BANDUNG – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mendorong penguatan sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bekal menghadapi tantangan global di era multipolar.
Hal tersebut disampaikan Atip saat menjadi pembicara dalam International Conference on Islam in the Malay World (ICON IMAD XV) bertajuk “Malay-Islamic Eco-Theology and Cultural Resilience in the Multipolar Era: Educational Implications” yang digelar di Bandung pada Senin (27/7/2026).
Tiga Tantangan Besar Dunia Saat Ini
Dalam paparannya, Atip menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga tantangan utama, yaitu:
- Krisis ekologi akibat perubahan iklim.
- Krisis budaya yang ditandai semakin memudarnya identitas lokal.
- Tantangan pendidikan yang masih didominasi pendekatan sekuler dan materialistik.
Menurutnya, tantangan tersebut memerlukan sistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual serta kearifan lokal.
“Pendidikan harus meletakkan Allah sebagai pusat, manusia sebagai penjaga, dan alam sebagai amanah. Tujuan kita adalah menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan bertanggung jawab secara ekologis,” ujar Atip.
Perkuat Literasi Ekologis dan Identitas Budaya
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Kemendikdasmen mendorong berbagai strategi, di antaranya:
- Penguatan literasi ekologis.
- Peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik.
- Penguatan identitas budaya.
- Integrasi Fiqh al-Bi’ah dalam Pendidikan Agama Islam.
- Pemanfaatan pantun, hikayat, dan peribahasa sebagai media pembelajaran.
- Integrasi sains dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
- Pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan peserta didik dalam pelestarian lingkungan.
- Pengembangan sekolah ramah lingkungan.
- Pemanfaatan media digital untuk memperluas edukasi mengenai kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui langkah tersebut, peserta didik diharapkan memiliki kepedulian terhadap alam sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.
Target Revitalisasi 80 Ribu Sekolah
Dalam kesempatan yang sama, Atip juga menegaskan komitmen Kemendikdasmen dalam memperkuat ekosistem pendidikan melalui program revitalisasi satuan pendidikan.
Pemerintah menargetkan revitalisasi 80.000 satuan pendidikan hingga akhir tahun 2026 guna menghadirkan lingkungan belajar yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Salah satu syarat utama dalam program tersebut adalah tersedianya fasilitas sanitasi yang layak.
“Kami menargetkan revitalisasi 80.000 satuan pendidikan sampai akhir tahun ini. Salah satu syarat mutlaknya: wajib ada toilet yang layak. Toilet sekolah adalah cerminan peradaban,” tegas Atip.
Pendidikan Harus Menjadi Kompas Moral
Atip menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga harus memperkuat karakter peserta didik agar bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, konsep Ekoteologi Islam Melayu menawarkan perspektif pembangunan yang menggabungkan kemajuan dengan spiritualitas dan nilai-nilai moral.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Aan Hasanah, menilai pendidikan harus menjadi fondasi dalam membangun kesadaran menjaga lingkungan sebagai bagian dari karakter peserta didik.
“Alam bisa memenuhi kebutuhan manusia (need), tapi alam tidak akan pernah bisa memenuhi keserakahan manusia (greed). Pendidikan harus menjadi kompas moral bagi perilaku manusia terhadap semesta,” ujar Aan Hasanah.
Sekolah dan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Ekologi
Menutup paparannya, Wamendikdasmen mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan melalui penguatan kurikulum, pendidikan guru, pelestarian kearifan lokal, serta pemberdayaan sekolah dan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa sekolah dan masjid perlu menjadi pusat pembelajaran sekaligus pusat ketahanan ekologis.
“Ekoteologi Islam Melayu bukan tentang kembali ke masa lalu, tetapi peta jalan menuju masa depan. Kita harus memberdayakan setiap sekolah dan masjid menjadi pusat pertahanan ekologi,” pungkas Atip.









