JAKARTA – Fenomena sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang kekurangan murid baru mendapat perhatian dari Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Rafi Aufa Mawardi.
Menurut Rafi, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan jumlah peserta didik, tetapi mencerminkan perubahan paradigma masyarakat dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka.
Orang Tua Kini Mengutamakan Kualitas Pendidikan
Rafi menjelaskan bahwa pada masa lalu, sebagian besar orang tua hanya berfokus agar anak dapat mengakses pendidikan.
Namun, saat ini pertimbangan dalam memilih sekolah semakin beragam. Orang tua tidak hanya melihat faktor jarak atau kemudahan akses, tetapi juga memperhatikan kualitas pendidikan, lingkungan sosial, penanaman nilai moral, serta reputasi sekolah.
“Dulu intinya anaknya bisa sekolah, tetapi hari ini adalah bagaimana anaknya dapat sekolah secara berkualitas,” ujar Rafi.
Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut membuat banyak orang tua mulai mempertimbangkan berbagai pilihan sekolah, termasuk sekolah swasta.
Sekolah Berbasis Agama Menjadi Pilihan
Rafi menilai sekolah swasta berbasis agama, seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan madrasah, kini semakin diminati.
Sekolah-sekolah tersebut dinilai mampu menawarkan pendidikan akademik yang dipadukan dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai moral sejak usia dini.
Bagi sebagian keluarga, biaya pendidikan yang lebih tinggi dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang untuk masa depan anak.
Merger Sekolah Perlu Dikaji Secara Komprehensif
Menanggapi wacana penggabungan (merger) sekolah yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai salah satu solusi mengatasi sekolah yang kekurangan murid, Rafi mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek efisiensi.
Menurutnya, sekolah berbeda dengan institusi bisnis sehingga keputusan merger harus mempertimbangkan berbagai aspek lain, seperti:
- Kemudahan akses menuju sekolah.
- Ketersediaan transportasi.
- Dampak terhadap komunitas sekitar.
- Identitas dan keberlangsungan sekolah.
Ia menilai kajian yang komprehensif sangat diperlukan sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
Penurunan Angka Kelahiran Ikut Berpengaruh
Selain perubahan preferensi masyarakat, Rafi juga menyoroti faktor demografi.
Penurunan angka kelahiran di sejumlah daerah menyebabkan jumlah anak usia sekolah dasar semakin berkurang. Kondisi ini membuat beberapa sekolah mengalami kesulitan memperoleh peserta didik baru.
Menurutnya, apabila jumlah sekolah tidak disesuaikan dengan perkembangan jumlah penduduk usia sekolah, maka sistem penerimaan berbasis domisili berpotensi kurang efektif dalam menjawab kebutuhan di lapangan.
Perlu Evaluasi Menyeluruh Sistem Pendidikan
Rafi menegaskan bahwa fenomena sekolah negeri yang kekurangan murid sebaiknya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pendidikan.
Evaluasi tersebut perlu mempertimbangkan kualitas layanan pendidikan, pemerataan akses, kondisi demografi, hingga perubahan harapan masyarakat terhadap sekolah.
Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan setiap sekolah dapat tetap memberikan layanan pendidikan yang berkualitas sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.









