Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Sulawesi Selatan ikut berdampak pada aktivitas pendidikan. Di Kota Makassar, sejumlah jenjang sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sehingga siswa harus mengikuti kegiatan belajar dari rumah.
Kebijakan tersebut diberlakukan untuk mengurangi mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua di tengah antrean BBM di sejumlah SPBU. Untuk jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP, pembelajaran daring diterapkan pada 12–19 September 2026.
Orang Tua Harus Membagi Waktu
Perubahan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah ternyata menimbulkan tantangan baru bagi para orang tua. Mereka tidak hanya harus memastikan anak mengikuti pembelajaran, tetapi juga perlu mendampingi ketika mengerjakan tugas.
Lina Herlina, salah satu orang tua murid, mengaku harus membagi perhatian antara pekerjaan dan pendampingan anak. Ketika anak belajar secara tatap muka, orang tua memiliki waktu yang lebih leluasa untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya.
Namun, saat PJJ berlangsung, perhatian orang tua harus lebih banyak tercurah kepada anak agar proses belajar tetap berjalan.
Ibu Bekerja Ikut Terdampak
Tantangan serupa dirasakan Wiwi Alimuddin, ibu yang bekerja sekaligus memiliki anak kelas 1 SD. Menurutnya, pembelajaran daring membuat pekerjaan menjadi lebih sulit diatur karena anak yang masih kecil membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Selain persoalan waktu, ia juga melihat anak lebih mudah bosan dan kehilangan konsentrasi ketika belajar dari rumah. Situasi tersebut berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang membuat anak lebih terbiasa mengikuti jadwal dan suasana belajar di sekolah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan sistem pembelajaran tidak hanya berpengaruh terhadap siswa dan guru, tetapi juga mengubah rutinitas keluarga.
Sekolah Tetap Pastikan Pembelajaran Berjalan
Dari sisi sekolah, kegiatan PJJ tetap dilakukan dengan pemantauan guru. Kepala SMP Negeri 6 Makassar Andi Mindrawati mengatakan sekolah menjalankan pembelajaran jarak jauh sebagai tindak lanjut surat edaran pemerintah.
Selama PJJ, siswa mengikuti pelajaran dari rumah, sedangkan guru melakukan pemantauan terhadap proses belajar. Tenaga kependidikan dan kepala sekolah tetap menjalankan tugas secara terbatas di sekolah, terutama untuk kebutuhan administrasi dan koordinasi.
Pihak sekolah berharap kondisi kelangkaan BBM segera membaik sehingga siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Pemerintah Kota Makassar sebelumnya menyebut kebijakan PJJ sebagai langkah sementara untuk merespons keterbatasan BBM yang mengganggu mobilitas masyarakat.
Bagi keluarga, berakhirnya persoalan BBM juga diharapkan dapat mengembalikan rutinitas belajar anak seperti sebelumnya, sekaligus mengurangi beban orang tua yang harus mendampingi anak selama belajar dari rumah.









