Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dilaporkan turut menyebar ke sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. BRIN melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) memetakan penyebaran partikel halus PM2.5 untuk mengetahui sumber dan pola pergerakannya.
Peneliti BRIN Ardhi Adhary Arbain menjelaskan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi dua faktor penting yang menentukan sebaran PM2.5. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara lalu berbelok ke timur laut setelah melewati garis khatulistiwa, sehingga memungkinkan asap dari wilayah kebakaran di Indonesia terbawa menuju negara-negara lain.
Hasil simulasi menunjukkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi terutama berada di sejumlah wilayah sumber kebakaran, termasuk Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Di beberapa titik dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai ribuan mikrogram per meter kubik. Namun, BRIN menegaskan bahwa hasil tersebut masih berupa simulasi penelitian dan belum divalidasi secara menyeluruh menggunakan data pengamatan lapangan.
BRIN selanjutnya akan mengembangkan metode pemodelan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi simulasi penyebaran polutan. Kajian ini diharapkan dapat membantu memahami pola pergerakan asap karhutla dan dampaknya terhadap kualitas udara lintas wilayah.









