Jakarta – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut hujan menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemerintah pun mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan di wilayah yang masih memiliki potensi awan hujan. Menhut mengatakan, upaya ini dilakukan untuk membantu mempercepat penanganan karhutla, baik melalui hujan alami maupun hujan hasil modifikasi cuaca.
Berau Masih Memiliki Bibit Awan Hujan
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Menurut Raja Juli, kawasan tersebut masih memiliki bibit awan hujan yang dapat dioptimalkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
“Cara paling efektif untuk memadamkan karhutla adalah dengan hujan, baik alami maupun hasil modifikasi cuaca.”
OMC dilakukan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang memungkinkan pembentukan hujan. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi cuaca di wilayah sasaran.
OMC Menyasar 7 Provinsi
Operasi modifikasi cuaca untuk membantu pengendalian karhutla mencakup sejumlah wilayah yang rawan kebakaran.
Tujuh provinsi yang menjadi wilayah operasi meliputi:
- Riau
- Sumatera Selatan
- Jambi
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Timur
Operasi tersebut dilakukan secara lintas lembaga dengan melibatkan BNPB, BMKG, TNI AU, BRIN, dan pemerintah daerah.
BMKG Prediksi Hujan di Sejumlah Wilayah
Di sisi lain, BMKG memprakirakan adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah pada 27–29 Agustus 2026.
Pada 27 Agustus, hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, serta sejumlah wilayah Papua.
Sementara pada 28 Agustus, hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Lampung, dan beberapa wilayah Papua.
Pada 29 Agustus, hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Papua Pegunungan, termasuk Jayawijaya, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Nduga, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, dan Yalimo.
Hujan Bantu Padamkan Api, tetapi Tetap Ada Risiko
Hujan memang dapat membantu membasahi vegetasi dan tanah sehingga mengurangi intensitas api. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan pemadaman langsung, pendinginan, patroli, dan pencegahan munculnya titik api baru.
Kementerian Kehutanan sebelumnya juga memperkuat operasi terpadu dengan mengerahkan ribuan personel gabungan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat luas areal karhutla Indonesia periode Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare, sehingga pengendalian kebakaran masih menjadi pekerjaan besar pemerintah.
Selain membantu memadamkan api, pemerintah juga perlu terus memperkuat pencegahan, terutama di wilayah yang kondisi lahannya kering dan memiliki risiko kebakaran tinggi.
Dengan kombinasi hujan alami, modifikasi cuaca, pemadaman darat, serta pengawasan di lapangan, pemerintah berharap karhutla dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.









