JAKARTA – Tiga minggu setelah gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), proses pemulihan layanan pendidikan mulai menunjukkan perkembangan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 171.476 siswa telah kembali mengikuti proses pembelajaran.
Jumlah tersebut tersebar di 1.931 satuan pendidikan yang terdampak bencana. Meski kegiatan belajar sudah kembali berjalan, sebagian besar sekolah belum dapat melaksanakan pembelajaran dalam kondisi normal.
Kemendikdasmen masih mengandalkan ruang belajar darurat dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan sambil menunggu kondisi sekolah benar-benar aman.
1.931 Sekolah Mulai Kembali Melaksanakan Pembelajaran
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemulihan layanan pendidikan pascagempa NTT terus menunjukkan perkembangan positif.
Dari 1.931 satuan pendidikan yang telah kembali melaksanakan pembelajaran, sebanyak:
- 1.504 satuan pendidikan menggunakan sekolah atau ruang belajar darurat.
- 392 satuan pendidikan menerapkan PJJ.
- 35 satuan pendidikan sudah kembali melakukan pembelajaran tatap muka.
Data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan belajar memang sudah kembali berlangsung, tetapi sebagian besar sekolah masih berada dalam tahap transisi.
Kondisi ini dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan murid dan guru. Sekolah yang bangunannya mengalami kerusakan tidak langsung digunakan kembali sebelum dipastikan aman.
100 Tenda Kelas Darurat Sudah Didistribusikan
Untuk menjaga pembelajaran tetap berlangsung, Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat hingga 3 September 2026.
Tenda tersebut dikirim ke tujuh kabupaten terdampak di Pulau Flores, yaitu:
| Kabupaten | Jumlah Tenda |
|---|---|
| Manggarai Barat | 8 |
| Manggarai | 28 |
| Manggarai Timur | 27 |
| Nagekeo | 17 |
| Ngada | 7 |
| Sikka | 8 |
| Ende | 5 |
| Total | 100 |
Ruang belajar sementara tersebut menjadi salah satu solusi agar siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran tanpa harus menggunakan bangunan sekolah yang belum dinyatakan aman.
Kebutuhan Mencapai 3.763 Ruang Kelas Darurat
Meskipun 100 tenda sudah disalurkan, kebutuhan ruang belajar sementara masih jauh lebih besar.
Kemendikdasmen menargetkan pemenuhan 3.763 unit ruang kelas darurat untuk mendukung sekolah yang belum dapat kembali menggunakan gedung permanennya.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran di 1.504 sekolah yang saat ini masih menggunakan fasilitas darurat.
Artinya, tahap pemulihan tidak hanya berfokus pada menyediakan tempat agar siswa bisa belajar, tetapi juga memastikan tempat tersebut dapat mendukung proses pembelajaran secara layak.
Bantuan Belajar Juga Disalurkan
Selain menyediakan ruang belajar sementara, Kemendikdasmen menyalurkan berbagai bantuan untuk siswa dan keluarga terdampak.
Hingga saat ini, bantuan yang telah disalurkan meliputi:
- 5.500 school kit
- 500 paket sembako
- 9.500 bingkisan anak
- 1.500 family kit
- 9.500 buku bacaan
Bantuan tersebut didistribusikan ke Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mendukung anak-anak agar tetap memiliki perlengkapan untuk belajar di tengah kondisi pascabencana.
Rp1,1 Miliar untuk Pembersihan Sekolah Rusak
Pemulihan juga dilakukan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal senilai Rp1,1 miliar untuk mendukung pembersihan lokasi sekolah yang terdampak kerusakan berat.
Selain itu, pemerintah memberikan santunan senilai Rp47 juta kepada murid dan guru yang meninggal dunia maupun mengalami cedera akibat gempa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap dampak bencana yang tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga memengaruhi keselamatan dan kehidupan warga sekolah.
822 Sekolah Akan Mendapat Pendampingan Psikososial
Pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan bangunan dan fasilitas belajar.
Kondisi psikologis murid dan guru juga menjadi perhatian. Gempa dapat meninggalkan rasa takut, cemas, maupun trauma, terutama bagi anak-anak yang mengalami langsung guncangan dan kerusakan lingkungan tempat tinggalnya.
Karena itu, Kemendikdasmen menyiapkan pendampingan psikososial bagi 822 sekolah.
Pendampingan tersebut ditujukan untuk membantu mengembalikan rasa aman dan nyaman warga sekolah sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitas pendidikan secara bertahap.
Toilet Sekolah Juga Akan Diperbaiki
Fasilitas sanitasi menjadi bagian lain dari pemulihan.
Kemendikdasmen menyiapkan perbaikan darurat terhadap 2.294 unit toilet di sekolah terdampak.
Ketersediaan toilet dan sanitasi yang layak menjadi kebutuhan penting dalam proses pembelajaran, terutama ketika banyak siswa harus belajar di fasilitas sementara.
