Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti temuan sekitar 6.000 anak putus sekolah di Kota Bogor, Jawa Barat. Yang menjadi perhatian, fenomena ini tidak lagi didominasi oleh masalah biaya atau akses pendidikan, tetapi oleh rendahnya minat belajar.
Menurut Puan, “Persoalan pendidikan hari ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ketersediaan sekolah, bantuan pendidikan, atau akses belajar.” Tantangan yang dihadapi Indonesia kini adalah memastikan setiap anak tetap memiliki keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk membangun masa depan mereka.
Data Kemendikdasmen juga menunjukkan bahwa Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia telah mencapai hampir 4 juta anak. Angka ini menjadi pengingat bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun sekolah atau meningkatkan angka partisipasi, tetapi juga memastikan setiap anak mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikannya.
Puan pun mendorong agar penanganan anak tidak sekolah dijadikan agenda strategis pembangunan nasional, termasuk melalui penyusunan Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mencegah anak-anak meninggalkan bangku pendidikan sejak gejala awal muncul.
“Negara tidak boleh kehilangan satu generasi hanya karena terlambat menyadari anak-anak mulai meninggalkan sekolah dan anak-anak putus sekolah karena keadaan.”
Pendidikan bukan hanya tentang menyediakan ruang kelas, tetapi juga menjaga harapan, motivasi, dan kesempatan setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.




