NTT – Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga mengubah aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah. Meski ruang kelas mengalami kerusakan, para guru tetap berupaya memastikan anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk belajar.
Salah satunya terlihat di SD Katolik Doki. Pascagempa, guru dan pihak sekolah terus mendampingi murid agar pembelajaran tetap berjalan meskipun harus dilakukan dengan kondisi dan tempat yang berbeda dari biasanya.
Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kembali gedung sekolah. Ada proses panjang untuk mengembalikan rasa aman, rutinitas, dan semangat belajar anak-anak yang ikut terdampak bencana.
Ruang Kelas Rusak, Belajar Berpindah ke Tempat yang Lebih Aman
Kerusakan akibat gempa membuat kegiatan belajar tidak dapat sepenuhnya dilakukan di ruang kelas seperti sebelumnya.
Sekolah kemudian menyesuaikan lokasi pembelajaran dengan kondisi yang tersedia. Kegiatan belajar sempat dilakukan di posko pengungsian, sebelum sekolah bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun tiga posko belajar sederhana dari bambu dan terpal.
Perubahan tempat belajar tersebut tentu bukan hal mudah bagi guru maupun murid. Lingkungan yang sebelumnya identik dengan ruang kelas, meja, kursi, dan papan tulis harus digantikan dengan fasilitas sederhana.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan aktivitas pendidikan.
Guru tetap hadir untuk mendampingi murid dan membantu mereka kembali menjalani rutinitas belajar setelah mengalami situasi yang menegangkan akibat gempa.
Rasa Aman Anak Jadi Bagian Penting Pemulihan
Setelah bencana, kebutuhan anak bukan hanya kembali belajar membaca, berhitung, atau mengikuti pelajaran sesuai kurikulum.
Rasa aman dan kondisi psikologis anak juga menjadi perhatian.
Kemendikdasmen menyebut dukungan psikososial menjadi salah satu bagian penting dalam pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana. Pendekatan tersebut diperlukan karena pengalaman bencana dapat memberikan dampak emosional kepada murid maupun guru.
Di SD Katolik Doki, dukungan psikososial dan pemulihan trauma dilakukan bersama relawan. Pendampingan tersebut membantu anak-anak perlahan kembali beraktivitas, lebih tenang, dan berani mengikuti pembelajaran.
Dengan demikian, kegiatan belajar pascagempa tidak semata-mata mengejar materi akademik. Pemulihan kondisi emosional anak juga menjadi bagian dari proses agar mereka dapat kembali belajar dengan lebih nyaman.
Antusiasme Murid Mulai Kembali
Perlahan, kondisi anak-anak mulai menunjukkan perkembangan positif.
Kepala SD Katolik Doki, Maria Sefiriana Sebo, menyampaikan bahwa antusiasme anak-anak mulai terlihat. Mereka juga mulai tidak takut atau panik seperti sebelumnya.
Perubahan tersebut menjadi kabar baik bagi sekolah.
Setelah mengalami bencana, anak-anak membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman. Kehadiran guru, dukungan keluarga, pendampingan psikososial, serta adanya tempat belajar yang lebih layak membantu proses tersebut berlangsung secara bertahap.
Bagi para guru, kembalinya semangat anak untuk belajar menjadi salah satu tanda bahwa proses pemulihan mulai berjalan.
Pemulihan Pendidikan NTT Terus Berjalan
Kondisi SD Katolik Doki menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk memulihkan pendidikan di wilayah NTT setelah gempa.
Data Kemendikdasmen per 4 September 2026 menunjukkan sebanyak 1.931 satuan pendidikan dan 171.476 murid di NTT telah kembali melaksanakan pembelajaran.
Dari jumlah tersebut, 1.504 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran di sekolah darurat, 392 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sedangkan 35 satuan pendidikan telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan pendidikan terus bergerak, meskipun sebagian sekolah masih harus menggunakan fasilitas sementara.
Pemerintah Siapkan Ribuan Ruang Kelas Darurat
Untuk membantu sekolah yang belum dapat menggunakan bangunan permanen, Kemendikdasmen berupaya memenuhi kebutuhan 3.763 unit ruang kelas darurat.
