Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan resmi meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) sebagai langkah strategis menyiapkan lulusan SMK yang siap bersaing di pasar kerja global. Program ini diluncurkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 21 Mei 2026.
Peluncuran program dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin. Acara tersebut juga dibarengi dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus untuk bekerja di luar negeri.
Program SMK (3+1) menambahkan satu tahun masa belajar setelah kurikulum reguler SMK tiga tahun. Tambahan satu tahun itu difokuskan pada pembelajaran bahasa asing, budaya kerja, hukum ketenagakerjaan negara tujuan, kesiapan mental, hingga perlindungan tenaga migran Indonesia.
Menurut Tatang Muttaqin, program ini menjadi jembatan kebekerjaan internasional bagi lulusan SMK agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar tenaga kerja global yang terus berkembang. Ia menilai pendidikan vokasi harus mampu memperkuat link and match dengan industri, termasuk industri luar negeri.
Saat ini, program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) telah diterapkan di sedikitnya 49 SMK di Indonesia. Sekolah yang mengikuti program diwajibkan memiliki akreditasi minimal B, menjalin kerja sama dengan industri internasional, serta didukung tenaga pendidik yang kompeten. Target utamanya adalah meningkatkan keterserapan kerja lulusan SMK di luar negeri hingga minimal 80 persen.
Sejumlah sekolah menyambut positif program tersebut. Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Kusdarmadi, menilai tambahan satu tahun pembelajaran sangat penting untuk memperkuat kemampuan bahasa, adaptasi budaya, hingga kesiapan fisik dan mental siswa sebelum bekerja di luar negeri.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Buduran, Agustina, menyebut minat siswa bekerja ke luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, program ini menjadi solusi untuk menyiapkan lulusan SMK yang lebih siap menghadapi dunia kerja internasional menuju Indonesia Emas 2045.