Dengan perbaikan tersebut, pemerintah ingin memastikan ruang pendidikan darurat tidak hanya dapat digunakan untuk belajar, tetapi juga memenuhi kebutuhan dasar kesehatan dan kebersihan warga sekolah.
Bangunan Sekolah Akan Diasesmen Sebelum Digunakan
Pemerintah juga tidak ingin sekolah kembali digunakan secara terburu-buru.
Kemendikdasmen akan melakukan asesmen teknis terhadap kelayakan bangunan sekolah terdampak.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan bangunan yang kembali digunakan tidak membahayakan murid, guru, maupun tenaga kependidikan.
Sebelumnya, Kemendikdasmen telah menginstruksikan satuan pendidikan untuk menghentikan sementara pembelajaran di ruang kelas yang rusak dan memindahkan kegiatan ke ruang aman, tenda belajar, atau menerapkan pembelajaran dari rumah sesuai kondisi daerah.
Pemulihan Pendidikan Harus Tetap Mengutamakan Keselamatan
Sejak awal penanganan gempa, Kemendikdasmen menempatkan keselamatan guru dan murid sebagai prioritas.
Dalam kondisi darurat, pembelajaran tidak harus dilakukan dengan pola yang sama seperti saat sekolah normal. Satuan pendidikan dapat menyesuaikan metode belajar berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana, kondisi murid dan guru, serta situasi lingkungan.
Materi pembelajaran juga dapat diprioritaskan pada hal-hal yang esensial dan relevan dengan kondisi anak. Dukungan psikososial, keselamatan diri, literasi dan numerasi dasar, serta pemulihan rutinitas belajar menjadi bagian penting selama masa darurat.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan pendidikan dapat tetap berlangsung tanpa mengorbankan keselamatan warga sekolah.
Dari 253 Sekolah Terdampak hingga Ribuan Satuan Pendidikan Pulih
Data mengenai dampak gempa terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan.
Pada 16 Agustus 2026, Kemendikdasmen mencatat terdapat 253 satuan pendidikan terdampak yang telah terdata di tujuh kabupaten. Angka tersebut mencakup satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, SKB, serta SMA, SMK, dan SLB.
Seiring proses asesmen dan pembaruan data, layanan pendidikan yang kembali berjalan kini tercatat mencapai 1.931 satuan pendidikan dengan 171.476 murid.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pendataan dan cakupan pemulihan terus berkembang setelah tim pemerintah melakukan verifikasi di lapangan.
SKB Aimere Mulai Dipersiapkan untuk Direvitalisasi
Salah satu contoh sekolah terdampak adalah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Aimere di Kabupaten Ngada.
Sejumlah bangunan di SKB tersebut mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa dan gempa susulan. Beberapa ruang kelas, aula, serta laboratorium komputer terdampak sehingga kegiatan belajar dan pelatihan menjadi terganggu.
Untuk membantu pemulihan, Kemendikdasmen menyiapkan program revitalisasi dengan nilai bantuan sekitar Rp547 juta.
Sementara menunggu perbaikan, kegiatan pendidikan tetap diupayakan berlangsung dengan memanfaatkan tenda darurat.
Pendidikan Diharapkan Segera Kembali Normal
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal pemulihan layanan pendidikan di NTT.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan ruang belajar darurat, peningkatan mutu layanan pendidikan, pendampingan psikososial, perbaikan sanitasi, serta asesmen terhadap bangunan sekolah.
Pemerintah juga terus melakukan pendataan kebutuhan revitalisasi sekolah yang terdampak.
Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat siswa kembali belajar, tetapi memastikan sekolah kembali menjadi ruang yang aman, sehat, dan nyaman bagi anak-anak NTT.
Kesimpulan
Tiga minggu setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah NTT, sebanyak 171.476 siswa di 1.931 satuan pendidikan telah kembali mengikuti proses pembelajaran.
Namun, kondisi belum sepenuhnya normal. Sebanyak 1.504 sekolah masih menggunakan fasilitas darurat, 392 sekolah menerapkan PJJ, dan baru 35 sekolah yang telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke tujuh kabupaten. Pemerintah juga menargetkan pemenuhan 3.763 ruang kelas darurat, pendampingan psikososial untuk 822 sekolah, serta perbaikan 2.294 toilet.
Selain itu, berbagai bantuan berupa school kit, buku, family kit, bingkisan anak, dan sembako telah disalurkan. Pemerintah juga melakukan asesmen teknis terhadap bangunan sekolah untuk memastikan fasilitas yang kembali digunakan benar-benar aman.
Pemulihan pendidikan NTT masih membutuhkan waktu. Namun, kembalinya lebih dari 171 ribu siswa ke aktivitas belajar menjadi tanda bahwa layanan pendidikan mulai bangkit setelah bencana.






