JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak awal September 2026 tidak hanya menimbulkan hujan abu di sejumlah wilayah. Material vulkanik yang terbawa angin juga dapat berinteraksi dengan tanah dan air sehingga masyarakat perlu memperhatikan kondisi sumber air di sekitar wilayah yang terdampak.
Abu vulkanik berukuran sangat halus dapat terbawa angin hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi. Ketika material tersebut jatuh dan menumpuk di permukaan tanah, kemudian terkena hujan, dampaknya dapat merembet pada sistem aliran air, kualitas sumber air, hingga potensi banjir lahar atau aliran debris.
Dosen Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB), Ir. Joko Nugroho, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa dampak abu vulkanik terhadap lingkungan sangat dipengaruhi ukuran dan sebaran material tersebut.
Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Resapan Air
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah perubahan kemampuan tanah dalam menyerap air.
Abu vulkanik yang sangat halus dapat mengisi atau menyumbat rongga di antara butiran tanah. Rongga tersebut sebenarnya menjadi jalur bagi air hujan untuk masuk ke dalam tanah.
Ketika permukaan tanah tertutup abu dalam jumlah cukup banyak, proses infiltrasi atau peresapan air dapat berkurang.
Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan tanah dibandingkan masuk ke dalam tanah.
Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko apabila hujan turun dengan intensitas tinggi, terutama di wilayah yang memiliki kemiringan lereng tertentu.
“Abu yang menutupi permukaan bisa membuat air lebih sulit masuk ke tanah, sehingga alirannya di permukaan menjadi lebih besar,” jelas Joko.
Apakah Abu Vulkanik Bisa Memengaruhi Air Tanah?
Jawabannya, bisa memengaruhi sistem air dan kualitas sumber air, tetapi dampaknya tidak selalu berarti seluruh air tanah langsung menjadi tercemar.
Abu yang masuk ke badan air dapat menyebabkan perubahan secara fisik maupun kimia.
Secara fisik, partikel abu yang masuk ke sumber air dapat meningkatkan kekeruhan. Air yang sebelumnya relatif jernih dapat menjadi lebih keruh karena terdapat material halus yang tersuspensi.
Sementara secara kimia, kandungan material vulkanik yang bercampur dengan air dapat memengaruhi sejumlah parameter kualitas air, termasuk tingkat keasaman atau pH.
Karena itu, air yang terkena material erupsi dan akan digunakan untuk kebutuhan tertentu perlu diperhatikan kualitasnya terlebih dahulu.
Air Permukaan Lebih Perlu Diwaspadai
Masyarakat perlu membedakan antara air permukaan dan air tanah.
Air permukaan seperti sungai, kolam, dan tampungan terbuka lebih mudah terkena abu yang jatuh dari udara. Ketika hujan turun, abu yang berada di permukaan tanah juga dapat terbawa masuk ke saluran air dan sungai.
Karena itu, risiko perubahan kualitas air permukaan dapat lebih cepat terlihat.
Sementara air tanah memiliki proses yang berbeda karena air harus meresap melewati lapisan tanah. Namun, perubahan kondisi permukaan dan masuknya material tertentu ke sistem resapan tetap perlu diperhatikan, terutama di wilayah yang mendapatkan paparan abu cukup berat.
Badan Geologi sendiri memiliki laboratorium yang melakukan analisis sampel air di kawasan gunung api, termasuk pemeriksaan parameter seperti klorida, sulfat, bikarbonat, fluorida, amonia, hidrogen sulfida, dan boron.
Abu Vulkanik Bisa Membuat Air Lebih Keruh
Kekeruhan menjadi salah satu perubahan yang paling mudah diamati ketika abu vulkanik masuk ke sumber air.
Partikel berukuran sangat kecil dapat melayang di dalam air sehingga air tampak keruh.
Jika air tersebut digunakan untuk kebutuhan masyarakat, diperlukan pengolahan agar material tersuspensi dapat dikurangi.
Namun, air yang tampak jernih juga belum tentu otomatis aman untuk diminum apabila sebelumnya terpapar material vulkanik. Parameter kualitas air tidak semuanya dapat diketahui hanya melalui pengamatan dengan mata.
