Abu vulkanik akibat erupsi gunung api ternyata tidak hanya berdampak pada daratan dan kesehatan manusia. Material tersebut juga dapat masuk ke sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, hingga kolam budidaya ikan, sehingga berpotensi mengganggu kualitas air dan kehidupan di dalamnya.
Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof. Etty Riani, menjelaskan bahwa tingkat risiko abu vulkanik terhadap sumber air dipengaruhi sejumlah faktor, seperti ketebalan dan komposisi abu, jarak dari gunung api, volume air, serta kondisi pH dan alkalinitas.
Air Jernih Belum Tentu Aman
Ketika abu vulkanik masuk ke dalam air, dampak awal yang dapat terlihat adalah meningkatnya kekeruhan dan padatan tersuspensi. Partikel abu yang sangat halus juga dapat bertahan cukup lama di dalam air, menyumbat saringan, merusak pompa, serta mengurangi efektivitas proses desinfeksi.
Abu vulkanik mengandung berbagai mineral yang berpotensi melepaskan zat seperti sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Jika abu masuk dalam jumlah besar, pemeriksaan terhadap unsur toksik seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri juga diperlukan.
Karena itu, masyarakat tidak boleh beranggapan bahwa air yang sudah terlihat jernih otomatis aman digunakan. Abu yang mengendap masih dapat menyisakan unsur terlarut sehingga air yang terdampak sebaiknya diperiksa dan diolah terlebih dahulu.
Bahkan, merebus air bukan solusi untuk menghilangkan seluruh kontaminan akibat abu vulkanik. Perebusan memang dapat membunuh mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan abu halus, fluorida, garam terlarut, maupun logam berat. Penguapan juga berpotensi membuat sebagian bahan kimia terlarut menjadi lebih pekat.
Ikan Juga Bisa Terdampak
Dampak abu vulkanik juga dapat dirasakan oleh ikan. Partikel abu dapat menempel pada insang, menyebabkan peradangan, menghambat pertukaran oksigen, dan memicu gangguan pernapasan.
Jika paparan berlangsung dalam konsentrasi tinggi, ikan dapat mengalami gangguan fisiologis, kerusakan jaringan, perubahan perilaku, pertumbuhan yang terhambat, bahkan kematian. Risiko tersebut terutama tinggi pada kolam budidaya yang kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki pergantian air terbatas.
Kondisi tersebut dapat semakin parah apabila kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) menurun. Perubahan pH secara tiba-tiba serta tersumbatnya aerator dan pompa akibat abu juga dapat memperburuk kondisi kolam.
Bagaimana Melindungi Air dan Ikan?
Prof. Etty menyarankan masyarakat untuk menutup sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air agar tidak kemasukan abu. Air hujan pertama setelah erupsi juga sebaiknya tidak ditampung. Atap dan talang perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum kembali digunakan.
Masyarakat juga diimbau tidak membuang abu vulkanik ke selokan, sungai, maupun kolam, karena dapat memperluas pencemaran.
Untuk kebutuhan minum dan memasak, masyarakat di wilayah terdampak disarankan menggunakan air kemasan atau pasokan air resmi hingga kondisi sumber air dipastikan aman.
Sementara bagi pembudi daya ikan, kolam dapat ditutup sebagian menggunakan terpal dengan tetap memastikan pertukaran udara tidak terganggu. Aerasi perlu ditingkatkan dan kondisi DO, pH, kekeruhan, suhu, serta perilaku ikan dipantau secara berkala.
Jika ikan mulai terlihat megap-megap atau kehilangan keseimbangan, langkah penyelamatan perlu segera dilakukan dan air pengganti harus dipastikan aman.
Meski demikian, dampak abu vulkanik tidak selalu sama di setiap perairan. Untuk ekosistem laut, pakar IPB lainnya menjelaskan bahwa abu vulkanik dalam jumlah tertentu bahkan dapat membawa mikronutrien seperti silika dan besi. Dampaknya sangat bergantung pada konsentrasi, sebaran, arus, gelombang, dan kondisi perairan.
Jadi, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori air. Dalam jumlah dan kondisi tertentu, material ini dapat mengubah kualitas air dan mengganggu kehidupan ikan. Karena itu, perlindungan sumber air dan pemantauan kondisi kolam menjadi langkah penting setelah terjadi hujan abu vulkanik.









