JAKARTA – Perjalanan menuju bangku kuliah tidak selalu mudah. Hal itu dialami Francisca Rani Indira, mahasiswi baru Universitas Gadjah Mada (UGM), yang harus belajar di tengah situasi sulit saat mendampingi ayahnya menjalani perawatan di rumah sakit.
Di tengah persiapan menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Rani harus membagi waktu antara belajar dan menemani sang ayah yang sedang sakit. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan berkonsentrasi saat mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Meski telah mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Rani belum berhasil lolos. Namun, ia tidak menyerah dan langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Mandiri (UM) UGM berbasis Computer Based Test (CBT).
Kehilangan Ayah 11 Hari Sebelum Ujian
Cobaan terbesar datang ketika ayah Rani meninggal dunia, hanya sekitar 11 hari sebelum pelaksanaan ujian masuk UGM.
Di tengah suasana duka, Rani tetap berusaha bangkit dan melanjutkan perjuangannya. Ia memilih belajar di Perpustakaan Daerah (Perpusda) agar dapat lebih fokus mempersiapkan ujian.
Selama sekitar 11 hari, Rani mengaku mengerjakan 100 hingga 200 soal latihan setiap hari sebagai bekal menghadapi seleksi.
Usahanya pun membuahkan hasil. Rani berhasil diterima di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM melalui jalur UM UGM CBT.
Berjuang Demi Sang Ibu
Setelah kepergian sang ayah, ibunya, Yuani, menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga dengan berjualan keripik tempe untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut semakin memotivasi Rani untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik dan membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Rani mengungkapkan keinginannya untuk membahagiakan sang ibu sekaligus mewujudkan harapan ayahnya yang sejak dulu bercita-cita melihat anaknya berhasil menempuh pendidikan di UGM.
Kuliah Gratis Berkat Beasiswa UKT 100 Persen
Di tengah kekhawatiran mengenai biaya kuliah, Rani mendapatkan kabar menggembirakan. Ia memperoleh beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen, sehingga dapat menempuh pendidikan di UGM tanpa membayar biaya kuliah.
Kesempatan tersebut menjadi penyemangat bagi Rani untuk terus belajar dan meraih prestasi selama menjalani perkuliahan.
Aktif Berorganisasi Sejak Sekolah
Selain dikenal sebagai sosok yang gigih, Rani juga aktif mengikuti berbagai kegiatan selama bersekolah. Ia terlibat dalam kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) serta kelompok riset di sekolahnya.
Sementara itu, sang ibu terus memberikan dukungan agar Rani menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh dan mampu meraih cita-citanya.
Kisah Francisca Rani Indira menjadi bukti bahwa keterbatasan dan cobaan hidup tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan ketekunan, kerja keras, serta dukungan keluarga, impian untuk kuliah di kampus impian tetap dapat diwujudkan.