Karena itu, untuk sumber air yang terpapar cukup banyak abu, pemeriksaan atau pengolahan yang sesuai menjadi langkah penting sebelum air digunakan untuk kebutuhan tertentu.
Kandungan Abu Vulkanik Dapat Memengaruhi pH
Selain kekeruhan, perubahan pH menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Material vulkanik memiliki kandungan mineral dan senyawa tertentu. Ketika material tersebut berinteraksi dengan air, karakteristik kimianya dapat memengaruhi kondisi air.
Perubahan pH tidak selalu berarti air langsung berbahaya. Namun, perubahan tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperiksa untuk mengetahui apakah kualitas air masih sesuai dengan peruntukannya.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat apakah air berubah warna atau menjadi keruh, tetapi juga memperhatikan sumber air dan kemungkinan paparan material vulkanik.
Waspadai Tampungan Air yang Terbuka
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah menutup tempat penyimpanan air.
Tandon, toren, bak air, atau wadah penampungan terbuka dapat menjadi tempat jatuhnya abu vulkanik.
Jika abu masuk ke dalam tampungan, material tersebut dapat bercampur dengan air dan meningkatkan kekeruhan.
Karena itu, selama hujan abu terjadi, wadah penampungan air sebaiknya ditutup dengan baik.
Apabila terdapat endapan abu dalam tampungan, masyarakat perlu membersihkannya secara hati-hati dan memastikan kualitas air sebelum digunakan kembali.
Pakar ITB juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memanfaatkan air permukaan yang berpotensi terkena paparan abu vulkanik.
Abu dan Hujan Bisa Memicu Aliran Lahar
Persoalan air akibat abu vulkanik tidak berhenti pada kualitas air.
Ketika material vulkanik dalam jumlah besar berada di permukaan tanah, kemudian turun hujan deras, air dapat membawa material tersebut menuju sungai atau daerah yang lebih rendah.
Campuran air dan material vulkanik tersebut dapat menghasilkan aliran debris atau lahar hujan dalam kondisi tertentu.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar alur sungai atau kawasan yang berpotensi dilalui aliran material perlu memperhatikan informasi curah hujan dan peringatan dari pihak berwenang.
Risiko tersebut dapat meningkat ketika material vulkanik yang tersedia cukup banyak dan hujan turun dengan intensitas tinggi.
Mengapa Abu Bisa Menyebabkan Banjir?
Penumpukan abu juga dapat memengaruhi pola aliran air.
Dalam kondisi normal, sebagian air hujan meresap ke tanah. Namun ketika permukaan tertutup material halus, kemampuan infiltrasi dapat menurun.
Air kemudian lebih banyak bergerak di permukaan.
Jika volume air besar, aliran permukaan dapat membawa material abu dan endapan vulkanik menuju saluran air, sungai, maupun wilayah yang lebih rendah.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan sedimentasi dan mengubah karakteristik aliran sungai.
Dengan demikian, dampak abu vulkanik terhadap air bukan hanya persoalan “air menjadi keruh”, tetapi juga berkaitan dengan perubahan hidrologi di permukaan tanah.
Tidak Semua Air Langsung Berbahaya
Munculnya abu vulkanik tidak berarti masyarakat di semua wilayah harus menganggap seluruh sumber air langsung tidak dapat digunakan.
Dampaknya sangat bergantung pada jumlah abu, ukuran partikel, lokasi sumber air, intensitas hujan, kondisi tanah, dan karakteristik sumber air.
Wilayah yang mengalami paparan abu tipis tentu menghadapi kondisi berbeda dengan wilayah yang tertutup abu dalam jumlah besar.
Karena itu, langkah yang paling tepat adalah menilai kondisi sumber air masing-masing dan mengikuti rekomendasi pemerintah daerah maupun instansi teknis.
Bagaimana Cara Menjaga Air Tetap Aman?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat selama terjadi hujan abu vulkanik.
Pertama, tutup tempat penyimpanan air. Pastikan toren, bak, ember, dan wadah air tidak terbuka ketika abu masih bertebaran.
