Kemunculan oarfish, ikan laut dalam yang populer disebut “ikan kiamat”, kembali menjadi perhatian setelah seekor ikan sepanjang sekitar empat meter ditemukan mati terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada 25 Agustus 2026. Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya bencana alam.
Julukan “ikan kiamat” muncul karena oarfish dalam berbagai cerita rakyat, terutama di Jepang, kerap dikaitkan dengan gempa bumi dan tsunami. Ikan ini memang jarang terlihat karena habitatnya berada di laut dalam, sehingga kemunculannya di permukaan sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Namun, benarkah kemunculan oarfish dapat menjadi tanda akan terjadinya bencana?
Sejauh penelitian ilmiah yang ada, belum terdapat bukti kuat yang menunjukkan hubungan langsung antara kemunculan oarfish dan gempa bumi atau tsunami. Studi yang diterbitkan pada 2019 dalam Bulletin of the Seismological Society of America tidak menemukan korelasi yang mendukung anggapan bahwa penampakan oarfish dapat digunakan sebagai indikator gempa.
Kemunculan ikan tersebut justru dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan ikan maupun perubahan lingkungan laut. Ahli iktiologi dari Kagoshima University, Hiroyuki Motomura, menyebut kemungkinan hubungan kemunculan oarfish lebih berkaitan dengan kondisi kesehatan ikan daripada gempa yang akan terjadi.
Oarfish biasanya hidup di kedalaman ratusan hingga lebih dari seribu meter. Ketika ikan laut dalam ini berada di permukaan, sejumlah faktor seperti kondisi fisik yang memburuk, sakit, kehilangan arah, atau perubahan kondisi laut dapat menjadi kemungkinan penyebabnya.
Kasus di Lombok juga sempat dikaitkan dengan gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB menyebut perubahan suhu perairan sebagai salah satu kemungkinan penyebab kemunculan oarfish, tetapi menegaskan bahwa anggapan mengenai ikan tersebut sebagai pertanda bencana belum terbukti secara ilmiah. Ia juga mendorong penelitian lebih lanjut oleh akademisi dan BRIN.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu langsung menganggap kemunculan oarfish sebagai tanda bahwa gempa atau tsunami akan segera terjadi. Oarfish memang merupakan fenomena laut yang menarik dan langka, tetapi hingga kini belum dapat dijadikan alat untuk memprediksi bencana alam.
Informasi mengenai potensi gempa dan tsunami sebaiknya tetap mengacu pada pemantauan serta peringatan resmi dari lembaga yang berwenang.
Jadi, “ikan kiamat” lebih tepat dipahami sebagai julukan yang lahir dari cerita dan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai alat prediksi bencana yang telah terbukti secara ilmiah.c









