Jakarta — Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mengingatkan para sarjana untuk terus mengembangkan kemampuan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan tantangan baru yang dapat membuat kemampuan manusia kalah bersaing jika tidak diikuti dengan proses belajar berkelanjutan.
Rhenald menyebut kondisi tersebut sebagai human disruption, yakni situasi ketika teknologi tidak hanya mengubah pekerjaan manusia, tetapi juga memengaruhi identitas, persepsi, kecepatan, serta berbagai hal yang selama ini melekat pada kehidupan manusia.
“Human disruption adalah ketika teknologi mengubah apa yang bisa dilakukan oleh manusia, sekaligus mengubah persepsi, identitas, kecepatan, dan segala hal yang melekat pada manusia itu sendiri,” ungkap Rhenald.
Menurutnya, perkembangan AI membuat para lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Gelar sarjana dan prestasi akademik saja tidak cukup untuk menjamin seseorang mampu bertahan dalam persaingan dunia kerja yang terus berubah.
Sarjana Diminta Tidak Terkecoh Teknologi
Rhenald juga mengingatkan para lulusan agar tidak terlalu bergantung pada teknologi. Menurutnya, teknologi memang memberikan berbagai kemudahan, tetapi algoritma juga dapat membuat manusia kehilangan fokus dan mudah terdistraksi.
Salah satu hal yang telah banyak berubah akibat teknologi adalah attention atau perhatian manusia. Penggunaan ponsel saat mengikuti kegiatan akademik atau mendengarkan pembicara, misalnya, dapat membuat seseorang kehilangan konsentrasi karena terus mendapatkan rangsangan dari berbagai algoritma.
“Hari ini sambil saudara mendengarkan para guru besar, saudara membuka ponsel saudara. Dan begitu saudara membuka ponsel saudara, saudara pun terdistraksi karena algoritma,” kata Rhenald.
Karena itu, kemampuan untuk menjaga fokus menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi.
IPK Tinggi Bukan Jaminan Kesuksesan
Rhenald menegaskan bahwa proses belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang mendapatkan ijazah. Bahkan, menurutnya, IPK tinggi sekalipun tidak akan banyak berarti apabila seseorang berhenti mengembangkan kemampuan setelah lulus.
Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan membandingkan lulusan dengan prestasi akademik tinggi dan mereka yang terus belajar serta mencoba hal baru.
“Kalau saudara sekolah hanya sekadar untuk mendapatkan ijazah, dan kemudian saudara merasa selesai walaupun saudara menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 maka saudara selesai pada hari ini,” ujarnya.
Sebaliknya, orang dengan IPK lebih rendah tetapi memiliki kemauan untuk terus belajar justru dapat memiliki peluang berkembang lebih besar.
“Teman-teman saudara yang IPK-nya di bawah itu akan mengatakan, ‘saya baru memulainya’,” lanjutnya.
Inovasi Tidak Selalu Datang dari Pemilik Gelar
Rhenald juga menyoroti semakin terbukanya peluang bagi seseorang untuk menciptakan inovasi tanpa harus memiliki gelar akademik tinggi.
Ia menceritakan contoh seorang penghafal Al-Qur’an yang berprofesi sebagai pedagang ikan hias di Jatinegara. Menurut Rhenald, orang tersebut secara mandiri melakukan eksperimen dan pengeditan DNA ikan hingga mampu menghasilkan inovasi di bidang yang berkaitan dengan riset farmasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi dapat lahir dari siapa saja, termasuk orang yang tidak menempuh pendidikan formal hingga jenjang doktoral.
“Para sarjana tengah asyik mencari pekerjaan, tengah asyik membuat CV, sementara mereka (praktisi mandiri) mengembangkan produk-produk baru dan diam-diam menciptakan pasar,” tutur Rhenald.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para lulusan perguruan tinggi bahwa gelar bukanlah akhir dari proses pendidikan. Di era AI dan human disruption, kemampuan belajar sepanjang hayat, beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, serta memanfaatkan teknologi secara tepat menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan.









