Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah Kalimantan untuk membantu mengatasi defisit air sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas.
Operasi ini melibatkan BMKG bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI AU, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Salah satu tujuannya adalah memaksimalkan potensi hujan di wilayah yang dinilai kritis.
13.273 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan pelaksanaan OMC dinilai mendesak karena jumlah titik panas di Kalimantan Timur terus meningkat.
Sepanjang 1–23 Agustus 2026, tercatat sebanyak 13.273 titik panas di wilayah Kaltim. Jumlah tersebut meningkat 35,5 persen dibandingkan periode yang sama pada puncak kemarau El Nino 2015.
Selain meningkatnya titik panas, sejumlah wilayah juga mengalami hari tanpa hujan dalam durasi cukup panjang. Kabupaten Kutai Barat dan Paser tercatat mengalami hari tanpa hujan selama 28 hari berturut-turut.
OMC Bukan Membuat Hujan, tetapi Mengoptimalkan Awan
Budi menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca bukan berarti menciptakan hujan dari kondisi yang sama sekali tidak memiliki potensi hujan.
Menurutnya, OMC dilakukan dengan mengoptimalkan awan yang sudah tersedia. Ketika kondisi awan mendukung, dilakukan penyemaian untuk mempercepat turunnya hujan sekaligus memperluas wilayah yang mendapatkan curah hujan.
Pelaksanaan OMC di Kalimantan Timur berlangsung 22–27 Agustus 2026. BMKG menyebut operasi yang telah dilakukan sebelumnya mulai menghasilkan hujan selama dua hari.
Sementara itu, OMC di Kabupaten Berau dilaksanakan pada 24–28 Agustus berdasarkan permintaan pemerintah daerah untuk membantu menangani titik panas.
Kaltim Berstatus Siaga Bencana
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menyampaikan bahwa wilayah Kaltim saat ini berada dalam status Siaga Bencana.
Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api terus dikerahkan untuk menangani titik api yang masih terpantau.
Upaya penanganan karhutla juga dilakukan melalui posko modifikasi cuaca di beberapa wilayah. OMC telah dilaksanakan di Palembang sejak 22 Agustus, Pontianak sejak 23 Agustus, serta sejumlah wilayah lainnya sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi juga dilakukan melalui pencegahan dan pengendalian kondisi lingkungan dengan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca.









