Cianjur — Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis dan teori. Mereka juga perlu memiliki kemampuan melihat peluang, mengembangkan kompetensi menjadi produk, serta memahami bagaimana keterampilan tersebut memiliki nilai ekonomi di dunia nyata. Pesan ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat dalam pelatihan peningkatan kompetensi guru SMK berbasis dunia kerja di Cianjur.
Pelatihan tersebut merupakan Training Peningkatan Kompetensi Guru Vokasi Berbasis Dunia Kerja Luring ke-4 yang berlangsung di Balai Besar Pelatihan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Pertanian Cianjur.
Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan dengan tujuh bidang keahlian, yaitu Bakery & Pastry, hidroponik melon, pengolahan buah, tanaman anggrek, penetasan telur, pakan ternak, serta rekayasa pakan buatan.
Guru SMK Perlu Punya Business Mindset
Menurut Atip, penguasaan kompetensi perlu dibarengi dengan business mindset atau pola pikir kewirausahaan. Guru tidak hanya dituntut mampu melakukan suatu pekerjaan, tetapi juga perlu melihat bagaimana keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang.
Ia menilai kemampuan produksi tanpa kemampuan mengembangkan atau mengomersialkan hasilnya akan membuat kompetensi yang dimiliki menjadi kurang optimal.
Business mindset, menurut Atip, tidak semata-mata berarti mengejar keuntungan atau berdagang. Lebih luas, pola pikir tersebut mendorong seseorang untuk melihat peluang dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang tersedia.
Keterampilan Pertanian Bisa Dikembangkan Menjadi Bisnis
Dalam bidang pertanian, misalnya, guru tidak seharusnya hanya memahami proses produksi. Kompetensi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh menjadi agribisnis hingga agrowisata.
Karena itu, guru perlu memahami rangkaian proses dari hulu hingga hilir. Pengetahuan mengenai produksi dapat dikombinasikan dengan kemampuan melihat pasar, mengembangkan produk, dan menemukan peluang usaha.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat pembelajaran di SMK semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus dunia usaha.
Pelatihan Berbasis Dunia Kerja
Pelatihan yang diikuti 147 guru tersebut dirancang dalam 120 jam pelajaran. Kegiatannya terdiri atas 40 sesi pembekalan, 70 sesi pengalaman kerja, serta 10 sesi uji kompetensi dan sertifikasi.
Setelah mengikuti pembekalan, peserta akan menjalani 70 jam pengalaman kerja langsung atau on-the-job experience. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru untuk merasakan secara langsung proses kerja, praktik, serta budaya kerja yang berlaku di industri.
Dengan pengalaman tersebut, kompetensi yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis.
Guru Diminta Membawa Pengalaman ke Sekolah
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menekankan pentingnya praktik langsung bagi guru setelah mengikuti pelatihan.
Menurutnya, peningkatan kompetensi akan lebih bermakna apabila guru benar-benar mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh dan membawanya kembali ke lingkungan sekolah.
Guru juga didorong untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi praktik nyata yang dapat melibatkan siswa. Dengan demikian, pengalaman guru selama pelatihan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas maupun kegiatan praktik siswa.
Siswa Bisa Belajar Melihat Peluang
Penguatan kompetensi guru juga diharapkan dapat mengubah cara siswa memandang bidang kejuruan tertentu.
Dalam bidang pertanian, misalnya, siswa tidak hanya diperkenalkan pada aktivitas bertani secara konvensional. Mereka dapat melihat bahwa sektor tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha, inovasi produk, agribisnis, hingga agrowisata.
Guru memiliki peran penting dalam menunjukkan berbagai kemungkinan tersebut kepada siswa melalui pengalaman dan praktik nyata.
Skill Harus Berujung pada Produk dan Inovasi
Pelatihan guru vokasi berbasis dunia kerja pada akhirnya tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis. Kompetensi yang dimiliki diharapkan dapat diterapkan, dikembangkan, dan menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat nyata.
Guru SMK diharapkan mampu menjadi contoh bagi siswa bahwa sebuah keterampilan dapat berkembang menjadi produk, inovasi, pekerjaan, maupun peluang usaha.
Dengan demikian, pendidikan vokasi tidak hanya menyiapkan siswa agar memiliki kemampuan bekerja, tetapi juga membekali mereka dengan pola pikir untuk menciptakan peluang di tengah perubahan dunia kerja.
Pendidikan Vokasi Semakin Dekat dengan Dunia Industri
Pengalaman langsung di dunia kerja menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan pendidikan vokasi. Guru yang memahami praktik industri akan lebih mudah menghubungkan materi pembelajaran dengan kebutuhan dunia nyata.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan mendapatkan pembelajaran yang lebih relevan dan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana kompetensi yang mereka pelajari dapat digunakan setelah lulus.
Pada akhirnya, guru SMK tidak hanya perlu menjadi ahli dalam keterampilan tertentu, tetapi juga mampu melihat peluang dan mengajarkan siswa bagaimana mengubah keterampilan menjadi sesuatu yang bernilai.









