ACEH BARAT – Semangat belajar para guru dan siswa di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, patut diapresiasi. Demi tetap bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar, mereka setiap hari harus melintasi jembatan tali baja yang menjadi akses darurat setelah jembatan gantung penghubung antar dusun mengalami kerusakan sejak tahun 2025.
Meski penuh risiko, jalur sederhana tersebut menjadi satu-satunya penghubung yang dapat digunakan warga untuk menuju sekolah maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Jembatan Darurat Jadi Akses Utama
Rusaknya jembatan gantung yang selama ini menjadi jalur utama membuat masyarakat terpaksa memanfaatkan tali baja sebagai sarana penyeberangan.
Setiap hari, guru dan para pelajar harus melintasi jalur tersebut dengan penuh kehati-hatian. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama saat cuaca buruk atau debit sungai meningkat.
Meski demikian, keterbatasan infrastruktur tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir di sekolah.
Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan
Perjuangan guru dan siswa di Desa Sikundo mencerminkan tingginya tekad masyarakat dalam memperoleh pendidikan. Di tengah fasilitas yang belum memadai, proses belajar mengajar tetap berlangsung agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa akses pendidikan di sejumlah wilayah terpencil masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait infrastruktur yang belum memadai.
Infrastruktur Pendidikan Perlu Perhatian
Keberadaan jembatan yang layak menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, khususnya untuk menjamin keselamatan siswa dan guru saat berangkat maupun pulang sekolah.
Perbaikan infrastruktur penghubung di daerah terpencil diharapkan dapat menjadi perhatian berbagai pihak agar aktivitas pendidikan dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan tanpa hambatan.
Dengan tersedianya akses yang memadai, masyarakat tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan layanan pendidikan.
Potret Semangat Pendidikan Indonesia
Perjuangan guru dan siswa di Desa Sikundo menjadi gambaran nyata bahwa semangat menuntut ilmu tetap menyala meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa pemerataan akses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kualitas pembelajaran, tetapi juga ketersediaan infrastruktur yang aman dan layak bagi seluruh peserta didik di berbagai pelosok Indonesia.








