Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan media Korea Selatan. Dalam salah satu tayangan KBS, program ini dibahas dari berbagai sisi, mulai dari besarnya anggaran, kesiapan rantai pasok, mekanisme distribusi makanan, hingga tantangan menjaga kualitas makanan sebelum diterima siswa.
Salah satu narasumber dari Yonsei University menyampaikan bahwa “program berskala nasional seperti MBG perlu disiapkan secara matang, terutama dari sisi pengadaan, standar operasional, pengawasan, dan distribusi.”
KBS juga membandingkan sistem penyediaan makan sekolah di Korea Selatan dan Indonesia. Di Korea Selatan, makanan umumnya dimasak langsung di dapur sekolah sehingga lebih mudah menjaga kualitas dan keamanan pangan. Sementara di Indonesia, sebagian besar makanan MBG berasal dari dapur penyedia yang kemudian didistribusikan ke sekolah.
Model distribusi tersebut dinilai memiliki tantangan tersendiri, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Rantai distribusi yang panjang membutuhkan pengawasan ketat agar makanan tetap aman, higienis, dan layak dikonsumsi saat diterima peserta didik.
Selain itu, tayangan tersebut turut menyinggung berbagai isu yang berkembang di Indonesia, mulai dari kritik terhadap besarnya anggaran, dugaan penyimpangan, keterlibatan unsur militer, hingga aksi demonstrasi mahasiswa.
Meski demikian, MBG tetap menjadi salah satu program prioritas pemerintah yang masih berjalan dan terus dievaluasi di berbagai daerah.
Sorotan media asing ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program sebesar MBG tidak hanya bergantung pada niat baik, tetapi juga pada sistem yang kuat, transparan, akuntabel, dan mampu menjamin keamanan pangan bagi jutaan penerima manfaat.









