Jakarta – Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen, Irsyad Zamjani, menyoroti pentingnya penguatan fondasi literasi dan numerasi sejak pendidikan dasar. Gagasan tersebut disampaikan melalui artikel opini terbarunya yang dimuat di The Jakarta Post pada 23 September 2026.
Dalam artikelnya, Irsyad membahas pelajaran yang dapat diambil Indonesia dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Menurutnya, meskipun capaian Indonesia menunjukkan perkembangan pada sejumlah indikator, hasil tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun kemampuan dasar sejak kelas awal.
Akses Pendidikan Meluas
Perluasan akses pendidikan menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Namun, meningkatnya jumlah anak yang mendapatkan akses pendidikan perlu diikuti dengan memastikan mereka benar-benar memperoleh kemampuan dasar yang diperlukan untuk belajar.
Hasil PISA 2025 menunjukkan skor Indonesia berada pada 365 untuk membaca, 364 untuk matematika, dan 389 untuk sains. Dibandingkan PISA 2022, kemampuan membaca dan sains meningkat, sementara matematika mengalami penurunan.
Irsyad menekankan bahwa perhatian terhadap hasil asesmen tidak cukup hanya berhenti pada angka. Data tersebut perlu digunakan untuk memahami kemampuan dasar peserta didik dan menentukan intervensi pembelajaran yang sesuai.
Pentingnya Deteksi Kemampuan Sejak Kelas Awal
Salah satu gagasan yang dibahas Irsyad adalah pentingnya asesmen diagnostik pada jenjang pendidikan awal. Ia mencontohkan praktik di Australia yang menggunakan pemeriksaan kemampuan fonemik, membaca dasar, serta number sense pada siswa kelas awal.
Asesmen semacam itu dilakukan dalam waktu relatif singkat dan memberikan informasi kepada guru mengenai kemampuan masing-masing siswa. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memberikan pendampingan atau intervensi sebelum kesenjangan kemampuan semakin melebar.
Pendekatan tersebut menempatkan literasi dan numerasi dasar sebagai fondasi yang perlu dibangun sejak awal, bukan baru diperbaiki ketika siswa telah memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Literasi dan Numerasi sebagai Fondasi Belajar
Penguatan kemampuan dasar juga menjadi perhatian dalam berbagai kajian pendidikan di Indonesia. PSKP Kemendikdasmen sebelumnya mencatat bahwa kemampuan literasi dan numerasi masih menghadapi tantangan, termasuk kesenjangan berdasarkan wilayah dan kondisi sosial ekonomi.
Dalam kajian PSKP pada 2026, capaian kompetensi minimum literasi siswa SD/MI tercatat turun dari 59,04 persen pada 2024 menjadi 55,7 persen pada 2025. Pada numerasi, capaian turun dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen. Data tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap kemampuan dasar sejak jenjang sekolah dasar.
Belajar dari Pengalaman Negara Lain
Dalam artikelnya, Irsyad juga menyinggung pengalaman Inggris yang menerapkan kebijakan pengajaran synthetic phonics secara sistematis di sekolah dasar. Kebijakan tersebut kemudian diperkuat dengan pemeriksaan kemampuan fonik pada siswa kelas awal.
Ia juga mencatat sejumlah negara bagian di Australia yang mengembangkan pemeriksaan kemampuan literasi dan numerasi pada jenjang awal. Menurut artikel tersebut, pendekatan berbasis data memungkinkan guru memperoleh gambaran lebih terperinci mengenai kebutuhan belajar siswa.
Memperkuat Fondasi Pendidikan Indonesia
Penguatan literasi dan numerasi pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjawab soal dalam asesmen internasional. Kemampuan memahami bacaan, menggunakan informasi, bernalar dengan angka, dan memecahkan masalah menjadi bagian dari fondasi pembelajaran sepanjang hayat.
Karena itu, perluasan akses pendidikan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Penguatan kemampuan dasar sejak pendidikan awal menjadi salah satu bagian penting agar siswa tidak hanya hadir di sekolah, tetapi juga memperoleh fondasi pengetahuan dan keterampilan yang kuat.



