Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra berdampak terhadap aktivitas pendidikan di Kepulauan Riau (Kepri). Pemerintah daerah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah (BDR) untuk melindungi siswa dari paparan udara yang kualitasnya menurun.
Sekolah Beralih ke Belajar dari Rumah
Pemprov Kepri telah mengeluarkan surat edaran yang meminta satuan pendidikan menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi kualitas udara. Untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB, pembelajaran dari rumah mulai diterapkan sejak 15 September 2026 dan akan berlangsung hingga kondisi udara dinilai kembali aman.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Andi Agung mengatakan belum ada batas waktu pasti berakhirnya kebijakan tersebut. Sekolah akan kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka apabila kondisi udara membaik.
Sementara itu, di Kota Tanjungpinang, siswa PAUD, TK, SD hingga SMP sederajat juga mengikuti pembelajaran secara daring pada 15–18 September 2026. Di Kabupaten Bintan, kebijakan serupa diterapkan untuk jenjang TK, SD, dan SMP mulai 15 hingga 17 September 2026.
Guru Tetap Mendampingi Proses Belajar
Perubahan pembelajaran menjadi daring bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Guru tetap memberikan materi, tugas, serta pendampingan kepada siswa dari sekolah maupun secara daring.
Kepala sekolah juga diminta memastikan proses belajar tetap berjalan efektif selama kebijakan BDR berlangsung. Orang tua diminta membatasi aktivitas anak di luar rumah, menjaga kebersihan dan kesehatan, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan.
Program MBG Ikut Terdampak
Perubahan pola pembelajaran juga berpengaruh terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Batam, distribusi MBG menyesuaikan kebijakan sekolah. Ketika kegiatan sekolah dihentikan atau siswa belajar dari rumah, penyaluran makanan ke sekolah ikut dihentikan sementara karena tidak ada siswa yang hadir untuk menerima makanan tersebut.
Di Tanjungpinang, pemerintah daerah juga menyatakan pelaksanaan MBG akan disesuaikan dengan kondisi pembelajaran dan kualitas udara yang sedang terjadi.
Dengan demikian, dampak kabut asap tidak hanya dirasakan dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi juga pada program pendukung siswa yang pelaksanaannya berkaitan langsung dengan aktivitas di sekolah.
Asap Berasal dari Pergerakan Massa Udara Sumatra
BMKG Hang Nadim Batam menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti Batam lebih banyak dipengaruhi asap dari wilayah Sumatra, termasuk Jambi. Pada 15 September 2026 pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Batam tercatat 38,7 µg/m³ dan masuk kategori sedang.
BMKG juga menyebut pergerakan asap dipengaruhi pola angin regional. Karena konsentrasi partikulat dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara.
Anak-anak, lansia, serta kelompok yang sensitif terhadap gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu lebih diperhatikan ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi sesuai kondisi udara setempat.
Kebijakan belajar dari rumah di Kepri bersifat sementara dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara. Jika kondisi kembali membaik dan dinyatakan aman, pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan.




