Jakarta – Guruh Sukarno Putra pernah meluruskan penulisan nama ayahnya, Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno. Menurut Guruh, ejaan yang dikehendaki sang Proklamator adalah Sukarno, menggunakan huruf “u”, bukan “Soekarno” dengan kombinasi huruf “oe”.
Pernyataan tersebut disampaikan Guruh dalam acara penerbitan buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid II di Gedung Pola, Jakarta, pada 6 Juni 2015. Saat itu, ia mengutip penjelasan Bung Karno mengenai perubahan ejaan namanya setelah Indonesia merdeka.
Dalam autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Bung Karno menjelaskan bahwa ketika masih bersekolah, namanya ditulis “Soekarno” mengikuti ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, ia menginginkan penggunaan “oe” dikembalikan menjadi “u”, sehingga penulisan namanya menjadi Sukarno.
Meski demikian, Bung Karno tetap menggunakan ejaan “Soe” dalam tanda tangannya. Alasannya, tanda tangan tersebut telah digunakan selama puluhan tahun dan tercantum dalam dokumen penting, termasuk Teks Proklamasi. Karena itu, perubahan tanda tangan dinilai tidak mudah dilakukan.
Mengapa Dulu Menggunakan “OE”?
Penggunaan “oe” berkaitan dengan Ejaan Van Ophuijsen, sistem ejaan bahasa Melayu yang digunakan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dalam sistem tersebut, kombinasi huruf “oe” digunakan untuk mewakili bunyi vokal “u”.
Ejaan Van Ophuijsen mulai digunakan pada 1901. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah memperkenalkan Ejaan Soewandi pada 1947, salah satu cirinya adalah perubahan “oe” menjadi “u”. Perubahan tersebut membuat penulisan nama Soekarno menjadi Sukarno.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) juga mencatat bahwa dalam autobiografinya, Sukarno menyatakan keinginannya agar namanya ditulis menggunakan ejaan “u”, bukan “oe”.
Mengapa Nama “Soekarno” Masih Banyak Digunakan?
Meskipun Sukarno menginginkan ejaan dengan huruf “u”, bentuk Soekarno masih banyak ditemukan hingga sekarang. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan tanda tangan Bung Karno dengan ejaan “Soe”, yang kemudian ikut memengaruhi penggunaan nama tersebut dalam berbagai dokumen dan penyebutan publik.
Contohnya dapat ditemukan pada sejumlah nama tempat dan institusi yang menggunakan bentuk “Soekarno”, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Guruh juga pernah menyampaikan koreksi mengenai tempat kelahiran ayahnya. Dalam acara pada 2025, ia menyebut Bung Karno lahir di Surabaya, bukan Blitar seperti yang masih ditemukan dalam sejumlah buku dan ensiklopedia.
Guruh Sukarno Putra, putra bungsu Bung Karno dan Fatmawati, dikenal sebagai seniman sekaligus politikus. ANRI mencatat Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dan memiliki perjalanan panjang di bidang seni, termasuk musik, tari, dan kebudayaan.








