JAKARTA – Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, orang tua diminta tidak terburu-buru memasukkan anak ke bimbingan belajar atau bimbel tambahan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa siswa tidak perlu dipaksa mengikuti bimbel khusus hanya demi menghadapi TKA. Paksaan mengikuti pelajaran tambahan justru dikhawatirkan menambah beban pikiran anak.
Pesan serupa disampaikan Ketua Dewan Pendidikan Nasional Suyanto. Menurutnya, mengikuti bimbel merupakan pilihan keluarga. Namun, sekolah tidak boleh mewajibkan siswa mengikuti bimbel berbayar yang diselenggarakan di sekolah.
Pemerintah menegaskan bahwa TKA sendiri bersifat tidak wajib, tidak dipungut biaya, dan bukan penentu kelulusan siswa.
Orang Tua Diminta Tak Membebani Anak
Abdul Mu’ti menilai dukungan orang tua menjelang TKA sebaiknya tidak diwujudkan dengan memberikan tekanan akademik tambahan.
Daripada memaksa anak mengikuti bimbel, orang tua dinilai lebih perlu memberikan motivasi dan semangat belajar.
Menurut Mu’ti, masyarakat juga tidak perlu terlalu khawatir anak akan tertinggal secara akademik apabila tidak mengikuti bimbingan belajar tambahan. Materi pembelajaran yang diberikan sekolah pada dasarnya diharapkan sudah menjadi bekal bagi siswa.
Pada saat yang sama, sekolah diminta terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan agar murid mendapatkan pembelajaran yang memadai untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Dengan demikian, persiapan menghadapi TKA seharusnya tidak berubah menjadi perlombaan mengikuti berbagai program tambahan.
Dewan Pendidikan: Bimbel Boleh, tetapi Jangan Dipaksa
Ketua Dewan Pendidikan Nasional Suyanto memberikan pandangan serupa.
Ia tidak mempermasalahkan keberadaan lembaga bimbingan belajar profesional yang menawarkan jasa pendidikan kepada masyarakat.
Persoalan muncul apabila sekolah mewajibkan siswa mengikuti bimbel tertentu, menyelenggarakannya di sekolah, kemudian menarik biaya.
Suyanto menilai praktik semacam itu tidak dibenarkan.
Sebaliknya, apabila orang tua dan siswa secara sukarela memilih mengikuti bimbingan belajar dari lembaga profesional, keputusan tersebut merupakan pilihan masing-masing keluarga.
Artinya, yang menjadi perhatian bukan keberadaan bimbel itu sendiri, melainkan unsur pemaksaan dan pungutan.
TKA 2026 Tidak Wajib
Salah satu hal yang perlu dipahami orang tua adalah status TKA.
Kemendikdasmen secara resmi menjelaskan bahwa TKA tidak wajib diikuti oleh semua siswa.
TKA merupakan asesmen terstandar yang dirancang untuk mengukur capaian akademik individu murid pada mata pelajaran tertentu.
Pemerintah menjelaskan bahwa sifat tidak wajib tersebut memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti TKA tanpa paksaan. TKA juga diselenggarakan tanpa pungutan biaya.
Karena itu, TKA berbeda dengan ujian nasional yang pada masa lalu menjadi bagian penting dari sistem evaluasi pendidikan.
TKA Juga Bukan Penentu Kelulusan
Hal penting berikutnya adalah hasil TKA tidak menentukan apakah siswa lulus atau tidak dari sekolah.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa kelulusan siswa tetap ditetapkan oleh satuan pendidikan.
TKA hadir untuk memberikan informasi mengenai capaian akademik individu yang lebih objektif dan dapat dibandingkan.
Dengan demikian, siswa tidak perlu menghadapi TKA dengan ketakutan bahwa nilai rendah otomatis membuat mereka tidak lulus sekolah.
Meski demikian, bukan berarti TKA tidak memiliki fungsi penting.
Hasil TKA Bisa Digunakan untuk SNBP
Bagi siswa SMA/MA/SMK sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hasil TKA memiliki kegunaan tertentu.
Kemendikdasmen menyebut hasil TKA dapat digunakan sebagai validator nilai rapor dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) serta dapat menjadi bahan pertimbangan pada seleksi mandiri perguruan tinggi.
Hal inilah yang membuat siswa kelas akhir perlu mempertimbangkan secara matang apakah mereka membutuhkan hasil TKA untuk rencana pendidikan selanjutnya.
Jadi, meskipun TKA secara umum tidak wajib, siswa yang berencana menggunakan jalur seleksi tertentu perlu memperhatikan persyaratan yang berlaku.
Apa Sebenarnya Tujuan TKA?
TKA dikembangkan karena pemerintah membutuhkan laporan capaian akademik individu yang berasal dari penilaian terstandar.
Salah satu persoalan yang muncul ketika proses seleksi hanya menggunakan nilai dari masing-masing sekolah adalah perbedaan standar penilaian.
Nilai rapor dari satu sekolah tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung dengan nilai dari sekolah lainnya.
Karena itu, TKA diharapkan memberikan informasi capaian akademik yang lebih terstandar, objektif, dan adil untuk berbagai keperluan seleksi.
TKA tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh proses pembelajaran di sekolah.
Tes ini juga tidak seharusnya membuat proses pendidikan hanya berorientasi pada latihan soal.
