Jakarta – Orang tua tidak perlu terburu-buru memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada anak usia prasekolah. Menurut pakar perkembangan anak, bermain justru dapat menjadi cara efektif bagi anak untuk belajar sekaligus mengembangkan berbagai kemampuan penting.
Pembelajaran berbasis bermain memungkinkan anak belajar melalui aktivitas yang menyenangkan. Melalui bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa, literasi awal, berhitung, konsentrasi, keterampilan sosial, hingga perkembangan emosional.
Pakar perkembangan manusia dan ilmu keluarga di Ohio State University, Erin G. Fox, menjelaskan bahwa bermain tidak hanya berkaitan dengan perkembangan sosial dan emosional. Aktivitas bermain juga dapat mendukung kemampuan akademik dasar anak.
Sejumlah bukti bahkan menunjukkan bahwa pembelajaran melalui bermain dapat membantu membangun keterampilan akademik awal dengan lebih baik dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan pengajaran langsung.
Guru Nilai Bermain Mendukung Pembelajaran
Pandangan tersebut juga mendapat dukungan dari para guru. Penelitian yang dilakukan Fox dan tim melibatkan 110 guru dari wilayah Midwest, Amerika Serikat.
Hasil survei menunjukkan 96,9 persen guru setuju atau sangat setuju bahwa bermain dapat mendukung pembelajaran akademik anak. Para guru juga mendukung adanya waktu bermain yang terjadwal dalam kegiatan pembelajaran.
Profesor madya ilmu humaniora di Ohio State University, Kelly M. Purtell, menjelaskan bahwa aktivitas yang terlihat seperti permainan dari luar sebenarnya dapat dirancang dengan tujuan pembelajaran tertentu.
Artinya, bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Guru dapat merancang permainan agar anak secara tidak langsung belajar mengenal angka, bahasa, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengembangkan kemampuan emosional.
Bermain Bukan Berarti Tanpa Tujuan
Pembelajaran berbasis bermain tetap membutuhkan perencanaan. Guru perlu memahami tahap perkembangan anak dan menentukan aktivitas yang sesuai dengan usia serta kebutuhan mereka.
Guru yang lebih berpengalaman dalam penelitian tersebut cenderung lebih memilih pendekatan yang berpusat pada anak dan tidak terlalu menekankan pembelajaran yang sangat terstruktur.
Namun, penelitian juga menemukan adanya tantangan. Guru di wilayah perkotaan mengaku merasa lebih sedikit mendapatkan dukungan keluarga terhadap pembelajaran berbasis bermain. Sebagian orang tua berharap anak yang masuk prasekolah lebih banyak belajar secara akademis agar siap memasuki jenjang berikutnya.
Padahal, mempersiapkan anak menuju pendidikan berikutnya bukan berarti mengurangi kesempatan mereka untuk bermain.
Anak Tetap Perlu Ruang untuk Bermain
Pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak perlu memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi, mencoba, bertanya, berimajinasi, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu mengukur keberhasilan belajar anak prasekolah hanya dari kemampuan mengerjakan lembar soal atau PR. Permainan yang dirancang dengan baik juga merupakan proses belajar yang memiliki tujuan.
Pendekatan ini membantu anak memperoleh berbagai keterampilan dasar sekaligus menikmati proses belajar tanpa tekanan akademik yang berlebihan. Purtell menyebut pembelajaran berbasis bermain sebagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.









