Sejumlah mahasiswa mulai mempersiapkan karier sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi. Salah satunya Haifa Mujahidah Aulia, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang berhasil memperoleh pekerjaan sebelum mengikuti wisuda.
Haifa lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,8 pada Wisuda UNJ Tahun Akademik 2025/2026. Perjalanan kariernya tidak lepas dari pengalaman magang di sejumlah perusahaan, keaktifan membangun organisasi, serta keberaniannya mencoba berbagai kesempatan sejak masih kuliah.
Pengalaman tersebut membantunya mengenal dunia kerja lebih awal sekaligus mengembangkan kompetensi di bidang sumber daya manusia atau human resources (HR). <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
1. Aktif Mencari Pengalaman Kerja Sejak Kuliah
Haifa tidak hanya mengandalkan kesempatan magang yang disediakan kampus. Sejak menjadi mahasiswa Program Studi Psikologi UNJ angkatan 2022, ia aktif melamar ke sejumlah tempat untuk mendapatkan pengalaman profesional.
Beberapa tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan magangnya antara lain Astra, Sampoerna, Humas UNJ, dan Oppo International. Sebagian pengalaman tersebut berasal dari inisiatif pribadi, sedangkan sebagian lainnya berkaitan dengan kewajiban perkuliahan atau dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS).
Dari berbagai pengalaman itu, Haifa memperoleh kesempatan mengenal lingkungan kerja yang berbeda dan mempelajari penerapan ilmu yang diperolehnya selama kuliah.
Keterlibatan dalam berbagai program magang juga membantunya memahami keterampilan yang dibutuhkan perusahaan, termasuk komunikasi, analisis, kerja sama, dan penyelesaian masalah. <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
2. Pengalaman Magang di Sampoerna Membuka Peluang Karier
Salah satu pengalaman penting Haifa adalah ketika mengikuti magang di Philip Morris International, perusahaan yang dikenal di Indonesia melalui Sampoerna.
Selama magang, ia terlibat dalam berbagai kegiatan pengelolaan sumber daya manusia. Pekerjaannya mencakup pengembangan program management trainee, kajian kesejahteraan karyawan, komunikasi program HR, penyelenggaraan acara, proses rekrutmen, hingga pengelolaan penggajian.
Salah satu tanggung jawab yang menantang adalah membantu merancang program management trainee dari awal. Ia juga melakukan riset mengenai kesejahteraan karyawan bagian penjualan dan mempresentasikan temuannya kepada jajaran perusahaan di sejumlah wilayah.
Beberapa rekomendasi dari hasil riset tersebut kemudian diterapkan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kinerja tenaga penjualan.
Pengalaman ini menjadi kesempatan bagi Haifa untuk menerapkan kemampuan analisis, menyampaikan hasil kerja secara profesional, serta memahami kebutuhan organisasi dari sudut pandang sumber daya manusia. <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
3. Mendirikan Organisasi Konsultasi Mahasiswa di UNJ
Kesempatan magang di Sampoerna juga berkaitan dengan keterlibatan Haifa dalam ShARE UNJ, organisasi konsultasi mahasiswa yang ia dirikan bersama teman-temannya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Organisasi tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengenal bidang konsultasi dan mengembangkan kemampuan analisis bisnis. Melalui jaringan ShARE di Universitas Indonesia (UI) yang telah bekerja sama dengan Sampoerna, Haifa memperoleh informasi dan kesempatan untuk melamar magang.
Pengalaman membangun organisasi menunjukkan bahwa pengembangan karier tidak selalu hanya berasal dari kegiatan akademik. Keterlibatan dalam komunitas profesional juga dapat memperluas jaringan, memberikan pengalaman kepemimpinan, dan membuka akses terhadap kesempatan baru.
Bagi mahasiswa, aktif dalam organisasi dapat menjadi salah satu cara untuk membangun portofolio selama tetap memperhatikan tanggung jawab perkuliahan. <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
4. Direkrut Sebelum Wisuda, Cukup dengan Surat Keterangan Lulus
Pada awalnya, Haifa melamar program management trainee di sejumlah perusahaan multinasional karena ingin meniti karier melalui jalur tersebut.
Setelah melewati tahapan seleksi administrasi, psikotes, dan wawancara untuk program management trainee Sampoerna, ia justru mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim talent acquisition atau rekrutmen karyawan.
Tawaran tersebut datang melalui pesan dari manajer tim terkait. Haifa diberi kesempatan bergabung tanpa harus menunggu prosesi wisuda, dengan persyaratan telah memiliki Surat Keterangan Lulus (SKL).
Kesempatan itu menjadi langkah penting dalam perjalanan profesionalnya. Haifa dapat mulai bekerja setelah menyelesaikan yudisium, sehingga proses transisi dari mahasiswa menjadi pekerja berlangsung lebih cepat.
