Praktisi Kementerian Keuangan Raih Summa Cum Laude dan Tamat Doktor dalam 7 Semester
Jakarta, 21 Agustus 2026 — Universitas Indonesia (UI) menggelar wisuda lulusan tahun akademik 2025/2026 pada 21–22 Agustus 2026. Dari total 10.329 lulusan, sosok Mahatmyastuti Nuranindita menjadi salah satu yang mencuri perhatian.
Mahatmya dinobatkan sebagai lulusan doktor terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI setelah berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96, atau nyaris sempurna.
Tidak hanya menjadi lulusan terbaik, Mahatmya juga tercatat sebagai satu-satunya lulusan Program Doktor Ilmu Akuntansi FEB UI yang meraih predikat Summa Cum Laude.
“Perasaannya ya senang, bangga, dan sangat bersyukur sih sebetulnya ya, karena ternyata dari 13 orang lulusan S3 FEB, hanya satu yang berpredikat summa cumlaude. Dan itu merupakan perjuangan yang luar biasa bagi saya,” ujar Mahatmya kepada detikEdu seusai prosesi wisuda di Gedung Balairung UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026).
Sempat Minder karena Bukan Akademisi
Perjalanan Mahatmya meraih prestasi tersebut tidak sepenuhnya mudah. Ia mengaku sempat merasa kurang percaya diri ketika memulai pendidikan doktoral.
Berbeda dengan sebagian besar rekan seangkatannya yang berasal dari kalangan akademisi, Mahatmya merupakan seorang praktisi dan bekerja sebagai PNS di Kementerian Keuangan.
“Saya ini praktisi, PNS di Kementerian Keuangan. Teman-teman seangkatan itu kebanyakan akademisi. Di awal perkuliahan saya sempat merasa kurang percaya diri karena S3 itu basisnya riset,” ungkapnya.
Namun, rasa minder tersebut justru menjadi motivasi bagi Mahatmya untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuannya. Dukungan dari dosen dan pembimbing juga membantunya menguasai berbagai ilmu penelitian dan metodologi.
“Tapi seiring berjalannya perkuliahan, kemudian saya merasa dosen-dosen di sini, pembimbing juga semuanya itu sangat support, sangat membantu, sehingga saya dengan cepat belajar ilmu-ilmu riset, metodologi, itu bisa saya kuasai dengan baik,” tuturnya.
Selesaikan S3 dalam 7 Semester Sambil Bekerja
Mahatmya juga berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam tujuh semester. Tantangan semakin besar karena ia harus menjalani perkuliahan sambil tetap menjalankan tanggung jawab pekerjaannya.
Sebagai penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Mahatmya juga harus memperhatikan batas waktu masa studi yang ditanggung oleh program beasiswa.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia menerapkan manajemen waktu dan menjaga konsistensi dalam menjalani setiap tanggung jawab.
“Jadi memang harus pandai membagi waktu antara menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, kemudian dengan tetap terus meng-update di bidang pekerjaan saya,” jelasnya.
Menurut Mahatmya, selain manajemen waktu, persistensi menjadi salah satu kunci penting dalam menyelesaikan pendidikan doktoral.
“Kita harus konsisten, kita harus tidak boleh patah semangat,” pesannya.
Ingin Sumbangkan Ilmu untuk Pekerjaan dan Masyarakat
Setelah menyelesaikan pendidikan S3, Mahatmya berharap ilmu yang diperolehnya dapat memberikan manfaat lebih luas.
Ia ingin menerapkan pengetahuan dan pengalaman selama menempuh pendidikan doktoral untuk mendukung pekerjaannya di Kementerian Keuangan sekaligus berkontribusi di bidang akademik dan masyarakat.
“Harapannya ada upgrade ilmu yang bisa saya sumbangkan ke bidang pekerjaan saya (di Kemenkeu), bidang akademik, dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.
Kisah Mahatmya menjadi contoh bahwa latar belakang sebagai praktisi bukan penghalang untuk berprestasi di dunia akademik. Dengan kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, manajemen waktu, dan konsistensi, pendidikan tinggi dapat diselesaikan dengan hasil yang membanggakan.









