Yogyakarta – Pemandangan ratusan orang tua yang rela datang sejak subuh untuk mendaftarkan anak ke bimbingan belajar (bimbel) di Yogyakarta menjadi perhatian publik. Fenomena tersebut tidak hanya memperlihatkan tingginya minat terhadap pendidikan tambahan, tetapi juga memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai kepercayaan orang tua terhadap kualitas sekolah formal.
Antrean terjadi di Bimbingan Belajar Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta. Sejumlah orang tua bahkan rela datang sejak sekitar pukul 04.00 WIB untuk mendapatkan nomor pendaftaran. Menariknya, sebagian orang tua tersebut mendaftarkan anak untuk mengikuti bimbel pada tahun berikutnya.
Fenomena ini kemudian mendapat sorotan dari pengamat pendidikan Indra Charismiadji. Menurutnya, antrean tersebut dapat dilihat sebagai gambaran semakin kuatnya fenomena shadow education, yakni pendidikan tambahan yang berlangsung di luar sistem sekolah formal.
Orang Tua Mengejar Nilai TKA dan Sekolah Favorit
Salah satu alasan orang tua memilih Bimbel Exist adalah melihat rekam jejak peserta didiknya.
Rahmawati, salah seorang orang tua, mengatakan dirinya tertarik karena mendapatkan berbagai testimoni mengenai siswa yang mengikuti bimbel tersebut. Ia berharap anaknya memperoleh nilai akademik yang baik dan memiliki peluang masuk sekolah yang diinginkan.
Hal serupa disampaikan Kurnia, orang tua dari Banguntapan, Bantul. Ia mendaftarkan anaknya yang saat ini masih duduk di kelas 2 SMP untuk mengikuti bimbel pada tahun depan.
Menurut Kurnia, biaya bimbel sekitar Rp150 ribu per mata pelajaran menjadi salah satu pertimbangan. Ia berharap tambahan belajar tersebut dapat membantu anaknya memperoleh hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang maksimal sekaligus meningkatkan peluang masuk SMA favorit.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bimbel bagi sebagian orang tua bukan sekadar kegiatan tambahan. Bimbel dipandang sebagai salah satu strategi untuk menghadapi persaingan akademik dan seleksi pendidikan berikutnya.
Pengamat: Sekolah Formal Mulai Kehilangan Kepercayaan?
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji melihat fenomena antrean tersebut dari perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, ketika orang tua rela mengeluarkan waktu dan biaya tambahan untuk memastikan anak memperoleh pembelajaran di luar sekolah, muncul pertanyaan mengenai seberapa besar sekolah formal masih dipercaya sebagai tempat utama untuk mempersiapkan masa depan akademik anak.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk shadow education. Istilah tersebut merujuk pada aktivitas pendidikan tambahan yang mengikuti sistem pendidikan formal, tetapi berlangsung di luar sekolah.
Indra menilai persoalan sebenarnya bukan keberadaan bimbel itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah alasan mengapa orang tua merasa perlu mengandalkan bimbel untuk mencapai target akademik tertentu.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi semakin terlihat ketika bimbel dianggap memiliki rekam jejak lebih meyakinkan dalam membantu siswa memperoleh nilai ujian tinggi atau masuk sekolah yang dianggap favorit.
TKA Ikut Mendorong Minat terhadap Bimbel
Salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam fenomena ini adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Sejumlah orang tua berharap bimbel dapat membantu anak mempersiapkan diri menghadapi TKA sehingga memperoleh hasil maksimal. Bagi mereka, tambahan latihan dan pembelajaran dianggap dapat meningkatkan kesiapan menghadapi tes.
Namun, kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai posisi sekolah dalam mempersiapkan siswa menghadapi asesmen akademik.
Jika siswa merasa harus mendapatkan pembelajaran tambahan di luar sekolah agar siap menghadapi tes, maka evaluasi terhadap proses pembelajaran di sekolah menjadi hal yang penting.
Di sisi lain, bimbel tetap merupakan pilihan yang sah bagi orang tua selama kegiatan tersebut sesuai kebutuhan anak dan tidak memberikan beban belajar berlebihan.
Fenomena Bimbel Disebut Mirip dengan Shadow Education di Tiongkok
Indra kemudian membandingkan fenomena tersebut dengan pengalaman Tiongkok.
Menurutnya, sebelum menerapkan kebijakan Double Reduction pada 2021, masyarakat Tiongkok juga menghadapi pertumbuhan pendidikan tambahan yang sangat kuat akibat persaingan akademik.
Kebijakan tersebut antara lain diarahkan untuk mengurangi beban pekerjaan rumah serta tekanan bimbingan belajar di luar sekolah bagi siswa pendidikan dasar dan menengah.
Pemerintah Tiongkok juga berusaha mengurangi tekanan akademik dan pengeluaran keluarga untuk pendidikan tambahan.