Meski demikian, pengalaman Haifa bukan berarti semua mahasiswa dapat langsung memperoleh pekerjaan sebelum wisuda. Hasil rekrutmen tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan, kompetensi kandidat, proses seleksi, dan persyaratan masing-masing posisi. <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
5. Mengatasi Keraguan dengan Meningkatkan Kompetensi
Mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran Haifa. Ia sempat merasa belum memiliki pengalaman yang setara dengan karyawan yang lebih senior dan masih perlu meningkatkan kemampuannya dalam melakukan wawancara kandidat.
Untuk mengatasi keraguan tersebut, Haifa mengikuti sejumlah pelatihan intensif atau bootcamp di bidang sumber daya manusia sebelum mulai bekerja.
Langkah ini menjadi bagian dari persiapannya menghadapi tanggung jawab baru. Ia berupaya memperkuat pemahaman mengenai proses rekrutmen dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberanian mengambil kesempatan perlu diimbangi dengan kemauan belajar. Mahasiswa tidak harus menguasai seluruh keterampilan sejak awal, tetapi perlu mengetahui kemampuan yang masih perlu dikembangkan dan berusaha memperbaikinya.
6. Menyelesaikan Skripsi Sambil Mempersiapkan Karier
Haifa juga harus membagi waktu antara penyelesaian skripsi dan persiapan memasuki dunia kerja.
Skripsi yang disusunnya membahas pengaruh psychological capital terhadap organizational citizenship behavior pada karyawan bagian penjualan di sektor barang konsumsi. Topik ini berkaitan dengan aspek psikologis karyawan dan perilaku positif dalam lingkungan organisasi.
Karena penelitian tersebut melibatkan karyawan di perusahaan tempat ia menjalani magang, Haifa dapat menghubungkan pengalaman profesional dengan kebutuhan akademiknya.
Namun, menjalankan keduanya secara bersamaan tetap menghadirkan tantangan, terutama terkait mobilitas, waktu istirahat, dan jadwal kerja yang terkadang berbenturan dengan kegiatan perkuliahan.
Haifa mengatasinya melalui komunikasi dengan pembimbing di tempat magang serta mengatur kontribusi dan penyelesaian tugas secara lebih efisien ketika jadwal kuliahnya memungkinkan.
Pengalaman ini menegaskan pentingnya pengelolaan waktu dan komunikasi ketika mahasiswa harus menjalankan beberapa tanggung jawab sekaligus. <Cite refs={[“turn541597search3”]}/>
7. Rencana Karier Haifa Setelah Lulus
Setelah mulai bekerja, Haifa berencana memperdalam pengalaman profesional di industri sumber daya manusia. Ia juga ingin terus meningkatkan kompetensi sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang atau program profesi yang sesuai dengan minatnya.
Untuk saat ini, fokusnya adalah mempelajari dunia kerja, membangun kemampuan profesional, dan memahami bidang yang ingin ditekuni dalam jangka panjang.
Kisah Haifa dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mulai merencanakan karier sebelum masa kuliah berakhir. Pengalaman magang, kegiatan organisasi, pelatihan, dan jaringan profesional dapat membantu mahasiswa mengenali minat serta kebutuhan industri.
Meski begitu, setiap mahasiswa memiliki kondisi dan jalur karier yang berbeda. Tidak semua orang harus bekerja sebelum wisuda; yang terpenting adalah memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sesuai tujuan masing-masing.
8. Pesan Haifa untuk Mahasiswa yang Sedang Membangun Karier
Haifa mendorong mahasiswa agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan yang dapat membantu pengembangan diri. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan pilihan secara mendalam, bukan sekadar mengikuti tren atau mengambil semua kesempatan yang tersedia.
Mahasiswa dapat memulai dengan mengenali bidang yang diminati, mencari program magang yang relevan, memperkuat keterampilan komunikasi, dan menyusun portofolio dari proyek atau kegiatan yang pernah dikerjakan.
Selain itu, pengalaman yang diperoleh perlu dievaluasi agar mahasiswa mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki dan aspek yang masih harus ditingkatkan.
Dengan persiapan yang konsisten, mahasiswa dapat membangun bekal untuk menghadapi proses seleksi kerja setelah lulus, baik melalui jalur magang, rekrutmen langsung, maupun program pengembangan karier lainnya.
Kesimpulan
Haifa Mujahidah Aulia merupakan lulusan Fakultas Psikologi UNJ dengan IPK 3,8 yang memperoleh pekerjaan sebelum wisuda. Perjalanannya didukung oleh pengalaman magang di sejumlah tempat, keterlibatan dalam pendirian ShARE UNJ, serta pengembangan keterampilan di bidang sumber daya manusia.
Kesempatan bergabung dengan tim talent acquisition Sampoerna datang setelah ia mengikuti proses seleksi program management trainee. Haifa kemudian mempersiapkan diri melalui pelatihan tambahan sambil menyelesaikan tanggung jawab akademiknya.
Kisah ini memperlihatkan bahwa pengalaman profesional, kemauan belajar, jaringan, dan pengelolaan waktu dapat membantu mahasiswa mempersiapkan transisi menuju dunia kerja. Mahasiswa dapat mulai membangun bekal karier sejak kuliah tanpa mengabaikan kebutuhan akademik dan keseimbangan hidup.





