Masalah pemenuhan gizi anak sekolah masih menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. Hasil riset Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) menemukan adanya kesenjangan asupan sejumlah zat gizi mikro pada murid usia 7–18 tahun.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan asupan folat mencapai 100 persen, sementara kalsium berada di angka 78 persen dan vitamin A sebesar 25 persen. Kekurangan juga ditemukan pada sejumlah zat gizi lainnya, termasuk vitamin C dan zinc.
Riset Libatkan Ribuan Murid di 12 Provinsi
Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian terhadap 4.219 murid yang berasal dari 12 kabupaten/kota di 12 provinsi. Dalam penelitian tersebut, SEAMEO RECFON menggunakan perangkat analisis WHO Optifood untuk melihat kecukupan asupan zat gizi.
Hasil penelitian kemudian dirumuskan menjadi sejumlah rekomendasi kebijakan. Salah satunya berupa panduan menu selama tujuh hari yang menggunakan bahan pangan dan kuliner lokal sebagai sumber pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Bisa Menjadi Acuan Program Makan Bergizi Gratis
Panduan menu hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, sekolah, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menyusun makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi murid.
Rekomendasi tersebut juga relevan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau sekitar 60 juta murid pada 2027. Dengan menggunakan hasil penelitian sebagai dasar, menu sekolah dapat disusun secara lebih tepat untuk menjawab kebutuhan gizi anak di berbagai daerah.
Gizi Berkaitan dengan Kemampuan Belajar
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menekankan bahwa pemenuhan gizi merupakan salah satu fondasi penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan.
Menurutnya, fasilitas sekolah, guru profesional, dan kurikulum yang baik tidak aka









