JAKARTA – Kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) menjadi salah satu kemampuan penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang mengendalikan emosi, EQ juga berhubungan dengan kemampuan memahami orang lain, membangun hubungan, menghadapi konflik, serta mengambil keputusan dengan lebih matang.
Kabar baiknya, kecerdasan emosional bukan kemampuan yang hanya dimiliki sejak lahir. EQ dapat terus dilatih dan dikembangkan, termasuk melalui kebiasaan sederhana seperti membaca karya sastra.
Psikolog Jonice Webb PhD menjelaskan bahwa kecerdasan emosional menggambarkan kemampuan seseorang dalam menyadari, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi. Kemampuan tersebut juga mencakup cara seseorang menangani hubungan dengan orang lain dan menghadapi konflik secara penuh empati.
Sementara itu, Margaret Andrews, mantan Dekan Harvard University’s Division of Continuing Education dan Direktur Eksekutif MIT Sloan School of Management, menilai kecerdasan emosional penting untuk membangun hubungan sekaligus mendukung kesuksesan dalam karier.
Mengapa EQ Penting untuk Kesuksesan?
Seseorang dengan kecerdasan emosional yang baik umumnya lebih mampu memahami apa yang sedang dirasakan dirinya maupun orang lain.
Kemampuan tersebut dapat membantu seseorang ketika menghadapi situasi sulit, bekerja dalam tim, menyelesaikan konflik, hingga berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
Menurut Andrews, sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara tingkat EQ yang lebih tinggi dengan inovasi dan kepuasan kerja. Karena itu, kecerdasan emosional menjadi salah satu keterampilan yang dapat memberikan manfaat dalam perjalanan karier.
Lantas, bagaimana cara meningkatkan EQ?
1. Kenali dan Beri Nama pada Emosi
Langkah pertama untuk meningkatkan kecerdasan emosional adalah mengenali apa yang sedang dirasakan.
Ketika menghadapi suatu masalah, seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri mengenai emosi yang sedang muncul.
Misalnya:
- Apa yang sedang saya rasakan?
- Mengapa emosi tersebut muncul?
- Apa yang biasanya saya lakukan ketika berada dalam situasi seperti ini?
- Apakah saya perlu langsung bereaksi atau sebaiknya berhenti sejenak?
Mengenali emosi membuat seseorang memiliki kesempatan untuk mengendalikan responsnya. Dengan demikian, keputusan yang diambil tidak semata-mata didorong oleh reaksi spontan.
Webb juga menekankan pentingnya membiasakan diri memberi nama pada perasaan yang muncul. Semakin seseorang mampu mengenali emosinya, semakin mudah pula baginya memahami dan mengelola perasaan tersebut.
2. Minta Pendapat dari Orang Lain
Cara berikutnya adalah meminta tanggapan dari orang yang dipercaya.
Teman, keluarga, rekan kerja, maupun atasan dapat memberikan perspektif mengenai bagaimana seseorang bersikap ketika menghadapi masalah.
Pertanyaan yang dapat diajukan misalnya apakah kita sudah cukup mampu berempati, bagaimana cara kita menangani konflik, atau bagaimana respons kita ketika menghadapi situasi yang sulit.
Masukan dari orang lain mungkin tidak selalu menyenangkan untuk didengar. Namun, kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana dari kecerdasan emosional yang masih perlu diperbaiki.
3. Ternyata Membaca Karya Sastra Bisa Meningkatkan EQ
Salah satu cara menarik untuk melatih kecerdasan emosional adalah membaca karya sastra dengan karakter yang kompleks.
Saat membaca cerita, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang karakter yang berbeda. Pembaca dapat mencoba memahami apa yang dipikirkan tokoh, apa yang memotivasinya, serta mengapa tokoh tersebut mengambil suatu tindakan.
Proses tersebut dapat membantu melatih kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain.
Penelitian Maya Djikic dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Scientific Study of Literature pada 2013 juga membahas hubungan antara membaca karya sastra dan empati.
Tidak hanya buku. Film dan tayangan televisi juga dapat dimanfaatkan untuk latihan empati.
Caranya sederhana. Ketika menyaksikan sebuah film, coba perhatikan perasaan yang dialami karakter. Setelah itu, pikirkan alasan di balik perilakunya.
Kebiasaan tersebut kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika mencoba memahami perasaan orang-orang di sekitar.
4. Latih Kemampuan Berkomunikasi secara Asertif
Meningkatkan EQ juga berkaitan erat dengan kemampuan berkomunikasi secara asertif.
Asertif bukan berarti berbicara dengan keras atau memaksakan kehendak. Sikap asertif berarti mampu menyampaikan apa yang dirasakan atau dibutuhkan secara jujur, tetapi tetap mempertimbangkan perasaan orang lain.
Sebelum menyampaikan sesuatu, seseorang perlu memahami terlebih dahulu emosinya sendiri.
Setelah itu, perasaan dan keinginan dapat disampaikan menggunakan kata-kata yang tidak menyerang atau membuat lawan bicara langsung bersikap defensif.
Dengan cara tersebut, seseorang tetap dapat mempertahankan pendiriannya tanpa mengabaikan empati terhadap orang lain.
EQ Bisa Dibangun dari Kebiasaan Sehari-hari
Kecerdasan emosional tidak harus dilatih melalui metode yang rumit. Banyak hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menjadi latihan.
Mulai dari mengenali perasaan sebelum bereaksi, menerima kritik, memahami sudut pandang orang lain, hingga belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang baik.
Andrews juga menyebut bahwa kecerdasan emosional dapat berkembang dalam sebuah lingkungan ketika orang-orang di dalamnya memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.
Artinya, seseorang tidak hanya dapat meningkatkan EQ dirinya sendiri, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara emosional dengan memberikan teladan dalam berkomunikasi dan menghadapi perbedaan pendapat.
Kesimpulan
Meningkatkan EQ ternyata bisa dilakukan melalui kebiasaan sederhana. Mulai dari mengenali emosi, meminta masukan dari orang lain, membaca karya sastra, hingga berlatih berkomunikasi secara asertif.
Membaca karya sastra menjadi salah satu cara menarik karena pembaca diajak memahami karakter, pikiran, motivasi, dan perasaan orang lain. Proses tersebut dapat membantu melatih empati dan kesadaran sosial.
Pada akhirnya, kecerdasan emosional bukan sesuatu yang berhenti berkembang setelah seseorang dewasa. EQ dapat terus dilatih melalui pengalaman dan kebiasaan sehari-hari, sehingga kemampuan memahami diri sendiri maupun orang lain menjadi semakin baik.











