DENPASAR – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Bali untuk memantau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.
Kunjungan yang berlangsung di Yayasan Sekolah Kristen Harapan Denpasar ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam memastikan MPLS kembali pada tujuan utamanya, yakni membantu murid baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara aman, nyaman, dan menyenangkan.
Kemendikdasmen Tegaskan MPLS Bebas Perpeloncoan
Dalam kunjungannya, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menegaskan bahwa praktik-praktik lama yang bersifat intimidatif, seperti perpeloncoan, tidak lagi memiliki tempat dalam pelaksanaan MPLS.
Menurutnya, kegiatan pengenalan lingkungan sekolah harus menjadi proses transisi yang positif bagi murid baru agar mereka dapat mengenal budaya sekolah tanpa rasa takut maupun tekanan.
“Kita mengembalikan MPLS ke tujuan awalnya, yaitu memperkenalkan murid dengan lingkungan sekolahnya melalui cara yang ramah. Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan nyaman, menghargai harkat dan martabat manusia,” ujar Atip.
Ekstrakurikuler Jadi Bekal Soft Skills
Pada hari terakhir MPLS, Wamendikdasmen meninjau kegiatan pengenalan ekstrakurikuler yang diikuti para murid baru di SMA Kristen Harapan Denpasar.
Menurut Atip, kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam membentuk karakter sekaligus mengembangkan soft skills yang dibutuhkan generasi muda untuk menghadapi era digital dan tantangan global.
Melalui berbagai kegiatan di luar pembelajaran formal, siswa dapat mengembangkan bakat, kreativitas, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, hingga rasa percaya diri.
Kemendikdasmen Apresiasi Pendidikan Karakter
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, turut mengapresiasi komitmen Yayasan Sekolah Kristen Harapan Denpasar yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan karakter sejak usia dini.
Ia menilai kegiatan yang ditampilkan oleh peserta didik dari jenjang PAUD dan TK mencerminkan proses pendidikan yang mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Kenalkan 33 Ekstrakurikuler untuk Murid Baru
Yayasan Sekolah Kristen Harapan Denpasar menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK hingga SMA dan SMK dengan total 1.165 peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Kristen Harapan, Daniel, menjelaskan bahwa MPLS difokuskan pada pengenalan budaya sekolah yang ramah serta pemberian informasi mengenai berbagai kegiatan sekolah.
Sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat, sekolah memperkenalkan 33 jenis ekstrakurikuler, di antaranya Pecinta Alam (PALA), Paskibra, Band, Dance, hingga berbagai organisasi siswa lainnya.
Menurut Daniel, langkah tersebut bertujuan membantu murid baru memahami berbagai aktivitas yang dapat mereka ikuti selama menempuh pendidikan di sekolah.
Murid Baru Merasa Nyaman Mengikuti MPLS
Salah satu murid baru kelas X-2, Ida Ayu Dewi atau yang akrab disapa Dayu, mengaku menikmati seluruh rangkaian MPLS.
Ia menceritakan bahwa berbagai kegiatan, termasuk outbound dan pengenalan lingkungan sekolah, membuat dirinya lebih mudah beradaptasi sekaligus mengenal teman-teman baru.
Dayu juga mengajak seluruh murid untuk tidak takut mengikuti MPLS karena kegiatan tersebut menjadi kesempatan membangun pertemanan tanpa adanya praktik perundungan.
Menurutnya, saling menghargai perbedaan dan menjalin relasi dengan semua teman menjadi pengalaman berharga selama mengikuti MPLS.
Wujudkan Sekolah Aman dan Ramah Anak
Melalui pelaksanaan MPLS Ramah, Kemendikdasmen berharap seluruh sekolah di Indonesia mampu menghadirkan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan, maupun praktik perpeloncoan.
Selain memperkenalkan budaya sekolah, MPLS juga diharapkan menjadi momentum untuk menanamkan nilai karakter, memperkuat keterampilan sosial, serta membantu peserta didik memasuki jenjang pendidikan baru dengan rasa aman dan percaya diri.








