Sidoarjo, 4 September 2026 – Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, meluas. Tidak hanya santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, keluhan gangguan kesehatan juga dilaporkan dari sejumlah sekolah yang menerima makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut terdapat 19 lembaga pendidikan yang mengalami keluhan setelah menerima makanan dari SPPG yang sama.
Lembaga yang terdampak berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pondok pesantren, SMA, SMP, SD, hingga TK.
19 Lembaga Pendidikan Mengalami Keluhan
Emil mengatakan kesamaan sumber makanan menjadi salah satu faktor penting yang sedang ditelusuri pemerintah.
Selain Pondok Pesantren Manbaul Hikam, sejumlah sekolah di wilayah Tanggulangin juga melaporkan adanya keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang didistribusikan dari SPPG Kalitengah.
Menurutnya, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
Dengan ditemukannya laporan dari 19 lembaga pendidikan, penelusuran tidak hanya berfokus pada satu lokasi penerima manfaat, tetapi juga pada keseluruhan proses penyediaan dan distribusi makanan dari dapur yang sama.
Korban Mencapai 566 Orang
Perkembangan kasus juga menunjukkan jumlah orang yang mengalami keluhan kesehatan bertambah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat hingga Rabu (2/9/2026), terdapat sekitar 566 orang yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG dari SPPG Kalitengah.
Jumlah tersebut bertambah 35 orang dari data sebelumnya yang mencapai 531 korban.
Keluhan yang paling banyak dilaporkan antara lain mual, muntah, dan pusing.
Dari total korban tersebut, sebanyak 88 orang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan kondisi pasien yang menjalani rawat inap secara umum stabil dan tidak membutuhkan perawatan khusus.
Tidak Ada Korban Meninggal
Di tengah meluasnya laporan dugaan keracunan, sempat muncul informasi mengenai adanya korban yang meninggal dunia.
Namun, kabar tersebut dibantah oleh Emil Dardak.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian dugaan keracunan MBG di Sidoarjo tersebut. Pemerintah masih melakukan penanganan dan pemeriksaan terhadap para penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan.
SPPG Kalitengah Sudah Mengantongi Sertifikat
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah status dapur SPPG Kalitengah yang ternyata telah memiliki sejumlah sertifikasi.
Emil menjelaskan bahwa SPPG tersebut telah memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, sarana dan prasarana dapur berdasarkan catatan asesmen dinilai memadai.
Sejumlah tenaga yang bekerja di dapur juga telah mengikuti sertifikasi sebagai penjamah makanan. SPPG tersebut juga disebut telah memperoleh sertifikasi halal.
Namun, keberadaan sertifikat tersebut tidak serta-merta memastikan seluruh proses produksi dan distribusi makanan bebas dari persoalan.
Menurut Emil, SLHS terutama menilai sistem serta sarana dan prasarana. Karena itu, pemerintah tetap perlu menelusuri tahapan lain yang berkaitan dengan makanan.
Bahan Baku hingga Distribusi Ikut Diperiksa
Pemerintah membuka kemungkinan persoalan muncul pada tahapan yang berbeda.
Pemeriksaan akan melihat kemungkinan masalah pada bahan baku, proses produksi, waktu pelaksanaan, hingga distribusi makanan.
Kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa karena makanan MBG harus dikonsumsi dalam kondisi dan waktu yang sesuai dengan standar keamanan pangan.
Dengan demikian, hasil laboratorium menjadi salah satu informasi penting untuk membantu mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.
Operasional SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara
Sebagai langkah penanganan awal, operasional SPPG Kalitengah dihentikan sementara.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut.
Dapur tersebut biasanya menyiapkan sekitar 2.800 porsi MBG setiap hari untuk sekolah dan pesantren.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 porsi dialokasikan untuk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, sedangkan sisanya didistribusikan ke sekolah-sekolah lain.
Penghentian sementara dilakukan sembari menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.
Sampel Makanan Diperiksa di Laboratorium
Untuk mencari penyebab gangguan kesehatan, sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut telah diamankan.
Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian mengambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Hasil tersebut nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG Kalitengah.
BGN juga telah mengeluarkan surat penghentian sementara operasional dapur tersebut.
Setelah evaluasi dan hasil laboratorium diperoleh, pemerintah pusat akan menentukan apakah penghentian hanya bersifat sementara atau dapat berlanjut menjadi suspensi permanen.
Pemerintah Respons Cepat Tangani Korban
Emil Dardak mengapresiasi respons cepat berbagai pihak dalam menangani penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan.
Rumah sakit, Dinas Kesehatan, BPBD Sidoarjo, serta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terlibat dalam penanganan korban.
Kecepatan penanganan menjadi penting mengingat jumlah penerima makanan dari SPPG tersebut mencapai ribuan orang setiap hari.
Kasus Jadi Bahan Evaluasi Program MBG
Meluasnya laporan gangguan kesehatan di 19 lembaga pendidikan menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan program MBG.
Program tersebut memiliki cakupan penerima manfaat yang besar sehingga standar keamanan pangan harus diterapkan secara konsisten pada setiap tahap.
Kasus Sidoarjo juga menunjukkan bahwa keberadaan sertifikasi dapur belum cukup untuk memastikan tidak terjadi persoalan di lapangan. Proses produksi, waktu distribusi, penyimpanan, hingga konsumsi makanan tetap perlu diawasi.
Hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab kejadian tersebut.
Kesimpulan
Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo meluas ke 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Lembaga yang terdampak mencakup pondok pesantren, SMA, SMP, SD, hingga TK.
Jumlah korban yang mengalami keluhan kesehatan juga dilaporkan mencapai 566 orang, dengan 88 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Keluhan yang banyak muncul berupa mual, muntah, dan pusing.
SPPG Kalitengah untuk sementara dihentikan operasionalnya. Sampel makanan telah diamankan untuk pemeriksaan laboratorium, sementara pemerintah masih menelusuri kemungkinan penyebab yang dapat berasal dari bahan baku, proses produksi, maupun distribusi.
Pemerintah juga memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan memperpanjang penghentian operasional SPPG.


















