SEMARANG – Deru kereta yang hilir mudik di Stasiun Semarang Tawang bukan hanya menjadi penanda aktivitas transportasi masyarakat, tetapi juga menyimpan sejarah penting perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Bangunan bersejarah ini kembali menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan revitalisasi tahap pertama Stasiun Semarang Tawang pada Kamis (30/7/2026).
Revitalisasi tersebut tidak hanya menghidupkan kembali salah satu bangunan cagar budaya nasional, tetapi juga mengingatkan masyarakat bahwa Semarang merupakan lokasi lahirnya jalur kereta api pertama di Indonesia.
Revitalisasi Pertama Sejak Diresmikan Tahun 1914
Berdasarkan keterangan Sekretariat Negara, revitalisasi Stasiun Semarang Tawang menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan budaya nasional.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya sejak diresmikan pada 1914, bangunan bersejarah tersebut menjalani pemugaran resmi atas arahan Presiden kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Pemugaran dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter asli bangunan cagar budaya.
Tahap pertama revitalisasi meliputi:
- Penataan ruang tunggu.
- Renovasi ruang VIP.
- Penataan hall utama.
- Perbaikan selasar.
- Pembenahan sistem drainase untuk mengurangi dampak banjir rob.
Nilai proyek revitalisasi mencapai sekitar Rp12,39 miliar, dengan seluruh pekerjaan mengikuti prinsip pelestarian bangunan bersejarah.
Dibangun di Atas Kawasan Rawa
Jauh sebelum menjadi ikon Kota Semarang, kawasan Stasiun Tawang merupakan wilayah rawa dengan kondisi tanah yang labil.
Pembangunan stasiun dimulai pada 1911, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).
Bangunan bergaya kolonial tersebut dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer.
Sebelum pembangunan dimulai, tanah diperkuat menggunakan lempengan beton selama beberapa bulan agar mampu menopang bangunan besar di kawasan utara Kota Lama Semarang yang saat itu menjadi pusat perdagangan.
Stasiun Semarang Tawang kemudian resmi dibuka pada 1 Juni 1914.
Lokasinya yang berdekatan dengan pelabuhan dan kawasan niaga menjadikan stasiun ini berkembang sebagai salah satu simpul transportasi terpenting pada masa Hindia Belanda.
Awal Lahirnya Jalur Kereta Api Indonesia
Sejarah Stasiun Tawang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia.
Modernisasi transportasi di Pulau Jawa dimulai ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda L. A. J. Baron Sloet van de Beele melakukan peletakan batu pertama pembangunan jalur Semarang–Vorstenlanden di Desa Kemijen pada 17 Juni 1864.
Tahap pertama pembangunan menghubungkan Semarang dengan Tanggung, Kabupaten Grobogan, sepanjang sekitar 26 kilometer.
Pembangunan jalur tersebut dikerjakan oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan menjadi awal berkembangnya jaringan kereta api di Indonesia yang kemudian mempercepat mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa.
Warisan Sejarah yang Terus Dijaga
Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang menjadi bukti bahwa bangunan bersejarah dapat terus difungsikan tanpa menghilangkan nilai historisnya.
Selain menjadi pusat transportasi, stasiun ini juga menjadi pengingat perjalanan panjang modernisasi Indonesia melalui pembangunan jalur kereta api pertama. Dengan pelestarian yang dilakukan saat ini, Stasiun Semarang Tawang diharapkan tetap menjadi ikon Kota Semarang sekaligus warisan budaya yang dapat dinikmati oleh generasi mendatang.