Selain menyediakan tempat belajar sementara, pemerintah juga melakukan pendampingan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah yang masih menggunakan fasilitas darurat.
Pemulihan juga mencakup sejumlah aspek lain, seperti perbaikan sanitasi, pendampingan psikososial, asesmen kelayakan bangunan sekolah, serta pendataan kebutuhan revitalisasi.
Langkah tersebut penting karena sekolah tidak cukup hanya memiliki tempat untuk belajar. Lingkungan pendidikan juga harus aman dan mendukung kebutuhan dasar murid maupun guru.
Pembelajaran Harus Menyesuaikan Kondisi
Kemendikdasmen sebelumnya menegaskan bahwa pembelajaran di wilayah terdampak bencana tidak harus mengikuti pola seperti kondisi normal.
Sekolah diberikan ruang untuk menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan guru, serta situasi lingkungan sekitar.
Materi pembelajaran dapat diprioritaskan pada hal-hal yang esensial dan relevan dengan kondisi anak.
Selain literasi dan numerasi dasar, keselamatan diri, dukungan psikososial, dan pemulihan rutinitas belajar menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Dengan pendekatan fleksibel tersebut, proses pendidikan tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Guru Menjadi Penggerak agar Anak Tidak Kehilangan Rutinitas
Dalam situasi bencana, peran guru menjadi sangat penting.
Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi sosok yang membantu anak kembali menemukan rutinitas.
Kehadiran guru dapat memberikan rasa bahwa sekolah tetap ada meskipun bangunan mengalami kerusakan.
Bagi anak yang baru mengalami bencana, kembali bertemu teman dan guru dalam kegiatan belajar juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.
Karena itu, semangat guru SD Katolik Doki menjadi contoh bahwa keberlangsungan pendidikan sangat bergantung pada kemampuan sekolah beradaptasi dengan keadaan.
Harapan untuk Sekolah yang Rusak
Kepala SD Katolik Doki juga berharap ada tindak lanjut untuk penanganan bangunan sekolah yang terdampak.
Dua ruang kelas sekolah tersebut dilaporkan roboh, sementara empat ruang lainnya mengalami kerusakan berat akibat gempa. Sekolah berharap survei langsung dapat dilakukan agar penanganan bangunan sesuai dengan kondisi terbaru.
Harapan tersebut menjadi penting karena ruang belajar darurat pada dasarnya merupakan solusi sementara.
Dalam jangka panjang, sekolah membutuhkan fasilitas yang aman dan layak agar kegiatan belajar dapat kembali berlangsung secara normal.
Pendidikan Tetap Berjalan di Tengah Bencana
Kisah SD Katolik Doki memperlihatkan bahwa bencana memang dapat mengubah banyak hal dalam dunia pendidikan, tetapi tidak harus menghentikan hak anak untuk mendapatkan pembelajaran.
Ketika ruang kelas rusak, tempat belajar dapat dipindahkan. Ketika fasilitas terbatas, metode pembelajaran dapat disesuaikan.
Yang paling penting adalah memastikan keselamatan, menjaga kondisi psikologis anak, dan menghadirkan kembali rutinitas belajar secara bertahap.
Semangat guru dan murid di SD Katolik Doki menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat sekolah bangkit setelah bencana.
Kesimpulan
Gempa bumi di NTT menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pendidikan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat guru SD Katolik Doki untuk tetap mendampingi murid dan memastikan pembelajaran berjalan.
Kegiatan belajar sempat berpindah ke posko pengungsian sebelum sekolah bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun tiga posko belajar sederhana dari bambu dan terpal.
Selain pembelajaran akademik, pemulihan psikososial dan rasa aman anak menjadi bagian penting dalam proses bangkit pascagempa.
Secara lebih luas, hingga 4 September 2026, sebanyak 1.931 satuan pendidikan dan 171.476 murid di NTT telah kembali belajar, dengan sebagian masih menggunakan sekolah darurat atau PJJ.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ketika bencana merusak ruang kelas, semangat guru dan murid dapat menjadi kekuatan untuk menjaga pendidikan tetap berjalan.











