Jakarta – Pemerintah menyiapkan perubahan skema dalam program SMK Go Global. Mulai 2027, calon peserta tidak lagi harus sudah memiliki kompetensi teknis atau kemampuan bahasa asing untuk mengikuti program tersebut.
Perubahan ini membuka kesempatan lebih luas bagi lulusan pendidikan menengah yang ingin mendapatkan pelatihan dan mempersiapkan diri untuk bekerja di luar negeri.
Tak Harus Sudah Punya Skill
Pada pelaksanaan awal 2026, program lebih banyak menyasar peserta yang telah memiliki kemampuan dasar. Hal ini berkaitan dengan waktu pelatihan yang relatif singkat sehingga peserta diarahkan untuk meningkatkan (upskilling) kompetensi yang sudah dimiliki.
Mulai 2027, pemerintah berencana memberikan kesempatan kepada peserta yang belum memiliki kompetensi maupun kemampuan bahasa. Peserta nantinya akan mendapatkan pembekalan terlebih dahulu sesuai bidang pekerjaan dan negara tujuan.
Target 500.000 Calon Pekerja Migran
Program SMK Go Global menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan tenaga kerja Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.
Pemerintah menargetkan program ini mampu menyiapkan 500.000 calon pekerja migran Indonesia hingga 2029.
Target tersebut dilakukan secara bertahap:
| Tahun | Target |
|---|---|
| 2026 | 40.000 |
| 2027 | 140.000 |
| 2028 | 180.000 |
| 2029 | 140.000 |
| Total | 500.000 |
Tidak Hanya Lulusan SMK
Meski menggunakan nama SMK Go Global, kesempatan program ini tidak hanya ditujukan bagi lulusan SMK.
Peserta dapat berasal dari lulusan SMA, diploma, hingga sarjana, dengan pelatihan disesuaikan berdasarkan kebutuhan pekerjaan di negara tujuan.
Beberapa bidang yang menjadi sasaran antara lain manufaktur, hospitality, kesehatan, konstruksi, pertanian, transportasi, dan sektor kelautan.
Negara tujuan juga mencakup sejumlah negara yang memiliki kebutuhan tenaga kerja, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Malaysia, dan Brunei, serta sejumlah negara di Eropa.
Pelatihan Disesuaikan Kebutuhan Pasar Kerja
Skema program dirancang dengan pendekatan berbasis kebutuhan. Pemerintah terlebih dahulu memetakan negara tujuan dan jenis pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja, kemudian menyesuaikan materi pelatihan.
Dengan pola tersebut, peserta diharapkan tidak sekadar mendapatkan keterampilan umum, tetapi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan negara tempat mereka akan bekerja.
Selain keterampilan teknis, kemampuan bahasa menjadi bagian penting karena peserta akan bekerja di lingkungan internasional.
Kesempatan bagi yang Belum Punya Kompetensi
Perubahan skema mulai 2027 membuat program ini lebih terbuka bagi lulusan yang belum memiliki keterampilan khusus.
Peserta tidak perlu merasa kesempatan bekerja di luar negeri hanya diperuntukkan bagi mereka yang sejak awal sudah memiliki sertifikat atau pengalaman kerja. Melalui pelatihan, kemampuan tersebut dapat dibangun secara bertahap.
Namun, calon pekerja tetap perlu mengikuti seluruh proses pelatihan, sertifikasi, dan penempatan secara resmi. Jalur prosedural penting untuk memastikan pekerja mendapatkan perlindungan dan hak sesuai ketentuan.
Mulai 2027, SMK Go Global diharapkan bukan hanya menjadi program untuk meningkatkan kemampuan mereka yang sudah terampil, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi calon pekerja yang membutuhkan pelatihan dari dasar sebelum bersaing di pasar kerja global.






















