Jakarta — Pemenuhan gizi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) mendorong penguatan kebijakan gizi bagi murid yang disusun berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi di lapangan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Governing Board Meeting (GBM) ke-16 SEAMEO RECFON yang berlangsung di Jakarta pada 9 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, SEAMEO RECFON meluncurkan tiga policy brief berbasis bukti untuk mendukung kesehatan, gizi, dan kualitas pembelajaran murid di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara.
Gizi Berpengaruh terhadap Proses Belajar
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menegaskan bahwa pemenuhan gizi yang berkualitas merupakan fondasi penting bagi keberhasilan pendidikan anak.
Menurutnya, sekolah yang baik, guru profesional, dan kurikulum yang sesuai belum cukup apabila murid datang ke kelas dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi. Kondisi tersebut dapat membuat proses pembelajaran tidak berjalan secara optimal.
Karena itu, persoalan gizi perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Anak yang sehat dan memperoleh asupan gizi memadai diharapkan lebih siap mengikuti pembelajaran dan mengembangkan potensinya.
Riset Temukan Kesenjangan Asupan Gizi Mikro
Salah satu policy brief yang diluncurkan membahas penerapan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) dalam kebijakan gizi sekolah.
Penelitian tersebut melibatkan 4.219 murid berusia 7–18 tahun di 12 kabupaten/kota dari 12 provinsi. Peneliti menggunakan perangkat analisis WHO Optifood untuk melihat kebutuhan dan kesenjangan asupan zat gizi mikro.
Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan asupan beberapa zat gizi mikro. Kesenjangan asupan folat mencapai 100 persen, sedangkan kalsium mencapai 78 persen dan vitamin A sebesar 25 persen. Selain itu, ditemukan pula persoalan pada asupan vitamin C dan zinc.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan gizi murid dapat berbeda antarwilayah sehingga penyusunan menu sekolah perlu mempertimbangkan kondisi dan potensi pangan lokal.
Disusun Siklus Menu Berbasis Pangan Lokal
Hasil penelitian kemudian diterjemahkan menjadi siklus menu selama tujuh hari yang menggunakan bahan pangan dan kuliner lokal.
Panduan tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta sekolah dalam menyusun menu lokal untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penelitian dilakukan sebelum program MBG berjalan. Karena itu, hasilnya juga memberikan gambaran mengenai variasi masalah gizi mikro di berbagai daerah serta pentingnya menyesuaikan menu dengan ketersediaan pangan lokal.
MBG Jadi Peluang Penguatan Edukasi Gizi
Kemendikdasmen melihat pelaksanaan MBG sebagai peluang untuk tidak hanya menyediakan makanan bagi murid, tetapi juga mengintegrasikan edukasi gizi, keamanan pangan, dan kebiasaan hidup sehat.
Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 60 juta murid pada 2027. Dengan cakupan yang besar, pelaksanaan MBG dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kebiasaan makan sehat sejak usia sekolah.
Pendekatan tersebut juga dapat membantu murid memahami pentingnya memilih makanan bergizi dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Anemia pada Murid Juga Perlu Dideteksi
Selain kekurangan zat gizi mikro, anemia menjadi perhatian SEAMEO RECFON.
Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Brian Sri Prahastuti menekankan pentingnya mendeteksi akar penyebab anemia secara menyeluruh. Kondisi anemia berkaitan dengan berkurangnya suplai oksigen ke sel-sel otak yang dapat memengaruhi kemampuan murid dalam menyerap pelajaran.
Pemeriksaan yang lebih komprehensif diharapkan dapat membantu menghasilkan rekomendasi intervensi yang lebih tepat sasaran.
Perkuat Data untuk Atasi Stunting
Policy brief lainnya berfokus pada penguatan sistem biomarker zat gizi mikro dalam Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2026.
SEAMEO RECFON mendorong pemanfaatan teknologi multiplex immunoassay serta peningkatan kapasitas laboratorium. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan akurasi data sekaligus membuat evaluasi kebijakan percepatan penurunan stunting lebih efektif dan efisien.
Sebelumnya, SSGI 2024 mencatat penurunan prevalensi stunting balita dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen.
Kerja Sama Gizi Diperluas ke Tingkat ASEAN
SEAMEO RECFON juga mendorong penguatan program gizi sekolah di tingkat Asia Tenggara melalui penjaminan mutu dan pemantauan regional.
Melalui program Nutrition Goes to School, SEAMEO RECFON telah mendampingi sejumlah negara mitra, termasuk Laos dan Kamboja. Di Indonesia, pendekatan tersebut diselaraskan dengan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), khususnya kebiasaan makan sehat dan bergizi.
Kebijakan Gizi Harus Sesuai Kebutuhan Murid
Peluncuran tiga policy brief tersebut memperkuat posisi SEAMEO RECFON sebagai pusat keunggulan dan pusat pengetahuan regional di bidang pangan dan gizi di Asia Tenggara.
Melalui kerja sama antara penelitian, kebijakan, dan praktik di sekolah, Kemendikdasmen berharap kebijakan gizi dapat semakin tepat sasaran. Pemanfaatan pangan lokal, edukasi gizi, serta pemantauan kondisi kesehatan murid menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.









