Surabaya – Air minum isi ulang menjadi pilihan banyak masyarakat karena harganya relatif terjangkau dan mudah diperoleh. Namun, keamanan air tidak hanya ditentukan oleh statusnya sebagai air isi ulang, melainkan oleh kualitas sumber air, proses pengolahan, sanitasi depot, kondisi galon, hingga cara penyimpanan di rumah.
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Islam Syarifurrahman, mengatakan risiko utama yang perlu diperhatikan adalah kontaminasi mikrobiologis. Air yang awalnya memenuhi persyaratan dapat mengalami penurunan kualitas apabila terjadi kontaminasi selama proses pengolahan, pengisian, maupun penyimpanan.
Waspadai Kontaminasi Bakteri
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah keberadaan Escherichia coli (E. coli) dan kelompok Coliform. Keberadaan bakteri tersebut dapat menunjukkan adanya masalah pada sumber air, proses pengolahan, sanitasi peralatan, higiene operator, maupun penanganan air setelah pengisian.
Kondisi fisik depot juga berpengaruh. Lantai yang tidak kedap air, lingkungan lembap, serta keran pengisian yang bocor dapat meningkatkan potensi pertumbuhan dan penyebaran mikroorganisme.
Meski demikian, Islam menegaskan bahwa air isi ulang tidak otomatis berbahaya. Risiko sangat bergantung pada bagaimana depot mengelola air dan bagaimana konsumen menyimpan serta menggunakan air tersebut setelah dibawa pulang.
Kondisi Galon dan Peralatan Juga Penting
Kebersihan galon menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas air. Galon yang tidak dibersihkan dengan baik, rusak, atau mengalami kontaminasi ketika proses pengisian dapat menjadi media masuknya mikroorganisme.
Selain galon, konsumen juga perlu memperhatikan kebersihan keran, selang, tangki penyimpanan, filter, dan peralatan pengolahan di depot.
Konsumen disarankan menghindari depot yang memiliki keran pengisian bocor. Area di sekitar mulut pipa yang basah dan lembap berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Penyimpanan di Rumah Jangan Diabaikan
Air yang aman ketika keluar dari depot juga dapat mengalami penurunan kualitas setelah sampai di rumah. Kontaminasi dapat terjadi apabila galon diletakkan di tempat yang kotor atau tutup dan kerannya sering disentuh dengan tangan yang tidak bersih.
Karena itu, galon sebaiknya disimpan di tempat yang bersih dan terlindung dari kotoran maupun kontaminan. Air juga sebaiknya tidak disimpan terlalu lama.
Kontaminasi mikrobiologis pada air minum dapat meningkatkan risiko penyakit saluran pencernaan, termasuk diare. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian lebih dalam menjaga keamanan air minum.









