Yogyakarta — Penguatan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan hasil asesmen, tetapi juga dengan mengubah cara murid belajar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pembelajaran yang memperkuat literasi, numerasi, berpikir kritis, serta kemampuan memecahkan masalah melalui pendekatan berbasis kompetensi PISA.
Praktik tersebut terlihat di SMPN 9 Yogyakarta dan SMAN 5 Yogyakarta. Kedua sekolah mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran yang tidak sekadar menekankan hafalan, tetapi mendorong siswa menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.
SMPN 9 Yogyakarta Perkuat Literasi dan Numerasi
SMPN 9 Yogyakarta menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang secara khusus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan murid sesuai kompetensi yang diukur dalam PISA.
Salah satu penerapannya adalah memasukkan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam asesmen harian. Sekolah juga memperkuat pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diminta mengingat materi yang telah dipelajari. Mereka didorong untuk menganalisis persoalan, mencari solusi, serta menggunakan kemampuan logis dan matematis dalam memahami masalah di lingkungan sekitar.
Pola Pikir Siswa Ikut Berubah
Kepala SMPN 9 Yogyakarta Agus Margono menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kompetensi PISA memberikan perubahan terhadap pola pikir dan daya kritis murid.
Siswa mulai terbiasa menganalisis persoalan sosial maupun lingkungan menggunakan pendekatan yang lebih logis dan matematis. Program tersebut juga disebut berdampak pada peningkatan capaian sekolah dalam indikator literasi dan numerasi Asesmen Nasional, serta bertambahnya siswa yang meraih prestasi dalam kompetisi sains dan teknologi.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kompetensi dapat diterapkan melalui kegiatan sehari-hari di kelas, bukan hanya melalui persiapan menghadapi tes PISA.
Guru Juga Diperkuat dengan Pelatihan
Transformasi pembelajaran tidak hanya menuntut kesiapan siswa. Kemampuan guru juga menjadi bagian penting.
SMPN 9 Yogyakarta meningkatkan kapasitas guru melalui Komunitas Belajar internal dan in-house training. Guru mendapatkan pembekalan mengenai modul ajar interaktif serta didorong untuk melakukan kolaborasi lintas mata pelajaran, termasuk IPA, Matematika, dan Informatika.
Sekolah juga menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pendampingan antarguru untuk menghadapi perbedaan tingkat kesiapan belajar siswa.
SMAN 5 Yogyakarta Terapkan Literasi Terpadu
Sementara itu, SMAN 5 Yogyakarta mengembangkan program Literasi Terpadu yang mencakup berbagai jenis literasi penting bagi siswa.
Program tersebut meliputi:
- Literasi digital
- Literasi budaya dan kewargaan
- Literasi sains
- Literasi finansial
- Literasi numerasi
Berbagai bentuk literasi tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan kecakapan yang dibutuhkan pada abad ke-21.
Penguatan literasi juga tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembiasaan. SMAN 5 Yogyakarta mengintegrasikannya ke dalam evaluasi pembelajaran melalui penulisan dan pengerjaan soal berbasis literasi serta numerasi dalam asesmen sekolah.
Capaian Literasi dan Numerasi Dipertahankan
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 5 Yogyakarta, Rizky Puspitadewi, menjelaskan bahwa konsistensi program literasi dan asesmen memberikan dampak terhadap indikator dalam Rapor Pendidikan.
Capaian sekolah pada domain literasi dan numerasi disebut berhasil mencatatkan sekaligus mempertahankan hasil terbaik secara konsisten.
Hal ini menjadi salah satu contoh bahwa penguatan kompetensi dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan memasukkan literasi dan numerasi ke dalam proses pembelajaran maupun evaluasi.
STEM, Coding, dan AI Mulai Diperkuat
SMAN 5 Yogyakarta juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kompetensi guru. Berbagai pelatihan dilakukan dalam bidang pembelajaran STEM, Pembelajaran Mendalam, coding, dan kecerdasan artifisial (AI).
Sekolah turut menyediakan media pembelajaran dan bahan ajar yang dapat digunakan dalam berbagai proyek STEM.
Penggunaan teknologi tersebut diharapkan dapat membuat proses belajar semakin relevan dengan perkembangan kebutuhan siswa di era digital.
Siswa Didorong Berpikir Kritis dan Kreatif
Penguatan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui kegiatan akademik. SMAN 5 Yogyakarta juga mengembangkan kemampuan soft skills dan karakter siswa melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Dalam kegiatan kokurikuler, siswa mengikuti proyek bertema Rekayasa & Teknologi serta Inovasi Kewirausahaan. Siswa dilatih untuk mengembangkan ide melalui proses brainstorming bersama narasumber yang memiliki pengalaman di bidang terkait.
Sementara itu, kemampuan inovasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah juga dikembangkan melalui Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Klub Robotik.
Pembelajaran Tidak Lagi Sekadar Mengejar Nilai
Praktik di SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa kompetensi yang dibutuhkan siswa dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran sehari-hari.
Pendekatan berbasis PISA tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam pemeringkatan internasional. Lebih jauh, pendekatan tersebut mendorong siswa agar mampu memahami informasi, bernalar, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa transformasi tersebut sejalan dengan pendekatan Belajar Mendalam yang mendorong pembelajaran agar lebih mindful, meaningful, dan joyful. Penguatan kompetensi guru dalam AI, coding, STEM, dan pendidikan karakter juga menjadi bagian dari transformasi tersebut.
Praktik Baik yang Bisa Jadi Contoh
Pengalaman SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa penguatan kompetensi PISA dapat diterapkan melalui berbagai cara, mulai dari soal HOTS, proyek STEM, literasi terpadu, hingga kegiatan riset dan robotik.
Dengan pembelajaran yang lebih menekankan penalaran dan penerapan pengetahuan, siswa diharapkan tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas pendidikan bukan sekadar tentang mengejar skor PISA. Yang lebih penting adalah membangun generasi yang literat, numerat, kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, dan siap menghadapi perubahan zaman.