Sekolah Diminta Fokus pada Mutu Pembelajaran
Pernyataan Kemendikdasmen mengenai bimbel juga membawa pesan penting bagi sekolah.
Jika siswa merasa harus mencari banyak pembelajaran tambahan di luar sekolah untuk memahami materi dasar, sekolah perlu mengevaluasi kualitas pembelajarannya.
Sekolah diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan yang membuat siswa memiliki bekal akademik yang cukup.
Karena itu, peningkatan kualitas guru, strategi pembelajaran, latihan yang relevan, dan pendampingan siswa menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong siswa mengikuti bimbel.
Kemendikdasmen sebelumnya juga pernah mengingatkan sekolah agar tidak membebani murid dengan bimbingan belajar eksternal atau latihan berlebihan untuk menghadapi TKA. Pemerintah menyediakan sarana simulasi dan latihan melalui portal resmi.
Persiapan TKA Bisa Dilakukan Tanpa Bimbel
Siswa tetap dapat mempersiapkan TKA secara mandiri.
Langkah pertama adalah memahami materi yang akan diujikan dan memperkuat konsep yang telah dipelajari di sekolah.
Kemudian, siswa dapat mencoba contoh soal dan simulasi untuk mengenali karakteristik soal.
Portal resmi TKA Kemendikdasmen menyediakan informasi mengenai pelaksanaan TKA serta materi pendukung yang dapat digunakan siswa.
Dengan demikian, siswa tidak harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk memperoleh gambaran mengenai TKA.
Yang lebih penting adalah belajar secara teratur dan memahami konsep, bukan sekadar menghafalkan pola jawaban.
Jangan Sampai Persiapan TKA Membuat Anak Stres
Menjelang ujian atau asesmen, sebagian orang tua mungkin khawatir anaknya kalah bersaing.
Kekhawatiran tersebut dapat mendorong orang tua menambah jadwal belajar anak dengan berbagai les.
Namun, jadwal belajar yang terlalu padat berpotensi membuat anak kelelahan.
Karena itu, pesan Kemendikdasmen adalah agar orang tua lebih mengutamakan dukungan dan motivasi daripada tekanan.
Siswa tetap perlu belajar dengan serius, tetapi persiapan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.
Jadwal TKA SMA/SMK 2026
Untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK, pendaftaran TKA 2026 berlangsung pada 27 Juli hingga 27 September 2026.
Tahapan selanjutnya adalah:
- Simulasi: 21–27 September 2026
- Gladi bersih: 5–18 Oktober 2026
- Pelaksanaan utama: 26 Oktober–8 November 2026
- Pelaksanaan susulan: 16–29 November 2026
Kemendikdasmen mencatat hingga 28 Agustus 2026 sudah ada 3.559.610 siswa yang mendaftar TKA.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya partisipasi siswa meskipun TKA tidak bersifat wajib.
TKA Gratis, Waspadai Pungutan
Orang tua juga perlu memahami bahwa pelaksanaan TKA tidak dipungut biaya.
Pemerintah menyatakan seluruh proses TKA dibiayai oleh negara atau pemerintah daerah agar siswa mendapatkan akses yang setara tanpa hambatan ekonomi.
Karena itu, biaya bimbingan belajar tidak boleh dianggap sebagai biaya resmi untuk mengikuti TKA.
Bimbel merupakan layanan pendidikan tambahan yang sifatnya terpisah dari penyelenggaraan TKA pemerintah.
Orang Tua Tetap Punya Peran Penting
Tidak memaksa anak ikut bimbel bukan berarti orang tua tidak perlu terlibat dalam persiapan TKA.
Sebaliknya, orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Orang tua dapat membantu anak mengatur waktu belajar, memastikan waktu istirahat cukup, berdiskusi mengenai kesulitan belajar, dan memberikan dukungan ketika anak merasa khawatir menghadapi tes.
Apabila anak memang membutuhkan bantuan tambahan pada mata pelajaran tertentu, orang tua dapat mendiskusikan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan anak.
Kuncinya adalah kebutuhan siswa, bukan sekadar mengikuti tren karena teman-temannya mengambil bimbel.
Kesimpulan
Kemendikdasmen dan Dewan Pendidikan Nasional mengingatkan bahwa siswa tidak perlu dipaksa mengikuti bimbingan belajar tambahan untuk menghadapi TKA 2026.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti meminta orang tua lebih mengutamakan motivasi dan dukungan kepada anak. Sementara Ketua Dewan Pendidikan Nasional Suyanto menegaskan bimbel profesional boleh menjadi pilihan, tetapi sekolah tidak boleh mewajibkan siswa mengikuti bimbel berbayar tertentu.
Hal yang perlu diingat, TKA bersifat tidak wajib, gratis, dan bukan penentu kelulusan. Namun, hasil TKA memiliki fungsi akademik, termasuk sebagai validator nilai rapor untuk SNBP dan dapat menjadi pertimbangan dalam seleksi mandiri perguruan tinggi.
Karena itu, persiapan TKA tetap penting bagi siswa yang membutuhkannya. Hanya saja, persiapan tersebut tidak harus dilakukan dengan tekanan berlebihan atau kewajiban mengikuti bimbel.
Sekolah perlu memastikan kualitas pembelajaran, orang tua memberikan dukungan, dan siswa dapat memanfaatkan materi serta simulasi resmi untuk mempersiapkan diri sesuai kebutuhan.









