JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi nuklir. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui program beasiswa dan mobilitas internasional bagi mahasiswa serta peneliti Indonesia.
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edi Giri Rachman Putera, mengatakan lembaganya menargetkan sekitar 200 mahasiswa doktor mengikuti program pendidikan di berbagai universitas terbaik dunia untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang teknologi nuklir.
Menurut Edi, BRIN berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia melanjutkan studi ke Tsinghua University, Tiongkok, yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik dunia dalam bidang teknologi reaktor, teknologi akselerator, dan ilmu pengetahuan nuklir.
Ia menilai peningkatan kualitas SDM menjadi faktor penting agar Indonesia memiliki tenaga ahli yang mampu mengembangkan serta memanfaatkan teknologi nuklir secara aman, damai, dan berkelanjutan.
Selain mengirim mahasiswa ke luar negeri, BRIN juga menjalankan program Targeted Scholarship yang dirancang bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut memberikan kesempatan kepada talenta muda Indonesia untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi kelas dunia sesuai kebutuhan pengembangan riset nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, Tsinghua University menjadi salah satu tujuan utama penerima beasiswa, khususnya bagi mahasiswa yang ingin mendalami bidang teknik fisika, teknologi nuklir, dan disiplin ilmu terkait.
Tidak hanya melalui jalur pendidikan formal, BRIN juga memperluas kesempatan pengembangan kompetensi melalui program mobilitas internasional. Program ini memungkinkan mahasiswa dan peneliti Indonesia melakukan kolaborasi riset bersama lembaga penelitian terkemuka di berbagai negara.
Salah satu bentuk kerja sama tersebut dilakukan melalui program penelitian di CERN, Swiss. Dalam program ini, mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan melakukan riset bersama ilmuwan internasional selama enam bulan di salah satu laboratorium fisika partikel terbesar di dunia.
Pengalaman penelitian tersebut dapat dikonversi menjadi tugas akhir sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas laboratorium berteknologi tinggi serta memperluas jejaring akademik internasional.
Untuk mendukung berbagai program pengembangan SDM tersebut, BRIN telah menyiapkan anggaran sebesar 8 hingga 10 juta dolar Amerika Serikat, atau setara sekitar Rp144 miliar hingga Rp180 miliar.
Selain pembiayaan melalui anggaran BRIN, lembaga tersebut juga terus menjalin kerja sama dengan LPDP dalam penyediaan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Di sisi lain, Indonesia juga aktif memperkuat kolaborasi internasional melalui China–Indonesia Belt and Road Joint Laboratory. Kerja sama ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi semakin banyak dosen, mahasiswa, peneliti, dan perguruan tinggi Indonesia untuk terlibat dalam penelitian bersama di tingkat global.
Edi mengajak seluruh perguruan tinggi dan komunitas riset di Indonesia memanfaatkan berbagai peluang tersebut guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Menurutnya, penguatan SDM menjadi fondasi penting agar Indonesia mampu menguasai teknologi strategis, termasuk teknologi nuklir, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan riset, industri, kesehatan, energi, dan pembangunan nasional secara berkelanjutan.










