JAKARTA – Keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Hal itulah yang dibuktikan oleh Nathania Tifara, seorang entrepreneur muda yang berhasil mendirikan Guru Bumi, penerbit buku anak yang mengusung konsep inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Perjalanan Nathania tidaklah mudah. Ia kehilangan pendengarannya sejak usia dua tahun akibat virus meningitis yang mewabah di Amerika Serikat, tempat ia dan keluarganya tinggal pada tahun 1990. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik awal perjuangannya untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih inklusif bagi anak-anak Indonesia.
Kehilangan Pendengaran Sejak Balita
Saat berusia dua tahun, Nathania mengalami kehilangan pendengaran akibat infeksi virus meningitis.
Dua tahun kemudian, ketika berusia empat tahun, ia menjalani operasi pemasangan cochlear implant, sebuah alat bantu dengar berbasis teknologi yang membantunya kembali mengakses suara.
Meski demikian, Nathania menegaskan bahwa alat tersebut tidak membuatnya sembuh dari tuli.
“Tanpanya, saya tetap tuli total,” ungkap Nathania.
Ia menjelaskan bahwa cochlear implant hanya dipasang pada satu sisi telinga dan kemampuan pendengarannya masih sekitar 40–50 persen lebih rendah dibandingkan orang dengan pendengaran normal.
Akibatnya, ia mendengar seperti menggunakan suara mono, kesulitan mengikuti percakapan di tempat ramai, dan harus terus melatih otaknya agar mampu menerjemahkan suara yang diterima.
Dalam kesehariannya, Nathania juga mengandalkan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan konteks percakapan untuk memahami komunikasi dengan orang lain.
Belajar dengan Dukungan Lingkungan
Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, Nathania selalu terbuka mengenai kondisi pendengarannya kepada guru, dosen, dan teman-temannya.
Menurutnya, keterbukaan tersebut bukan untuk memperoleh perlakuan istimewa, melainkan agar lingkungan belajar memahami kebutuhan komunikasinya.
Selama menjalani pendidikan, ia menerapkan berbagai strategi agar tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, antara lain:
- Duduk di bangku paling depan.
- Meminjam atau memanfaatkan catatan teman.
- Aktif berdiskusi dalam kelompok kecil.
Tantangan terbesar ia rasakan ketika menempuh Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) pada masa pandemi Covid-19.
Saat seluruh perkuliahan berlangsung secara daring, Nathania memperoleh bantuan dari juru tulis, baik teman maupun suaminya, untuk merangkum materi yang disampaikan dosen.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa keberhasilan proses belajar tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada dukungan lingkungan yang bersedia beradaptasi.
“Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara,” ujarnya.
Mendirikan Guru Bumi, Penerbit Buku Anak Ramah Difabel
Inspirasi mendirikan Guru Bumi berawal dari pengalaman masa kecilnya.
Saat kecil, ibunya sering membacakan buku-buku anak yang kaya ilustrasi dan memiliki cerita yang membantunya memahami berbagai hal melalui visual.
Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa masih sedikit media edukasi anak di Indonesia yang benar-benar memperhatikan kebutuhan anak dengan berbagai kemampuan.
Berangkat dari pengalaman itu, Nathania mendirikan Guru Bumi, sebuah penerbit buku anak yang menghadirkan buku sebagai media belajar, membaca, dan bertumbuh bersama secara inklusif.
Baginya, buku bukan sekadar bahan bacaan, melainkan sarana untuk membangun kesempatan belajar yang lebih setara bagi semua anak.
Menginspirasi Pendidikan yang Lebih Inklusif
Kisah Nathania Tifara menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Melalui Guru Bumi, ia terus mendorong lahirnya buku-buku anak yang lebih inklusif sekaligus mengajak masyarakat membangun lingkungan belajar yang menghargai perbedaan dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang.









