Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan dampak besar terhadap sektor pendidikan. Hingga 10 September 2026, 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA, SMK, dan pendidikan khusus tercatat terdampak bencana. Data tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi di lapangan terus dilakukan.
Dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh bangunan sekolah. Sebanyak 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan ikut terdampak. Dari sisi infrastruktur, Kemendikdasmen mencatat 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat, sementara dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan, sebanyak 8.728 ruang mengalami kerusakan.
Meski kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Sebanyak 487 satuan pendidikan sudah kembali menggelar pembelajaran normal di ruang kelas yang dinyatakan aman. Sementara itu, 1.960 satuan pendidikan masih menggunakan moda pembelajaran darurat, seperti tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara.
Kemendikdasmen memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas sebelum siswa kembali menggunakan bangunan sekolah. Gedung yang masuk kategori berisiko tidak boleh digunakan hingga dinyatakan aman. Sekolah juga melakukan simulasi evakuasi dan pembekalan kesiapsiagaan bagi siswa, guru, serta tenaga kependidikan.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah mulai menyalurkan bantuan revitalisasi kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp50 miliar. Selain itu, disiapkan 672 Ruang Kelas Sementara (RKS) dengan anggaran Rp3,5 miliar agar proses belajar tetap dapat berjalan selama pemulihan sekolah berlangsung.
Pemulihan juga mencakup kondisi psikologis warga sekolah. Pemerintah menilai pemulihan pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan, tetapi juga perlu memastikan siswa dan pendidik mendapatkan dukungan psikososial agar dapat kembali belajar dan mengajar dengan aman serta nyaman.