Namun, pengalaman tersebut tidak sepenuhnya sederhana. Kebijakan pembatasan bimbel juga menimbulkan berbagai respons dari orang tua dan guru, termasuk munculnya tantangan baru dalam penyelenggaraan layanan pendidikan setelah sekolah.
Karena itu, persoalan pendidikan tambahan tidak dapat diselesaikan hanya dengan membatasi bimbel.
Hal yang lebih mendasar adalah memastikan sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan belajar siswa.
Bimbel Tidak Otomatis Menyelesaikan Masalah Pendidikan
Menurut Indra, pertumbuhan industri bimbingan belajar tidak otomatis berarti kualitas pendidikan nasional ikut meningkat.
Bimbel memang dapat membantu siswa tertentu meningkatkan kemampuan akademik, khususnya dalam menghadapi ujian. Namun, akses terhadap bimbel juga bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesenjangan. Anak dari keluarga yang mampu membayar bimbel memiliki kesempatan mendapatkan tambahan waktu belajar dan latihan, sementara anak dari keluarga kurang mampu belum tentu memiliki akses yang sama.
Karena itu, jika persiapan menghadapi ujian semakin bergantung pada bimbel, terdapat risiko pendidikan tambahan justru memperlebar kesenjangan kesempatan belajar.
Mendikdasmen: Bimbel Boleh, tetapi Jangan Membebani Anak
Fenomena orang tua yang rela antre sejak subuh tersebut juga mendapat perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pembelajaran yang diberikan sekolah pada dasarnya sudah cukup untuk menjadi bekal siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Bimbingan belajar tetap menjadi pilihan orang tua, tetapi kegiatan tambahan tersebut sebaiknya tidak membuat anak mengalami beban belajar yang berlebihan.
Sekolah juga didorong untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan agar siswa memperoleh bekal yang memadai selama mengikuti pembelajaran formal.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena fenomena bimbel seharusnya tidak langsung dipahami sebagai bukti bahwa seluruh sekolah gagal memberikan pendidikan.
Ada berbagai alasan orang tua memilih bimbel, mulai dari kebutuhan belajar tertentu, persiapan ujian, mengejar target akademik, hingga keinginan memperoleh latihan tambahan.
Sekolah Perlu Menjawab Kekhawatiran Orang Tua
Terlepas dari alasan masing-masing keluarga, antrean panjang bimbel menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.
Sekolah perlu memastikan proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, pemahaman konsep, kemandirian, dan kesiapan siswa menghadapi berbagai bentuk evaluasi.
Guru juga memiliki peran penting untuk mengetahui kesulitan belajar siswa sehingga kebutuhan tambahan dapat ditangani sedini mungkin.
Jika sekolah mampu memberikan layanan pembelajaran yang kuat, keberadaan bimbel dapat ditempatkan sebagai pilihan tambahan, bukan sesuatu yang dianggap wajib agar anak berhasil.
Jangan Sampai Bimbel Menjadi Penentu Kesempatan Pendidikan
Fenomena antrean bimbel juga mengingatkan bahwa kualitas pendidikan seharusnya tidak ditentukan oleh kemampuan keluarga membeli layanan tambahan.
Setiap siswa perlu mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkembang, baik mereka mengikuti bimbel maupun tidak.
Karena itu, penguatan kualitas sekolah menjadi langkah penting. Pendidikan formal harus mampu menjadi fondasi utama pembelajaran, sementara lembaga bimbingan belajar dapat berperan sebagai pelengkap bagi siswa yang memang membutuhkan tambahan dukungan.
Dengan demikian, persaingan akademik tidak berubah menjadi perlombaan siapa yang paling mampu membayar pendidikan tambahan.
Kesimpulan
Antrean orang tua sejak subuh untuk mendapatkan tempat di bimbel di Yogyakarta menjadi fenomena yang menarik perhatian karena terjadi jauh sebelum kegiatan belajar dimulai.
Bagi sebagian orang tua, bimbel dianggap membantu meningkatkan kemampuan akademik, terutama untuk menghadapi TKA dan mengejar peluang masuk sekolah favorit. Biaya yang relatif terjangkau serta testimoni mengenai prestasi alumni juga menjadi daya tarik.
Namun, pengamat pendidikan melihat fenomena tersebut sebagai sinyal yang perlu diperhatikan. Ketika orang tua semakin mengandalkan pendidikan tambahan, muncul pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan terhadap sekolah formal.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti sendiri menilai pembelajaran sekolah pada dasarnya sudah dapat menjadi bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan. Bimbel boleh menjadi pilihan, tetapi jangan sampai menambah beban anak.
Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan bimbel atau sekolah, melainkan bagaimana membangun ekosistem pendidikan yang membuat orang tua percaya bahwa sekolah mampu memberikan pembelajaran berkualitas, sekaligus memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang adil.


















