Semangat kemandirian tumbuh dari para santri tunarungu dan tunawicara di Jepara, Jawa Tengah, yang mulai merintis usaha batik melalui Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 yang difasilitasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini menjadi wadah pemberdayaan keterampilan sekaligus membuka peluang usaha berbasis budaya lokal bagi peserta berkebutuhan khusus.
Salah satu peserta program tersebut adalah Ajibatin Ni’mah atau Mbak Aik, alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara. Meski memiliki keterbatasan komunikasi, ia tetap tekun mengikuti pelatihan membatik yang berlangsung pada Mei hingga Juni 2025. Pelatihan mencakup batik tulis, batik cap, hingga teknik ecoprint yang diarahkan untuk membangun usaha mandiri.
Program PKW yang digelar Kemendikdasmen bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kewirausahaan generasi muda, termasuk penyandang disabilitas. Pemerintah berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak hanya menjadi bekal kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan usaha baru berbasis industri kreatif dan budaya daerah.
Perwakilan kelompok Batik Santui Jepara menyebut tantangan terbesar dalam pelatihan adalah proses komunikasi. Namun, hambatan tersebut dapat diatasi dengan metode pembelajaran yang disesuaikan oleh para instruktur. Kini, para peserta mulai mengembangkan produksi dan pemasaran batik secara mandiri.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai program PKW menjadi langkah penting dalam pemberdayaan anak muda dan kelompok disabilitas. Selain meningkatkan keterampilan, program ini diharapkan dapat membantu mengurangi pengangguran dan mendorong lahirnya wirausaha baru di daerah.









