Jakarta — Penggunaan huruf miring menjadi salah satu materi penting dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bentuk tulisan ini bukan sekadar untuk mempercantik tampilan teks, tetapi memiliki fungsi tertentu sesuai kaidah ejaan.
Berdasarkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi Kelima, terdapat beberapa aturan mengenai penggunaan huruf miring. Secara umum, huruf miring digunakan untuk menuliskan judul karya, memberikan penegasan, serta menuliskan kata atau ungkapan dari bahasa asing maupun bahasa daerah.
1. Menuliskan Judul Buku, Film, dan Media
Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, film, album lagu, acara televisi, siniar, lakon, serta nama media massa yang dikutip dalam sebuah tulisan.
Contohnya:
- Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karya Abdoel Moeis.
- Film Habibie dan Ainun diangkat dari kisah nyata.
- Berita tersebut dimuat dalam surat kabar Cakrawala.
Penggunaan huruf miring juga berlaku ketika judul karya dicantumkan dalam daftar pustaka.
2. Memberikan Penegasan pada Kata atau Huruf
Fungsi berikutnya adalah memberikan penekanan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, maupun kelompok kata tertentu dalam sebuah kalimat.
Contohnya:
- Huruf terakhir pada kata abad adalah d.
- Imbuhan ber- pada kata berjasa bermakna ‘memiliki’.
- Buatlah kalimat menggunakan ungkapan lepas tangan.
Dengan penggunaan huruf miring, pembaca dapat mengetahui bagian tulisan yang sedang diberi perhatian khusus.
3. Menuliskan Istilah Bahasa Asing dan Bahasa Daerah
Huruf miring juga digunakan ketika menuliskan kata atau ungkapan yang berasal dari bahasa asing maupun bahasa daerah.
Contohnya:
- Nama ilmiah buah manggis adalah Garcinia mangostana.
- Istilah Weltanschauung berarti ‘pandangan dunia’.
- Ungkapan tut wuri handayani merupakan salah satu semboyan pendidikan.
- Istilah men sana in corpore sano sering digunakan dalam bidang olahraga.
Penggunaan huruf miring membantu membedakan istilah asing atau daerah dari kata-kata bahasa Indonesia dalam sebuah teks.
Nama Orang dan Lembaga Tidak Perlu Dimiringkan
Ada satu hal yang perlu diperhatikan siswa. Nama diri, seperti nama orang, lembaga, organisasi, atau merek dagang dalam bahasa asing maupun bahasa daerah, tidak ditulis dengan huruf miring.
Jadi, tidak semua kata berbahasa asing otomatis harus menggunakan huruf miring. Penggunaannya tetap harus melihat fungsi dan konteks kata tersebut.
Bagaimana Jika Menulis dengan Tangan?
Dalam tulisan tangan atau menggunakan mesin tik, bagian yang seharusnya dicetak miring dapat ditandai dengan satu garis bawah.
Sementara itu, ketika mengetik menggunakan komputer atau perangkat digital, kata tersebut dapat langsung ditulis menggunakan format huruf miring atau italic.
Dengan memahami aturan tersebut, siswa dapat menggunakan huruf miring secara tepat ketika mengerjakan tugas, membuat makalah, menulis teks bacaan, maupun menyusun karya tulis. Penggunaan ejaan yang benar juga membuat informasi dalam tulisan menjadi lebih mudah dipahami.




