbagai institusi harus bertahan di tengah keterbatasan anggaran dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Arie mengingatkan bahwa krisis ekonomi yang berlangsung terlalu lama dapat berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik. Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah strategis dan kebijakan darurat yang tepat sasaran untuk mengurangi dampak krisis terhadap masyarakat. Ia menegaskan bahwa stabilitas sosial sangat bergantung pada kemampuan negara menjaga rasa aman ekonomi masyarakat.
Sementara itu, sejumlah analis ekonomi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan global, ketidakpastian geopolitik, hingga persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Kenaikan harga barang impor juga diperkirakan akan menjadi salah satu dampak langsung yang dirasakan masyarakat apabila nilai tukar rupiah terus melemah.