Kedua, jangan langsung menggunakan air yang berubah keruh. Air yang tampak berbeda setelah terkena abu sebaiknya tidak langsung digunakan untuk minum.
Ketiga, bersihkan wadah penampungan. Jika terdapat endapan abu, bersihkan bagian dalam wadah sebelum kembali digunakan.
Keempat, perhatikan sumber air. Air sungai, kolam, atau tampungan terbuka lebih mudah terpapar abu dibandingkan sistem air yang terlindungi.
Kelima, gunakan sumber informasi resmi. Jika terdapat perubahan kualitas air yang signifikan, masyarakat dapat berkonsultasi dengan pemerintah daerah, dinas terkait, atau fasilitas kesehatan.
PAM JAYA Pastikan Air Perpipaan Tetap Terjaga
Di Jakarta, masyarakat yang menggunakan layanan air perpipaan tidak perlu langsung khawatir akibat sebaran abu vulkanik.
PAM JAYA menyatakan kualitas air yang disalurkan kepada pelanggan tetap dijaga dan dipantau secara berkala. Proses pengawasan dilakukan mulai dari sumber air baku, pengolahan, hingga air siap didistribusikan melalui jaringan perpipaan.
PAM JAYA juga mengingatkan pelanggan untuk menjaga kebersihan sarana air di rumah, termasuk memastikan toren dan keran tetap bersih.
Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap kualitas air sangat bergantung pada sistem penyediaan air yang digunakan.
Air perpipaan yang telah melalui proses pengolahan dan pengawasan memiliki mekanisme pengendalian kualitas yang berbeda dengan air tampungan terbuka.
Anak Krakatau Masih Menjadi Perhatian
Gunung Anak Krakatau diketahui berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Badan Geologi mencatat rangkaian erupsi masih berlangsung pada awal September dan menghasilkan lontaran material serta abu vulkanik.
Sebaran abu sangat dipengaruhi kondisi angin dan cuaca. Karena itu, wilayah yang jauh dari pusat erupsi juga dapat mengalami hujan abu.
Masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya terus mengikuti perkembangan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, dan BPBD.
Informasi tersebut penting bukan hanya untuk mengetahui kualitas udara, tetapi juga untuk mengantisipasi dampak lanjutan terhadap air, tanah, dan potensi aliran material vulkanik.
Abu Vulkanik Tidak Selalu Berdampak Negatif pada Tanah
Menariknya, material vulkanik juga memiliki sisi lain.
Joko menjelaskan bahwa material vulkanik relatif kaya material anorganik atau mineral yang dapat bermanfaat bagi tanaman dalam kondisi tertentu.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan dampak langsung erupsi.
Dalam jangka pendek, penumpukan abu dapat mengganggu aktivitas masyarakat, mengubah kualitas air, menghambat infiltrasi, dan meningkatkan risiko aliran material saat hujan deras.
Dengan demikian, manfaat material vulkanik terhadap tanah perlu dipahami dalam konteks jangka panjang, sementara risiko pascaerupsi harus tetap ditangani terlebih dahulu.
Kesimpulan
Abu vulkanik akibat erupsi gunung dapat memengaruhi kualitas sumber air, termasuk meningkatkan kekeruhan dan mengubah tingkat keasaman atau pH air. Abu yang menumpuk di permukaan tanah juga dapat menyumbat sebagian rongga tanah sehingga air hujan lebih sulit meresap dan aliran permukaan meningkat.
Namun, bukan berarti seluruh air tanah otomatis tercemar atau tidak aman digunakan. Dampaknya sangat bergantung pada sebaran abu, kondisi tanah, sumber air, curah hujan, dan karakteristik wilayah.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya menutup tempat penampungan air, berhati-hati menggunakan air permukaan, membersihkan wadah yang terkena abu, serta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas air.
Selain kualitas air, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi aliran debris atau lahar hujan ketika abu dan material vulkanik bercampur dengan hujan deras.
Pada akhirnya, kewaspadaan tidak berarti panik. Dengan menjaga sumber air dan mengikuti informasi resmi, masyarakat dapat mengurangi risiko akibat dampak lanjutan erupsi Gunung Anak Krakatau.




