Jakarta – Eropa menghadapi ancaman kebakaran hutan yang semakin serius akibat kondisi cuaca yang makin panas, kering, dan berangin. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, luas wilayah yang terbakar di Eropa diproyeksikan dapat hampir tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.
Temuan tersebut berasal dari penelitian Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Senckenberg Society for Nature Research yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology. Para peneliti membuat sejumlah proyeksi mengenai perkembangan luas area terbakar hingga akhir abad ke-21.
Emisi Gas Rumah Kaca Jadi Faktor Penting
Hasil penelitian menunjukkan tingkat emisi akan sangat menentukan tingkat keparahan kebakaran hutan di masa depan.
Dalam skenario emisi rendah, luas wilayah yang terbakar diperkirakan meningkat sekitar 39 persen dibandingkan kondisi saat ini. Sementara dalam skenario emisi tinggi, luas area terbakar berpotensi meningkat hingga 192 persen, atau hampir tiga kali lipat.
Kondisi tersebut terutama mengancam kawasan Mediterania serta sebagian wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah. Bahkan, wilayah yang sebelumnya relatif jarang mengalami kebakaran juga berpotensi menghadapi peningkatan risiko.
Eropa Mengalami Panas dan Kekeringan Ekstrem
Kondisi tersebut mulai terlihat pada musim panas 2026. Data Copernicus menunjukkan Eropa Barat mengalami periode panas yang luar biasa pada Juni–Juli. Suhu rata-rata kawasan tersebut selama dua bulan mencapai 21,62°C, atau 2,79°C di atas rata-rata 1991–2020, menjadi periode Juni–Juli terpanas dalam catatan.
Suhu tinggi juga memperparah kekeringan. Ketika kelembapan tanah dan vegetasi menurun, kemampuan alam untuk mendinginkan permukaan ikut berkurang. Vegetasi yang semakin kering kemudian menjadi bahan bakar yang lebih mudah terbakar.
Kebakaran Sudah Meluas pada 2026
European Forest Fire Information System (EFFIS) mencatat hingga 12 Agustus 2026, sekitar 550.000 hektare lahan telah terbakar di Uni Eropa. Angka tersebut mencapai sekitar dua setengah kali rata-rata 20 tahun terakhir.
Spanyol, Prancis, Portugal, dan sejumlah negara Eropa lainnya mengalami kondisi yang sangat kering. Copernicus juga mencatat kekeringan di Eropa Barat dan sebagian Eropa Tengah berkontribusi terhadap aktivitas kebakaran yang luar biasa selama Juli 2026.
Pencegahan Bisa Mengurangi Dampak
Meski proyeksinya mengkhawatirkan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia masih dapat mengurangi dampak kebakaran melalui pencegahan dan peningkatan kemampuan pemadaman.
Peningkatan kemampuan deteksi dini dan pemadaman diperkirakan dapat menekan luas area terbakar hingga 92 persen dalam skenario emisi rendah dan 72 persen dalam skenario emisi tinggi.
Karena itu, investasi dalam pelatihan petugas pemadam kebakaran, peralatan, sistem deteksi dini, serta koordinasi antarlembaga menjadi penting. Di saat yang sama, pengurangan emisi gas rumah kaca tetap diperlukan untuk mengurangi pemanasan global dalam jangka panjang.









