Bandung – Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan Geolini, seismograf digital tiga komponen buatan dalam negeri yang dirancang untuk merekam aktivitas gempa hingga jarak ribuan kilometer.
Inovasi dari Kelompok Keahlian Geofisika Global, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB ini dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) sehingga data hasil rekaman dapat dikirimkan secara nirkabel dan dipantau secara real-time dari jarak jauh.
Dikembangkan Sejak 2020
Geolini dikembangkan oleh Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T. dan Prof. Dr.Sc. Ir. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si. Pengembangan dimulai pada 2020 dan kini telah mencapai Versi 2.
Riset ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap instrumen pemantauan gempa buatan luar negeri sekaligus mendorong kemandirian teknologi instrumentasi geofisika nasional.
Nama Geolini merupakan akronim dari Seismograf Ganesa untuk Bangsa. Nama tersebut memadukan kata “Geo” yang merujuk pada bumi dan “lini”, istilah dalam bahasa Sunda yang berarti gempa.
Ringan dan Bisa Dipasang dengan Cepat
Geolini dirancang sebagai seismometer digital tiga komponen yang ringan dan portabel. Desain tersebut memungkinkan perangkat dipasang dengan cepat, bahkan oleh satu orang.
Perangkat juga memiliki bodi tahan air dengan perlindungan segel O-ring, sehingga dapat digunakan dalam berbagai kondisi lingkungan.
Geolini dapat dimanfaatkan untuk memantau aktivitas tektonik, vulkanik, mikroseismik, hingga kegempaan terinduksi. Teknologi ini juga berpotensi digunakan dalam kegiatan penelitian, pemantauan kebencanaan, panas bumi, serta industri minyak dan gas.
Bisa Pantau Data Secara Real-Time
Salah satu pengembangan penting pada Geolini Versi 2 adalah penerapan teknologi IoT.
Jika versi sebelumnya masih mengandalkan koneksi kabel, Geolini V.2 mampu mengirimkan data secara wireless. Dengan demikian, data seismik dari perangkat yang berada di lapangan dapat dipantau dari lokasi lain tanpa harus mengambil perangkat secara langsung.
Kemampuan tersebut sangat berguna ketika alat dipasang di lokasi yang sulit dijangkau.
Berhasil Rekam Gempa dari Ribuan Kilometer
Keandalan Geolini telah diuji dengan membandingkannya dengan instrumen standar industri di Stasiun Seismograf ITB Kampus Jatinangor.
Dalam pengujian tersebut, Geolini berhasil merekam gelombang gempa magnitudo 5,4 di Pelabuhan Ratu. Alat ini juga mampu merekam gempa magnitudo 6,2 di selatan Mindanao, Filipina, yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi perangkat.
Hasil pengujian menunjukkan Geolini mampu merekam fase gelombang P (primer) dan gelombang S (sekunder) secara konsisten dengan performa yang dinilai setara dengan instrumen bermerek asing.
Selain pengujian di stasiun seismograf, Geolini telah digunakan selama sekitar tiga bulan di lapangan panas bumi serta dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas di Kalimantan.
Menuju Hilirisasi Teknologi Indonesia
Setelah melalui proses pengembangan dan pengujian, Geolini kini mulai memasuki tahap hilirisasi. Perangkat tersebut telah dipasarkan melalui Ganesa Connection, platform pasar digital milik ITB.
Langkah ini diharapkan membuat hasil riset tidak berhenti sebagai purwarupa di laboratorium, tetapi dapat digunakan lebih luas untuk penelitian maupun kebutuhan pemantauan di lapangan.
Pengembangan Geolini menjadi salah satu contoh bagaimana riset perguruan tinggi dapat diarahkan menjadi teknologi kebencanaan buatan dalam negeri, sekaligus memperkuat kemandirian Indonesia dalam menghadapi risiko gempa dan aktivitas geologi.









