Ngada, Nusa Tenggara Timur – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya pemulihan pendidikan pascagempa yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain memperbaiki sarana dan prasarana sekolah, pemerintah memberikan dukungan psikososial bagi murid dan guru yang terdampak bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Kondisi mental warga sekolah juga perlu mendapatkan perhatian agar murid dan guru dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan lebih tenang.
Murid Masih Mengalami Kecemasan
Berdasarkan rapid assessment yang dilakukan di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, masih ditemukan sejumlah murid yang mengalami kecemasan dan ketakutan akibat gempa susulan.
Ketua Divisi Program Kebencanaan Korps Relawan Bencana Himpunan Psikologi Indonesia (KRESNA HIMPSI), Yuria Ekalitani, menyebut beberapa anak mengalami sulit tidur, takut berada di dalam rumah, tidak berani menutup pintu karena khawatir terjadi gempa susulan, hingga sulit berkonsentrasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana terhadap anak tidak hanya terlihat dari kerusakan bangunan, tetapi juga dapat memengaruhi rasa aman dan kondisi psikologis mereka.
Ada Kegiatan Tenda Gembira
Untuk membantu murid mengelola rasa takut dan kecemasan, HIMPSI bersama Kemendikdasmen menghadirkan kegiatan Tenda Gembira.
Kegiatan tersebut menggunakan aktivitas bermain yang dirancang secara terstruktur. Anak-anak juga diperkenalkan dengan teknik stabilisasi emosi sehingga mereka memiliki cara untuk membantu mengelola perasaan takut dan cemas setelah mengalami bencana.
Pendekatan melalui kegiatan bermain dipilih agar anak dapat memperoleh pengalaman pemulihan dalam suasana yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Guru Juga Mendapat Pendampingan
Dukungan psikososial tidak hanya diberikan kepada murid. Guru dan tenaga kependidikan juga mendapatkan psikoedukasi mengenai dukungan psikologis awal.
HIMPSI memberikan pendampingan melalui kegiatan Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance (SAPA). Kegiatan ini mencakup penyapaan langsung kepada guru terdampak sekaligus asesmen psikososial untuk mengetahui kondisi mereka setelah gempa.
Menurut Yuria, guru juga perlu mendapatkan pelatihan agar mampu memberikan layanan dukungan psikososial kepada murid yang mengalami dampak bencana.
Murid Mulai Merasa Lebih Tenang
Dukungan tersebut mulai dirasakan oleh murid yang mengikuti kegiatan. Felix Axelleon Naweng, salah satu murid korban gempa di Ngada, mengaku kini merasa lebih tenang ketika menceritakan kembali pengalamannya saat gempa.
Ia mengatakan kegiatan pendampingan membuat dirinya lebih fokus dan tenang ketika bercerita mengenai pengalaman tersebut.
Pemulihan Pendidikan Tak Hanya Soal Bangunan
Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemulihan pascabencana dilakukan melalui berbagai pendekatan. Perbaikan fasilitas pendidikan tetap diperlukan, tetapi pemulihan mental murid dan guru juga menjadi bagian penting dari proses mengembalikan kehidupan sekolah setelah bencana.
Karena itu, Kemendikdasmen menggandeng berbagai pihak, termasuk HIMPSI, organisasi sosial, dan perguruan tinggi untuk memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak.
Upaya tersebut diharapkan membantu anak-anak kembali merasa aman, ceria, dan siap melanjutkan pembelajaran setelah menghadapi pengalaman gempa.
Pendidikan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali ruang kelas, tetapi juga membantu membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak.














